Monday, November 27, 2017

#19 Kiddo Says: "Bagaikan Sebuah Robot!"













"Entah mengapa aku melihat orang-orang ini seperti sebuah robot saja. Bagaikan tidak punya kehendak bebas, mereka-mereka ini. Padahal Allah sudah memberikan kepada tiap umat manusia sesuatu yang bernama kehendak bebas. Secara fisik, mereka tertawa. Namun secara roh, mereka menangis. Itulah yang kuamati selama ini."
- Rafael Kiddo Van Lei. Nama akun ini kuambil dari nama malaikat pelindungku, yang merupakan salah satu dari tujuh malaikat agung Kerajaan Surga. Beliau datang setelah Natal 2013, di kala aku tertidur dan bermimpi. Kehadirannya benar yang dikatakan orang-orang. Itu selalu ditandai dengan aura berwarna hijau. Meskipun tidak selamanya aura hijau itu datang dari St. Rafael. Makin lama aku mengenal pribadinya, makin besar pengaruhnya dalam hidupku. Memang bukan pergumulan yang ringan untuk mengenali sejak awal keberadaan St. Rafael di dalam hidupku. Telah banyak  pula pertolongan dan perlindungannya. Bahkan novel "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Jauh"  ( #misiterakhirrafael ) sesungguhnya terinspirasi dari St. Rafael. Itu kudedikasikan untuk St. Rafael. Terimakasih, ya Allah, telah mengirimkan St. Rafael untuk menjagaiku. 







Tuesday, November 7, 2017

STOP PRESS!!!!! "Lentera Rohani" Sudah Terbit!!!!!




Lentera Rohani: Sapaan Kasih dari Cipinang (Raditeens, 2017, Indie)


Bentuk bukunya tidak seperti itu. Itu gambaran kaver saat masa editing saja. Tapi 99% "Lentera Rohani" itu seperti itu. 

Judul : Lentera Rohani: Sapaan Kasih dari Cipinang
Penulis : Immanuel Lubis & Almaden Lubis
Tebal : 244 halaman
Harga : Rp 50.000
Harga Pre Order : Rp 43.000 (Dis. 10 %)
Penerbit : Raditeens Publisher (www.raditeens.com) | 085230668786
ISBN : 978-602-6476-36-4
Sinopsis:
Asal muasal kenapa saya ingin membukukan tulisan-tulisan Papi adalah sebagai berikut ini. 
Selama Papi masih berada di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang (LP Cipinang), saya tahu beliau sering menulis kegundahan hatinya. Bagaimanapun kita tahu beratnya hidup di balik jeruji besi, yang terisolasi dari masyarakat dan berjumpa dengan orang yang itu-itu saja. Mungkin di pikiran beliau pula, jauh lebih baik kalau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu adalah uang juga. Daripada ikut gontok-gontokan tak jelas di dalamnya, lebih baik terlibat dalam kegiatan positif. Salah satunya dengan menulis. Ada yang bilang pula, menulis adalah terapi yang bagus untuk jiwa kita. 
Jujur saja, membaca ulang tulisan-tulisan Papi selama di LP Cipinang, membuat hati saya berlinang air mata. Tulisan-tulisannya selama terpenjara sangat luar biasa indah dan puitis. Itulah juga yang membuat saya merasa sedikit narsis. Terkadang saya berpikir bahwa hobi dan bakat menulis saya ini menurun dari beliau. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya (walau ada yang bilang, tak selamanya begitu). 
Selembar demi lembar halaman saya bacai. Makin saya tersentuh, makin pula saya berlinang air mata. Tak ketinggalan pula saya juga jadi termenung, tergerak untuk berbuat, terkesima, dan..... ah, kenapa jadi berlebihan seperti ini yah..... yang jelas hingga lembar terakhir dari beberapa buku catatannya selama di LP Cipinang, akhirnya saya tergugah untuk membukukan tulisan-tulisan beliau. Pikir saya: “Yang begini ini harus dibukuin, sayang banget kalo yang baca Cuma Papi ato keluarga doang.” 
Oke, saya mulai meminta ijin. Saya bilang bahwa tulisan-tulisannya bagus, lantas saya ingatkan keinginannya waktu itu. Papi memang sempat berangan-angan ingin membagikan sesuatu ke masyarakat lewat pengalamannya selama di LP. Sempat adik saya yang disuruh. Tapi keinginan dan rencana tersebut menguar begitu saja, lalu tertutupi dengan hal-hal lainnya, yang mungkin jauh lebih penting. Yang pada akhirnya, setelah melewati banyak kejadian penting di dalam keluarga selama sekian tahun, salah satunya meninggalnya Mami, keinginan Papi untuk membukukan tulisan-tulisannya tersebut, saya bangkitkan kembali. Saya bilang bahwa saya bersedia menuliskannya. Lagipula kesempatan ini bisa menjadi kesempatan berharga dalam hidup saya—menjadi semacam perantara seseorang dalam membikin buku. Omong-omong, yang seperti saya lakukan ini, samakah dengan menulis biografi? Jujur, saya hanya mengetik ulang, lalu menambah-nambahkan sedikit buah pemikiran agar terlihat lebih bagus dan terlihat jelas maksud buku ini bisa muncul ke hadapan kalian secara nyata (tidak lagi dalam bentuk buku-buku catatan yang hanya dibaca oleh kalangan keluarga inti saya saja).

Intinya, keinginan saya membukukan tulisan-tulisan Papi saya ini murni ikhlas dan tulus. Murni ingin meneruskan keinginan beliau untuk membagikan berbagai pengalaman berharganya dan hasil perenungannya selama di LP ke masyarakat luas.







Friday, October 20, 2017

#24 Nuel Says: "Silent Shout!"
















"Aku tidak sekotor sebagaimana yang orang banyak pikirkan, sehingga aku mungkin tersakiti. Karena, setelah sekian lama, suara/opiniku disunyikan oleh sesuatu hal. (Itu) Sebuah bayangan besar yang tengah menjulang lebih dekat. Itu bisa dilihat dengan mata kebenaran. Namun itu cukup efektif untuk mensunyikan beberapa suara dan pekikan. Alhasil, aku menunggu waktu damai, di mana ada sebuah kastil suci yang tengah terbang (di angkasa) yang bisa melawan bayangan mengerikan yang sangat besar tersebut." - Nuel Lubis, yang terinspirasi dari judul lagu "Silent Shout" yang dipopulerkan oleh Tetra Fang.