Wednesday, March 9, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Tunai Sudah...




Untuk dapat membaca cerpen omnibus ini, silahkan baca dulu kisah-kisah sebelumnya:
Sebuah Negeri dan Penggunaan Mantra Aneh
Pasangan Kodok dan Tukang Jagal




Genre: Romance, Misteri








Dokumentasi pribadi.




Manuel-Serena
Situasinya, sepertinya, sudah sungguh aman. Kini tiap orang bebas mau terbuka dan membuka jati diri tanpa malu-malu. Tak ada lagi kekuatan-kekuatan yang nonstop memberikan intimidasi, menekan, hingga meneror.

Kusaksikan berita di televisi. Salah satu pemimpin daerah akhirnya tertangkap. Ia terbukti melakukan korupsi. Pencalonannya juga bersifat ilegal. Para pemilihnya ternyata dicuci-otaknya. Tak hanya orang itu saja. Sepuluh pemimpin berhasil dijebloskan ke sel. Yang kudengar, salah seorangnya tersiksa. Baru tiga hari ditahan, orang itu harus dilarikan ke rumah sakit. Bokongnya infeksi parah, yang hampir menyebabkan asmanya kambuh dan... nyaris tewas. Kasihan aku dengan orang itu. Tapi, yah itulah hukumannya karena kelakuan biadab mereka selama ini.

Selain itu, banyak kudengar kematian sejumlah orang terkenal. Ada tokoh keagamaan, aktris, aktor, pesulap, penulis, penyanyi, presenter, ilmuwan, para profesional, hingga politikus. Mereka tewas secara tak wajar, yang kebanyakan terkena serangan jantung. Sisanya terkena stroke, kanker, epilepsi, dementia, hingga kelumpuhan.Belum lagi banyak terjadinya  peristiwa alam seperi gempa bumi, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, dan banjir badang di mana-mana.

Tapi masa bodohlah. Aku memilih untuk nyengir lebar. Sebab, berada di restoran sushi paling enak di Roma sekarang aku--yang hendak bersua dengan Serena, gadis yang selama ini kukenal lewat dunia maya. Akhirnya, tak akan ada yang menghalangi cinta aku dan Serena. Setelah menjalin hubungan selama setahun secara sembunyi-sembunyi (dari mereka yang kurang senang, karena takut rahasia kotor mereka terbongkar), aku bisa berjumpa dengan Serena. Aku mulai lelah dengan pacaran secara kucing-kucingan seperti yang baru saja kualami.

Setelah meminta terus menerus, akhirnya Serena mau juga mengabulkan permohonanku. Dia jauh-jauh datang dari Indonesia, hanya untuk menemuiku, bersama mama dan tantenya. Sebetulnya ingin sekali aku yang mengunjunginya ke Indonesia. Tapi apa daya, selalu saja ada halangan. Mulai dari pemerintah Italia memberlakukan travel warning ke Indonesia, cuaca yang tak memungkinkan, kendala finansial, hingga pekerjaanku sebagai seorang jurnalis (pun detektif) yang supersibuk. Serena  pun maklum. Apalagi ia juga terkendala hal yang sama. Bedanya, di soal pekerjaan, ia terkendala dengan jadwal manggungnya, jadwal latihan karatenya, serta studinya.

Akhirnya setelah sekian bulan menunggu, penantian kami berdua terbayar juga. Tak ada penghalang lagi. Serena mau dan secara mental aku juga siap. Dengan kaki bergemetaran, kulirik jam tanganku yang bergambar kincir angin. Sebentar lagi mau jam sembilan, Serena ke mana sih, pikirku gelisah. Jantungku berdebar-debar. Tak sabar rasanya bertemu dengan Serena. Kini aku akan bisa melihat senyuman terindahnya langsungnya. Oh jangan lupa, lesung pipitnya yang menggemaskan.

"Manuel!" Sekonyong-konyong aku mencari arah suara indah yang memanggil. Ternyata dari arah jam sembilan, seorang wanita berwajah Oriental memekik. Ah itu dia, si gadis-bermata-segaris kepunyaanku yang paling menawan. Ia mengenakan kardigan coklat tua yang melapisi tank top warna merah tua. Kepalanya ditutupi oleh syal persis yang seorang noni Belanda lakukan. Belum lagi gaya rambutnya yang sengaja dibikin bergelombang. Sungguh terlihat manis sekali belahan jiwaku ini.

Aku bergerak cepat menghampirinya. Ingin 'ku langsung memeluknya. Sayang ada mama dan tantenya. Aku kikuk jadinya.

Serena terpingkal. "Ternyata benar ya, kamu tuh, selain pemalu, kikuk orangnya. Santai saja lagi. Aku kan pacar kamu, calon istri kamu."

"Sst, ada Mama dan Tante kamu tuh," ujarku memerah kedua pipi. "Enggak enak didengar mereka. Blak-blakan banget."

