Aku, Rasa Malu, dan Trauma

















Bagian dari tulisanku yang ini: Untold Stories of Me, nah penggalan komik tersebut yang terjadi padaku saat 2016 silam. Percaya tak percaya, itu yang terjadi padaku saat itu (yang mungkin hingga sekarang ini). Itulah kenapa aku bilang, aku sering memendam cerita. Walau bukan karena tahun 2016 itu saja, di masa-masa sebelumnya itu pun, banyak hal yang aku sering pendam dari siapapun. Dari keluarga, dari pacar, dari sahabat, dari teman, hingga dari tiap kenalanku. Sebab, aku berpikir, kalau aku cerita, mereka percaya atau tidak; mereka bakal meledekiku atau tidak. Apalagi, aku punya trauma terkait hal tersebut. Saat aku masih murid SD, hanya karena ditertawakan saat kepergok tengah menari di kebaktian harian sekolah oleh kakak kelas, ke depannya aku jadi malu begitu untuk bisa bebas berekspresi dalam raut muka dan gerak badan. Tak heran, tiap senam pagi di hari sabtu, aku hanya diam saja bagaikan patung. Alasannya: rasa malu karena trauma tersebut.

Aneh, tidak, sih, punya kepribadian seperti itu? Kalau aku pribadi sih, aku lumayan terganggu dengan rasa malu yang amat begitu besar. Rasa malu itu seringkali membuatku iri sekali dengan mereka yang memiliki rasa percaya diri yang sekelas dewa. Ambil contoh: Thomas Kurniawan yang memiliki www.tom-kuu.blogspot.com

Well, sejak kecil aku memiliki banyak untold stories yang seringkali kupendam saja. Bahkan kupendam saja, saat aku tengah bergaul dengan teman ini, teman itu. Takut begitu diejek. Malu jika salah atau terlihat berbeda. Kadang aku suka muak sendiri memiliki rasa malu yang sangat besar. 

Makanya, bagiku, be myself itu suatu tantangan tersendiri untuk aku. Mengutarakan yang berada di dalam pikiran seluruhnya, aku juga memiliki banyak rasa trauma. Anyway, kalau dibilang pemalu, tidak juga. Di dalam lingkaran orang-orang terdekatku (apalagi yang benar-benar kenal dekat aku), kadang aku malah bisa bebas berekspresi. Di depan Almarhum Dias, suka tertawa kencang. Di dekat Dion, aku pernah kepergok tengah buang angin. Atau, saat aku kepergok tengah bersendawa di hadapan Erland dan Ermen. Bahkan aku tak jarang mengupil di hadapan Randy atau Bobby. 

Lucunya lagi, aku pernah kepergok tengah menari India oleh Papi saat kecil. Aku langsung menghentikan aksi menariku di depan televisi, yang sambil mesem-mesem tak jelas. Lol

Anyway, terakhir, sekarang ini terserah para pembaca beranggapan aku apa. Inilah aku, dengan segala keapa-adaanku. Maaf, aku baru menceritakannya sekarang dengan beragam pertimbangan. 

Thank, too, for Archangel St. Raphael, who always guides me. Untuk aku pribadi, dia itu seperti sosok alien dalam penggalan komik tersebut. Awal-awal aku malu untuk mengakui langsung. Namun, lambat laun, ya inilah saatnya aku buka pengakuan: St. Raphael is my truly guardian angel.


PS:
Tak ada maksud SARA, tulisanku ini. Jangan diambil hati. Aku tak bermaksud negatif apalagi jahat dengan menuliskannya. 

Karena alasan malu dan rasa trauma itulah, beberapa tulisan sempat kuhapus.

Very well, this is the untold stories of the author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Hate me, fry me, bake Me, try me, and judge me very arbitrarily. 

🎼 .....All The above cuz you can't get in
I don't want no puroburemu(Problem),
Because me purofesshonaru(Professional)..... 🎶






Comments