Sunday, March 24, 2013

ANOTHER FICTION: Online Love


       

Setelah menguras otaknya saat ujian Fisika tadi, Adrian langsung melengos menuju warnet dekat sekolahnya. Hal tersebut memang sudah jadi kebiasaannya Adrian setelah selesai ujian. Ia tak akan langsung pulang ke rumah, melainkan mampir dulu ke warnet. Biasanya saat tiba di warnet, ia langsung memainkan game favoritnya, Point Blank. 

Kalau sudah bermain game tersebut, matanya langsung fokus ke depan layarnya. Ia tak akan mengacuhkan apapun yang terjadi. Lapar, dahaga, bahkan hingga sariawan pun ia tetap berfokus memainkan game favoritnya tersebut. Tak peduli bisingnya warnet dimana ia biasanya main, konsentrasinya tetap saja di game favoritnya itu. 

“Bang, ada yang kosong nggak?” Begitulah pertanyaannya Adrian kepada operator tiap kali masuk ke warnet tersebut.

Dengan menunjuk ke arah bilik yang belum digunakan, operator bernama Bang Daud itu menjawab, “Tuh, di komputer nomor enam,” 

“Nih Bang, gue main. Biasa, main paket yang tiga jam.” Adrian langsung memberikan uang yang ia keluarkan dari dompetnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Bang Daud langsung memainkan jari-jarinya dengan lincah di atas keyboard. Ia mengesetkan terlebih dahulu, supaya Adrian bisa main game favoritnya. Adrian pun langsung bergerak menuju bilik nomor enam yang berada di pojok ruangan. Sesampainya di sana, ia segera menghidupkan CPU-nya dan menunggu sebentar sampai tampilan Windows keluar. Kalau sudah keluar, tanpa pikir panjang ia mengklik icon Point Blank. 

Lima menit setelahnya, Adrian jadi anti-sosial. Ia sibuk memainkan game tersebut. Dari satu arena, ke arena lain. Dari satu misi,ke misi lainnya. Baginya, permainan perang-perangan tersebut ibarat masalah hidup-matinya. Demi mendapatkan pangkat yang jauh lebih baik, jangankan kehilangan uang sakunya selama dua bulan, ia bahkan pernah mencoba bekerja sebagai operator di warnet dekat saja. Bersyukur ia tak sampai menilap uang sekolahnya hanya untuk game tersebut.

Tak lama kemudian – setelah Adrian bermain selama tiga puluh menit – masuklah seorang perempuan. Perempuan tersebut sepertinya sebaya dengan Adrian. Karena perempuan tersebut masih mengenakan seragam sekolah, namun bukan di sekolah yang sama dengan Adrian. Penampilan perempuan tersebut juga lusuh. Namun tetap saja, kelusuhannya tidak mengurangi kecantikannya yang membuat perhatian para gamer jadi teralih, termasuk juga Adrian.  Jarang-jarang ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya. Untung saja Adrian sempat mem-pause-kan permainannya sebentar.

“Bang, ada yang kosong nggak?” tanya perempuan berambut panjang sebahu tersebut.

“Ada tuh. Di komputer nomor tujuh. Tuh di sana.” jawab Bang Daud sambil menunjuk bilik yang berada di samping Adrian. Adrian jadi nyengir sendiri dan para gamer memasang tampang iri padanya.

“Main tiga jam berapa, Bang?” tanya perempuan itu lagi.

“Tujuh ribu, Neng,” Bang Daud tersenyum nakal pada perempuan tersebut. “BTW mau main fesbukan, neng? Atau twitteran? FB sama twitternya apa?” Bang Daud menaik-turunkan kedua alisnya.

“Iih, sok tahu si abang. Gue mau main game kok. Main PB.” sahut perempuan tersebut.

Kali ini Bang Daud jadi melongo. Karena baru kali ini, ada perempuan yang masuk ke warnetnya, tapi malah main online game-nya. Point Blank pula. 

Sedangkan perempuan tersebut langsung menyerahkan uangnya dan berjalan menuju bilik nomor tujuh. Di sana, ia duduk dan menghidupkan komputernya. Menunggu beberapa saat hingga tampilan Windows dan kotak dialog billing-nya keluar. Barulah setelah itu, sama seperti Adrian, ia mengklik icon Point Blank. 

 “Hey, lu dari sekolah mana?” ucap Adrian sok kenal. “BTW baru pertama kali main PB?”       
        
Gara-gara pertanyaan bernada sindirannya Adrian tersebut, perempuan itu malah menatap tajam ke arahnya. “Maksud lo? Jadi perempuan nggak boleh ni main PB?”

“Eh bukan gitu maksud gue. Kok lu malah sewot?” ralat Adrian sambil terkekeh. “Yah kan siapa tahu aja lu baru pertama kali main.”