"Calmo, Signor Manuel," Serena terkekeh. "Aku dan kamu itu bicara dalam bahasa Italia, kan, dari tadi. Mama dan Tante aku nggak akan mengerti."

Aku menjawir pipi Serena yang agak tembam. "Kamu bisa saja,"

Ia agak manyun. "Hei, itu berewoknya, kok nggak ada kamu cukur? Mana janjinya? No piacere!"

"If I shave this, I do really look like a kid. Don't you like a-kid-like guy?"

"But, I hate this kind of guy like you. With a beard, I mean. I think I have a relationship with a Zio."

"HEY!" Bersamaan dengan raunganku, mamanya berucap; yang dalam bahasa Inggris tentu saja. "Ehem, Serena,... when will you greet him to us? Flirting, flirting, flirting. Like this restaurant is owned by both of you."

"Maaf, Ma," Serena tertunduk. "Habis aku senang banget. Akhirnya ketemu dia juga."

"Iya, iya, yang tiap malam selalu pasang lagu-lagu romantis sambil tiada henti muji-muji cowok ini melulu." Aku nyengir, berusaha mengerti apa yang tantenya katakan. 

"Hei, Manuel, How much you love my lovely daughter?" tanya Mama Serena.

"Very bad, Ma'am. I even will propose Serena." Aku gesit mengeluarkan sekotak cincin berwarna merah jambu dari dalam ransel.

"Jesus! Are you really crazy about Serena?" Tampaknya mamanya tak percaya; tantenya pun. "Why so rushy? Lagipula biarkan Serena menyelesaikan studinya, my beloved Manuel. Tak sabarkah kamu?"

Serena memerah wajahnya. Kurasa jantungnya juga sedagdigdug aku.

Aku mengangguk mantap. "I just want make sure she will be around me always, Ma'am. I will never leave Serena again. It's very hard to live without Serena. Then, I will do anything for Serena."

Keduanya mengikik. Tantenya yang menggubris kali ini. "I love your spirit, Manuel."

"What a whole guy!" sindir Mama Serena.

Terdengar sekelompok tifosi Inter Milan tengah merayakan kesuksesan klub kesayangannya yang baru saja scudetto. Baru aku tahu juga, Serena sepertinya sangat mencintaiku. Ia begitu ingin menyukai dan mendalami segala hal yang menjadi kegemaranku. Mungkin ada baiknya aku coba menyukai hal-hal yang disukainya.

Oh yah, aku penasaran dengan kejutan yang hendak diberikan oleh Serena? Kejutan seperti apa itu? 

*****

Oris-Ayu
Selesai juga aku menyelesaikan masa tahanan ini. Sungguh tersiksa hidup terisolasi tersebut. Apalagi terisolasi dari seseorang yang sangat kau cintai. Hidup terpingitkan itu sungguh tak enak sekali.
Ah, Ayu memang perempuan luar biasa. Rasanya itu tak ada apa-apanya untuk perjuanganku mendapatkan utuh cintanya. Aku layak sekali.

Aku baru sadar satu hal. Terkadang demi perempuan yang kau cintai, kita nekat dan bisa melakukan apa pun. Menungguinya selama dua tahun lebih hingga rela menghabisi lelaki yang merebut Ayu dariku dengan cara paling najis. Bayangkan saja, pria bajingan itu mempelet Ayu, sang cinta sejatiku. Aku sudah puas mengakhiri nyawanya. Pria itu pantas mendapatkan tempat di neraka paling panas.

Masih terbayang peristiwa itu di benak.

Kepala tertunduk. Tangan terikat. Aku bingung mengapa aku bisa jadi seperti ini? Mengapa aku nekat melakukan itu di tempat yang penuh khalayak? Seperti bukan aku saja. Aku seperti menjelma menjadi orang lain. Mungkin cintaku padanya yang begitu besar itulah penyebabnya. 

Aku kembali menatap pemandangan itu. Pemandangan sebuah rumah sakit jiwa. Rumah sakit itu memang tak pernah sepi. Tapi khusus hari ini, rumah sakit itu jadi tiga kali lebih ramai dari biasanya. Bahkan ada pita kuning pula. Polisi sibuk menyisir. Aku yakin, kalau aku ada di sana, bau darah masih menusuk hidung. Yah bau darah dari lelaki yang sudah merampas sisi manusia dari perempuan yang amat sangat kusayangi. 

Rana Ayu Januavarya. Itulah nama lengkap perempuan itu. Nama yang unik, sekaligus juga kebetulan yang sangat lucu. Aku ingat, dulu Ayu pernah cerita bahwa nama pertama dan potongan dari nama terakhir itu berasal dari nama Latin dari kodok. Rana itu nama genus awal dari kodok. Sementara -varya berasal dari fejervarya, nama genus yang baru. Ayu diberikan nama seperti itu karena lahir pada saat bulan Januari, di mana musim itu merupakan favorit dari spesies yang bisa hidup di dua alam tersebut. Ditambah lagi, hari kelahiran Ayu bersamaan dengan saat di mana kodok peliharaan ayahnya itu kabur entah ke mana. 

