Warnet & Wartel






Dua gambar ini kudapatkan dari sebuah grup online. Keduanya menginspirasi aku untuk bercerita mengenai dua hal ini dari segi pengalamanku.















Dua hal dalam tulisan kali ini merupakan sekian dari peninggalan masa-masa remajaku. Pertama, warnet (baca: warung internet). Walau tak lama, saat remaja dulu, aku lumayan sering mengakrabi warnet. Kebanyakan anak laki-laki itu masuk warnet untuk main game online (Counter Strike, Point Blank, Warcraft, Dota, Ragnarok Online, Gunbound), aku malah sibuk browsing. Buka Friendster seringnya. Lalu, warnet yang sangat aku ingat: Warnet Nagoya, yang tak jauh dari komplek aku. Tarif murah, tempat nyaman, privasi lumayan terjamin. Warnetnya lesehan begitu juga. Belum lagi, di bawah Warnet Nagoya, ada rental VCD-DVD.  Terus, kapan aku terakhir masuk warnet? Itu terjadi di tahun 2015. Sekarang, sih, warmet masih ada, namun sudah tak semenjamur dulu banyaknya.















Selanjutnya wartel (baca: warung telekomunikasi). Saat aku masih SMP, gampang sekali menemukan wartel, yang semudah menemukan konter pulsa di era sekarang. Di tiap tikungan, pasti ada wartel. Terakhir aku menemukan wartel itu tahun 2007. Wartel terakhir yang kudatangi--yang sekaligus wartel paling favorit--itu merupakan wartel kepunyaan Mami  yang berlokasi di Pinang Griya, Ciledug. Aku suka mengisengi Papi lewat bilik wartel Mami. Haha. Dan, tahu tidak, saat itu, masuk ke bilik wartel itu sama mewahnya dengan saat kita menggunakan telepon genggam. Saat itu, telepon genggam, yang di sekitar tahun 2003-2004, masih merupakan barang mewah.








Comments