“Sembarangan kalau ngomong. Gue udah lama tahu main PB. Perlu bukti kalau cukup jago maininnya?” sembur perempuan tersebut.

Adrian mulai senyum-senyum nakal. “Boleh juga. Berani nggak taruhan?” tantang Adrian.

“Siapa takut. Apa taruhannya?” tantang perempuan tersebut balik.

“Kita war. Arenanya gue yang tentuin. Kalau lu kalah, lu jadi pacar gue. Gimana?” 

“Oke. Tapi kalau lu kalah, lu harus pake rok tiap kali masuk ke warnet ini. Yah minimal selama dua minggu lah.” 

“Oke, nggak apa-apa. Lu pasti kalah kok sama gue.” Adrian terkekeh sendiri. “BTW lu masuk aja ke room 28. Gue main di room itu. Masih bisa dimasukin juga lagian.” 

Lalu setelah perempuan tersebut log in, ia langsung memilih room 28. “Udah tuh. Terus war dimana nih?”

“Bentar, gue keluar dulu dari arena ini,” Segera Adrian keluar dari arena tersebut. “Oh yah, nama lu siapa?” Adrian menyodorkan tangan kanannya. “Gue Adrian.”

“Marina.” 

“Marina, yah? Marina kan artinya pelabuhan khusus untuk kapal pesiar. Dan kapal pesiar yang ada di sana biasanya bagus-bagus. Cocok sama lu. Lu kan cantik.” Adrian mulai mengeluarkan gombalannya.

Walaupun masih dongkol, pipinya Marina memerah. Ia tersipu, sepertinya. “Halah, sepik aja lu. Udah deh buruan. Mau war dimana?”

“Kita main di death match. Lu udah gue invite tuh. Masuk aja.” jawab Adrian. “Siap-siap aja kalah yah. Dan gue udah siap melepaskan masa jomblo gue.” 

Marina langsung menerima invitation tersebut. “Iih amit-amit deh. Lu kali yang siap-siap pake rok.” ujar Marina sambil tersenyum sinis. 

Tiba-tiba pundaknya Adrian dicolek. Adrian menoleh. Rupanya yang mencoleknya adalah seseorang yang cukup akrab dengannya, Dion. Dion membisikan sesuatu padanya. “Bro lu tahu nggak siapa yang lu ajakin taruhan?”

“Emang siapa?” tanya Adrian sambil berbisik juga.

“Gue kenal tuh cewek. Dia tinggal sekomplek sama gue. Di warnet di komplek gue, tuh cewek cukup jago tuh maennya. Anak-anak di komplek gue udah banyak yang kalah maen sama dia.” Nada suaranya Dion terdengar seperti mengejek.
 
“Halah, gue gak takut.” Adrian begitu optimis.

“Woy, cowok! Maenin tuh punya lu.  Sebelum gue bikin kalah sepuluh kali. Tuh barusan lu udah kena head shot-nya gue.” Suaranya Marina naik satu oktaf.

Dion kembali menatap layar komputer dan ia cukup terkejut. Tapi tetap saja ia tak percaya kalau Marina jago mainnya. Ah itu kan karna gue diajakin ngobrol sama si Dion, gumam Adrian.  

Selanjutnya setelah itu, Adrian pun terlibat pertempuran seru dengan Marina. Baik Adrian maupun Marina sama-sama  berkonsentrasi penuh. Head shot, chain killer, hingga double shot berkali-kali keluar di layar komputer masing-masing. Karakternya Adrian berhasil menembak karakternya Marina, begitupun juga sebaliknya. Permainan semakin memanas. Kata-kata makian juga beberapa kali keluar, entah dari mulutnya Adrian maupun dari mulutnya Marina. Hingga akhirnya ronde yang keseratus, pemenangnya pun keluar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, Adrian kalah. 

Yah Adrian kalah. Adrian yang biasanya selalu menang, kini kalah. Kalah di tangan seorang perempuan cantik yang tak ada sama sekalipun menyangkan dia begitu suka main Point Blank. Adrian begitu kecewa, juga malu. Malu karena beberapa pengunjung warnet kompak meng-huu-kannya. Apalagi dia tahu harus mengenakan rok selama kurang lebih dua minggu. 

“Woy banci!” tukas Marina dengan sarkastik.

“Nama gue Adrian, bukan banci,” protes Adrian kesal.

“Iya lah, what ever. Lu kalah inih. Oh yah, gue minta nomor lu dong. Yah buat mastiin aja lu nggak ngelak dari janji lu.” 

Dalam hati, Adrian ingin menolak. Namun tidak dengan otaknya Adrian. Otaknya terus menyuruhnya agar segera memberitahukan nomor handphone-nya kepada gadis yang membuatnya mabuk kepayang itu. Inilah kesempatan Adrian untuk pedekatein Marina dan melepaskan masa jomblonya.