Lucu. Kadang suka ada banyak cerita lucu saat kita menyelidik arti nama seseorang. Seperti namaku juga, Oris. Oris itu nama panggilanku. Lengkapnya itu, Honoris Dermawan Joyokerto. Honoris itu datang dari kata honoris causa. Saat kelahiranku bertepatan saat paman tertuaku mendapatkan gelar tersebut. Pun bersamaan dengan saat ayahku berhenti main judi. Saat itu, judi yang paling terkenal itu SDSB. Singkatan dari sumbangan dermawan sosial berhadiah. Dari situlah nama Dermawan berasal. Meskipun ayah selalu berkata bahwa ia juga mengharapkanku menjadi orang yang dermawan selalu. 

Amanat itu selalu kujaga. Bahkan karena amanat itu pun, aku jadi seperti ini. Aku tak dibayar, namun mungkin karena pengaruh namaku juga, aku melakukan ini semua. Kuselidiki mengapa Ayu bisa jadi sinting sekarang ini. Ternyata itu semua karena ulah Mbah Karto yang sudah dibayar oleh lelaki yang sudah pergi ke neraka mungkin. 

Aku tergelak tanpa suara. Kedua polisi yang ada di depanku jadi berdecak dan geleng kepala beberapa kali. Iya, aku tahu mengapa mereka seperti itu. Bagaimanapun seorang manusia normal itu tak akan pernah tertawa di atas mayat yang sudah dihabisinya. Tapi sekarang aku malah tertawa puas. Aku merasa puas setelah menusuknya, lalu darah mengalir deras dari lambung dan jantungnya. Lega sekali saat menyaksikan matanya terbelalak lebar dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tak mempermasalahkan tanganku yang berubah warna dan aroma, asalkan perempuanku aman dari si setan tersebut. 

Hahaha... Aku puas, puas, dan puas. Memang benar ternyata. Ayu hanya bisa sembuh dengan cara membunuh si biang keladinya, yaitu lelaki itu. Setelah kukirimkan lelaki itu ke tempat yang pantas, Ayu tidak lagi lompat-lompat bak kodok. Ia kini sudah berdiri tegak dan meraung layaknya manusia normal.

Dan...
 
Kini Ayu berdiri di sampingku dengan gaun pengantin paling indah. Rambutnya digelung. Perempuan paling cantik tengah menggenggam erat tanganku. Masih terngiang betapa manis bibir mungilnya. Dan, di tengah keramaian, aku langsung menggendong dan hampir saja melemparnya. Untung aku ingat Ayu bukanlah seorang boneka. Ayu lebih dari sebuah boneka dan wanita paling cantik di muka bumi. Lagipula gengsi aku melakukan hal seperti itu di gedung mewah seperti ini. Banyak tamu penting pula.

Tapi sepertinya melakukan hal konyol demi perempuan yang menjadi takdirmu itu sepertinya tak buruk juga. Aku mulai mengerling nakal.


Sang Musafir
...Well, that's this really whole world!

Lebih baik kututup kedua kuping dari mantra-mantra tersebut dan berdoa dengan jalan yang benar. Aku berharap aku masih hidup. Kalau tidak, silahkan salahkan pada negeri dan mantra-mantra aneh tersebut. Mendadak juga aku teringat kata-kata temanku sehari sebelum keberangkatanku. Dan ia benar. Seketika itu aku merasa di kantong celana jinsku ada sebuah pedang. Langsung kukeluarkan dan...

...aku siap menghadapi mereka semua!

Satu setan berhasil kutusuk.

Dua setan.

Tiga.

Dan,...

Tepuk tangan bergemuruh dalam pesawat ini. Hingga, tiba di monster terakhir (aku tak menghitung berapa jumlah yang kutumpas), si lelaki tua itu jadi bersimbah darah. Pesawat yang kutumpangi jadi terisi dengan raungan. Cukup lama juga terdengar. Namun dua jam kemudian, mereka berhasil tenang dan berterimakasih padaku. Salah satu berkata padaku, "Untung ada Mas. Soalnya si Aki dan keluarganya itu memang cukup berbahaya. Tak ada satu pun yang bisa dan mau melawannya. Jujur, Mas, kami semua sudah muak sekali pula dengan mantra-mantra tersebut. Tapi kami bisa apa?"

Aku tersenyum kecut, mengangguk, dan duduk ke tempatku kembali. Situasi dalam pesawat sudah tenang. Tak ada goncangan lagi. Tak ada pula mantra-mantra tersebut. Aku serasa menjadi pahlawan dunia. Atau mungkin aku telah menjelma seperti seorang santo.





PS: 
No piacere: Tak ada jenggot (atau berewok).
Calmo: Tenang.
Zio: Paman.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^