Friday, November 11, 2011

Fenomena Warnet


Warnet. Siapa tak kenal tempat penyewaan jasa internet ini. Anak SD, ABG, remaja, dewasa, hingga lansia pun akrab sama jasa internet ini. Apalagi memang keberadaan warnet memang tengah mewabah. Hampir gampang ditemukan warnet. Apalagi di kota-kota besar seperti Tangerang.  Jangankan di kota besar kayak Jakarta, kota kecil seperti Tangerang aja nih, amat mudah menemukan warung internet.

Segara Net, salah satu warnet di daerahku tinggal

Enggak usah jauh-jauh, guys. Di sekitar rumah saya (FYI! Saya tinggal di daerah Kebon Nanas), saya menemukan kurang lebih lima warnet. Karna begitu banyaknya jumlah warnet, mau enggak mau, mereka harus kreatif untuk dapat bersaing. Ada yang selain menyediakan jasa internet, juga menjual aksesoris komputer seperti mouse. Ada pula yang menyediakan jasa-jasa scanning, burning CD, servis komputer, printing, hingga cetak foto.

Bahkan nih, ada juga yang menjual makanan ringan kayak kue kering. Palagi memang warnet di tempatku itu akrab sekali dengan anak-anak. Di hari-hari atau jam-jam tertentu, kalau kita lagi apes, kita bisa dipertemukan sama kondisi warnet yang enggak bisa di-booking. Dikarenakan nih, warnet tersebut sudah di-booking semua sama anak-anak yang kebanyakan main game online . Apalagi kalau enggak maen Point Blank, Counter Strike, War Craft, Cross Fire, hingga Gun Bounds. Yah itulah game-game online yang sering mereka mainkan tiap kali kuintip. Hehehe.

Segerombolan bocah sedang asyik main Point Blank

Walaupun begitu, aku sering kesel kalau bocah-bocah itu menganeksassi warnet. Kenapa? Pertama, mereka kalau main berisik banget. Kedua, sering pula kudengar kata-kata yang enggak layak diucapin sama mereka. Ketiga, sekali mereka main, lama. Mereka mainnya yang sistem paket 2 jam, 3 jam, atau pun 5 jam. Itu pun tarifnya aji gile. 6 ribu dan bahkan ada yang ceban (10.000). Ckckck.

Sekedar sharing nih. Dari info yang kudapat dari adiknya adik kelas di SD dulu, mereka tuh ada yang dikasih uang saku sama orang tuanya 500 ribu. Bahkan adik temanku yang kita sebut saja nih Chiko pernah ditraktir main di warnet sama temannya. Selain main, juga ditraktir makan, minum, sama rokok.

Pernah juga sekali kutanya sama salah satu bocah mengenai uang sakunya. Tau enggak dia jawab apa? Dia jawab dia dikasih uang jajan 15 ribu dan itu sebagian besar untuk main game online di warnet. Bahkan nih, menurut pengakuannya,  kalau dia sudah main paket 3 jam, terus dia balik ke rumah. Di rumahnya, dia dikasih duit lagi buat main ke warnet. Awesome.

Kecintaan mereka terhadap warnet juga luar biasa. Patut diacungi jempol kaki. Bayangin. Pernah kulihat, ada anak yang masih pake seragam sekolah.Atau waktu beberapa hari lalu tuh, ada anak yang langsung ke warnet selesai sholat jumat. You know? Sholat jumat waktu itu Belum selesai. Nah loh, nih anak sholatnya main-main kali yah? Atau waktu lebaran kemarin. Orang mah abis sholat ied kumpul-kumpul dulu gih sama keluarga. Eh ada bocah yang sholat ied kelar belum ada 1 jam, dia sudah duduk tenang di depan komputer warnet. Aya-aya wae. >_<

Tapi sih bukan salah si anak. Salahkan pengelola warnetnya. Karena menurutku, harusnya mereka jangan memikirkan keuntungan semata. Pikirkan juga nasib anak-anak itu. Ajarkan mereka disiplin.. Tapi sih, kenyataannya itu tetap hanya ada di angan-anganku. Sedikit, menurutku, warnet yang idealis itu. Salah satunya, bisa diambil contohnya Galih Net yang sekarang sudah ditutup.