“Iya, iya, gue sportif kok. Catet nih nomornya gue,” Adrian menyebutkan nomor handphone-nya dan Marina pun mencatat nomornya di blackberry-nya. 

“Besok jangan kabur lu yah?!” Marina nyengir.

*****

Keesokan harinya, sekitar jam dua belas, Adrian terpaksa harus kembali ke warnet itu. Apalagi malamnya Marina sudah menghubungi agar tidak kabur, selain kembali menghubunginya paginya. Dengan berat hati, Adrian pun harus mengenakan rok. Tak sekedar rok SMA yang Adrian kira. Karena rok yang dibawa Marina adalah rok mini yang di atas lutut dan itu harus dikenakannya selama main game di warnet. Itu harus dilakukan Adrian, karena Marina terus mengontrolnya, dan Adrian tak bisa menolaknya sama sekali. Sepertinya Adrian telah jatuh cinta, sehingga menjadi setolol itu.

Hingga dua minggu pun berlalu sudah. Adrian tak harus mengenakan rok tiap kali main di warnet. Di saat hari terakhir perjanjiannya, Marina mendekati Adrian yang saat itu sedang main game. Dengan begitu cepatnya, ia berkata bahwa sebetulnya ia sudah lama suka dengan cowok tersebut. 

 Hanya saja ia mendadak ilfeel saat cowok tersebut mengeluarkan kata-kata bernada ejekan. Jadinya ia malah bernafsu untuk menang. Harusnya ia mengalah, sehingga dengan begitu ia resmi berpacaran dengan Adrian.

Adrian pun tertawa mendengarkan pengakuannya Marina  itu. Namun Adrian juga mengakui apabila ia juga suka dengannya. Jantungnya berdebar-debar waktu pertama kali melihatnya. Ia juga mengaku salah, karena tak seharusnya ia meremehkan orang. Apalagi orang itu sukses membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya. 

Selanjutnya bisa dipastikan, pertemuan kali ini, Adrian tak melakukan kebodohan lagi. Kali ini ia tembak Marina dan Marina juga tak melakukan hal tolol juga. Ia terima. Dan akhirnya Adrian dan Marina pun resmi berpacaran di sebuah warnet, yang lalu diikuti sorak sorai dan siulan dari pengunjung warnet. Beberapa dari mereka malah minta ditraktir. Tentu saja karena hari itu merupakan hari istimewa, Adrian menyanggupinya.

Yah begitulah cinta. Kadang datangnya suka tak terduga. Ketika cinta sudah datang ke kehidupan kita, bagaimanakah reaksi kita?



PS: Salah satu cerpen yang ada di e-book Kumpulan Cerita saya yang diterbutkan secara online di Riokta. Tertarik membacanya? Silakan buka pages "MU BOOKS" untuk cara pembeliannya. :D

16 comments:

  1. wew, maen pb, :D kisah yang hampir mirip :D

    ReplyDelete
  2. Muahahahahaha
    Ada kagak ya cerita nyata yang beginian.

    ReplyDelete
  3. Wah happy ending deh ceritanya, sepertinya ini ndak jauh berbeda dengan aslinya ya mas, suka maen PB juga di warnet hehehe

    ReplyDelete
  4. Dulu waktu semester2 awal kuliah, aktif banget di PB. Tapi akhir-akhir ini, udah gak pernah lagi main PB. Hehehe

    ReplyDelete
  5. death match ya, nuel? aku baru tau tentang ini, hehe *ga gaul*

    ReplyDelete
  6. sudah beberapa kali saya berkunjung ke blog ini, tp mengapa anda tidak pernah berkunjung balik ke blog saya ?? saya sangat sedih :( , mudah2 kali ini anda dapat berkunjung melihat blog saya :) , sukses selalu untuk anda dan keluarga :D

    ReplyDelete
  7. haih, unyu-unyu aja cerita lo nuel, hahahah...

    ReplyDelete
  8. Hahaha.... Kayaknya gue beneran punya bbakat melucu yah? Tiap kali nulis, adaa aja yang ketawa versi tulisan.... Hahaha.. :D

    ReplyDelete
  9. lebih seru lagi kalau dilamar marina-nya :p

    ReplyDelete
  10. gw bener2 gak ngerti mainan PB ini, jaman gw muda dulu jamannya RO Ragnarok Online bwahahahaaa... *ketauan jadulnya*

    ReplyDelete
  11. kalo saya ke warnet pertanyaannya biasanya nggak begitu bro, tapi: penuh ya?
    dan biasanya dijawab tidak

    ReplyDelete
  12. Ceritanya seru. Gue suka bang. Sering sering bikin cerpen yak :D

    ReplyDelete
  13. wkwkwkwk si eneng... dia main PB :D

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^