Mengenang Warnet yang Hampir Punah


















Meme di atas adalah... 

...ah, bisa kubilang, sangat benar. Relate to my experience. Kebetulan aku mengalaminya juga. Kalau disodorkan kata warnet di sehelai kertas, ada beberapa hal yang mencuat di kepala. Itu seperti:

"Bang, ada yang kosong?"

"Main, Bang."

"Password-nya apa, Bang?"

"Nambah satu jam lagi, Bang."

Dan, sebagian kenanganku bersama warnet, ada tertuang di cerpen ini: Online Love. Masih kurang? Ini, nih. 


Sedikit tambahan, hampir sepuluh tahun yang lalu, aku teramat mudah untuk menemukan warnet. Pengandaiannya begini, di setiap pengkolan, pasti menemukan warnet. Lah, sekarang, itu seperti tinggal kenangan. Di sini saja, hanya tersisa dua-tiga warnet saja. Padahal, dulu itu ada sekitar sepuluh warnet. Sungguh warnet sudah kalah dengan fenomena internet murah yang tengah marak akhir-akhir ini (kalah juga dengan wifi).

Oh iya, apakah ada yang memiliki kenangan khusus tentang warnet? 

Nanti kita cerita lagi tentang warnet, yah. Kebetulan banyak yang ingin kuceritakan. Apalagi aku sangat berutang-budi dengan warnet. Setiap novelku itu memiliki peranan warnet di dalamnya. Salah satunya, "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Kuedit di warnet. Kukirim di warnet. Eh, terima surel pemberitahuannya juga melalui warnet. Di luar itu, tahukah kalian bahwa aku sering blogwalking di dalam sebuah warnet? 













Comments

Place Your Ads Here