Aku salut sama Galih selaku pengelolanya. Dulu aku pernah mampir ke sana. Aku mampir waktu hari Jumat. Ketika sudah mendekati waktunya sholat, Galih inisiatif menutup warnetnya dengan alasan mau sholat Jumat. Dia lalu meminta ijin kepada para pengunjungnya untuk pulang dulu dan datang lagi seusai sholat jumat. Ckckck. Sayang Galih Net sudah tutup. Karna selain idealismenya itu, tarifnya sih memang murah meriah.Kuingat tarifnya ketika 30 menit pertama itu 2 ribu rupiah. Awal buka billing itu tarifnya 1000. Apalagi 1 jamnya memang 3 ribu meriah. Enggak kayak sekarang yang tarifnya itu kayak argo kuda. ZzzZ.

Selain Galih Net, ada juga De Bagas Net yang bikin aturan berisi, ’Anak berseragam sekolah dilarang masuk’. Dan aturan itu memang ditegakan sih. Atau juga contoh lainnya, pernah juga di salah satu warnet, kulihat ada ibu pemilik warnet yang langsung mengusir anak berseragam sekolah.

Oke kembali ke alasan aku yang benci sama anak-anak itu. Alasan terakhir itu, karna seringkali tiap kali aku masuk warnet yang banyak pengunjung anak-anaknya, aku suka jengah diliatin anak-anak kalau lagi berinternet ria. Kesel aja. Soalnya ganggu privasiku juga. Tambah jengkelnya, kalau mereka nanya, ’Mas, maen berapa jam?’ Pernah sekali kujawab, ’Suka-suka gw maen berapa ini. Tokh gw juga bayar.”

Palagi nih, jarang warnet di Tangerang yang bersekat antara komputer satu dengan yang lain. Bukan buat apa-apa nih. Tapi kadang aku lebih tenang berselancar di dunia maya kalau privasiku terjamin. Enggak enak, cyiin, kalo diliatin pas ngenet. :D

Oh yah, aku ngomong begini juga karna aku sering ke warnet. Bagiku, internet itu sudah seperti kebutuhan primer, selain sandang, pangan, dan papan. Palagi dengan statusku sebagai mahasiswa dan juga di era globalisasi ini. Selama aku jadi mahasiswa, enggak terhitung aku mengakses internet. Entah itu buat nyari bahan buat tugas kuliah, kirim tugas atau materi tugas ke teman sekelompok, maupun hingga kirim tugas ke dosen. Yah ada beberapa dosen yang minta tugasnya dikirim langsung ke emailnya.

Selain untuk kepentingan tugas, internet buatku juga berguna sebagai alat komunikasi di samping handphone-ku.Atau bisa juga, sebagai sarana penyegar pikiran. Atau, juga kugunakan untuk me-sharingkan ide-ide nakal di dalam pikiranku ke dalam bentuk status facebook, tweet, hingga satu postingan di blog. Gila kan addict-nya aku sama internet? Hehehe. Enggak jarang pula, pulsa hapeku cepat habis karna internetan.

Oh yah, selain sama anak-anak, aku juga sering dibikin jengkel sama loadingnya. Walau enggak bisa dibilang sering juga, kadang ada juga warnet yang lola.LOading LAma. Udah lola, tarifnya jalan terus. Andai saja, tarifnya juga ikut-ikutan lola. Hihihi. Nah kalau dapat kasus kayak gini, ketika selesai ngenet, aku sering minta diskon dengan alasan bermasalah di loading, atau komputer yang nge-lag, dan beribu-ribu alasan lainnya. Enggak jarang juga, operatornya benar-benar kasih diskon loh. Walau seringnya sih, kena potongan seribu saja. Tapi lumayanlah, yang tadinya 4 ribu, bayarnya jadi 3 ribu aja. Seribunya kan lumayan bisa beli ... er ... beberapa buah permen. Wakakaka.

Wuaduh, enggak nyangka nih. Curahan hatiku tentang fenomena warnet sudah sepanjang ini. Sudah 3 halaman Word. Hahaha. Semoga enggak bosan yah  bacanya.

Akhir kata, yah gitu deh, fenomena warnet di tempat tinggalku yang jumlahnya bejibun. Bahkan nih, menurutku, bisnis terbagus tuh bisnis warnet. Untungnya bisa berlipat-lipat kali. Mungkin bisa beli 1 blackberry kali yah? :p