Monday, May 11, 2015

ANOTHER FICTION: Pasangan Kodok dan Tukang Jagal


Genre: Thriller




Artwork by: Tomkuu.




[Tio]

Aku tidak gila, walau kini berada di rumah sakit jiwa. Aku hanya berkunjung demi perempuan ini. Perempuan yang sudah membuatku tergila-gila.

Sebetulnya yang gila itu siapa? Aku--yang sudah membuat dia seperti itu? Atau dia--hasil dari obsesi gilaku? Apa dua-duanya sama-sama gila? Yang satu, gila karena perempuan. Satunya lagi, gila akibat permainan seorang dukun.

Perempuan itu memang berubah jadi seaneh itu karena ulah dukun--secara tak langsung. Secara langsungnya, aku pelaku utamanya. Aku seharusnya bisa dipenjarakan. Tapi hal-hal seperti ini saja, sulit dibuktikan oleh akal sehat. Apalagi oleh aparat. Sangat sulit untuk membawa kasus-kasus yang berhubungan dengan klenik ke ranah hukum. Pembuktiannya kurang. Apalagi hukum hanya bisa menindak sesuatu yang jelas wujudnya. Dan apa yang menimpa perempuan itu tak jelas juga wujudnya. Keluarga, sanak, sahabat, hingga ahli jiwa sekalipun mengira perempuan ini sakit jiwa. Padahal perempuan ini masih waras. Ia hanya berpikiran seperti seekor kodok karena jampi-jampi. 

Kadang, tiap melihat dia, aku merasa kasihan. Tak sepantasnya, aku melakukan seluruhnya ini padanya. Bukankah cinta tak harus memiliki? Lagipula perempuan itu juga menyukai lelaki itu. Konon, dia tengah melakukan pendekatan. Hampir gol. Setahuku, si lelaki juga memiliki perasaan yang sama dengan perempuan itu. Itulah yang kubenci setengah mampus.

Aku benci. Entahlah, aku sendiri juga bingung apa yang kubenci sebetulnya. Lelaki itu--yang memiliki perasaan ke perempuan itu? Atau perempuan itu--yang hanya menganggapku sebagai teman curhat belaka? Atau sang cupid yang sudah saling menjodohkan mereka? Atau perasaan cinta itu--yang sudah hampir menyatukan mereka berdua?

Mungkin karena seluruh alasan tersebut. Yang jelas aku tak rela dirinya dimiliki oleh lelaki selain diriku. Ti-dak-re-la. Aku jauh lebih menyukai kondisi ini.

Oh lihat! Ini luar biasa! Tiap aku datang, dia selalu tersenyum manis. Puja-puji ia lantunkan padaku. Aku seperti seorang raja. Raja yang sangat beruntung karena memiliki permaisuri secantik dirinya. Aku mulai menyukai panggilan 'pangeran kodok' yang ia sematkan padaku.

Entah apa yang ada di pikirannya. Namun tampaknya dia mengira dirinya itu seekor kodok betina yang hidup di tengah-tengah kumpulan manusia yang siap menyiksanya. Dan mungkin di matanya, aku ini sebangsanya, seekor kodok juga. Itu juga yang membuat aku bingung. Kalau ia mengira aku dan dirinya ini sepasang kodok, lantas kodok-kodok yang sering kusaksikan bermain di empang itu apa? Tak tahulah aku. Mungkin dia tak mengira mereka itu kodok. Mungkin disangkanya kodok-kodok itu spesies lain. Dulu pernah ia begitu histeris saat bersua dengan kodok betulan. Bahkan oleh mainan kodok yang pernah kubawa dulu saja, ia sudah meraung-raung sehingga beberapa perawat harus datang untuk menenangkan. 

Hahaha. Dasar dukun! Mereka selalu saja bekerja dengan cara-cara aneh. Padahal yang kuminta itu sederhana saja. Tapi mengapa dukun itu harus membuat perempuan yang sangat kucintai ini jadi berpikiran seperti kodok--hanya untuk menerimanya dalam hatiku?

*****

[Ayu]

Aku tidak tahu bagaimanakah diriku jadi memiliki kaki seperti ini. Mengapa juga aku harus memiliki keinginan untuk melahap nyamuk sebanyak-banyaknya? Aku jadi punya hobi melompat-lompat. Timbul ketakutan terhadap keluargaku dan lainnya.

Aku merasa mereka seperti tengah berkomplot untuk memasukkanku ke dalam kuali besar berisi minyak goreng terbaik. Lalu, lelaki yang ada di hadapanku ini menolongku dari usaha keji mereka yang tak berperikemanusiaan.

Ya Tuhan, mengapa aku baru sadar bahwa lelaki ini jauh lebih baik daripada dia? Lelaki ini selalu ada saat kubutuhkan. Berbeda dengan dia, yang belum pernah menunjukkan rahang kepalanya yang kokoh padaku. Mana dia? Kukira dia betulan cinta. Apa kata-katanya waktu itu hanya gombalan semata?

Persetan! Aku bersyukur masih ada lelaki ini; lelaki yang dulu selalu kusia-siakan. Aku heran, mengapa dulu aku mengabaikan keberadaan lelaki ini? Padahal...

Aku meringkuk di dadanya walau tak sebidang dia. Sungguh terasa hangat. Dan, sorot mata itu,... sepertinya sudah lama sekali lelaki ini mengejar-ejarku. Aku bagaikan seperti seorang putri. Belaian itu... yang membuatku merasa seperti itu.

Aku mungkin bukan seorang manusia saat ini. Entah siapa yang melakukannya, aku sudah menjadi seekor makhluk amfibi. Panggil saja aku putri kodok. Yah, aku seekor putri kodok yang berharap ada seekor pangeran kodok yang datang padaku.

Sayang, lelaki ini bukan kodok. Ia masih tetap manusia di antara insan-insan bedebah. Namun tak apa. Sekiranya, aku masih punya harapan lain. Aku berharap dia mau menciumku. Bukankah seperti itu dongeng tersebut? Kutukan dari seorang penyihir jahat yang tak jelas wujud dan asalnya itu bisa hilang hanya dengan sebuah ciuman seorang pria yang mencintai kita dengan tulus. Aku yakin lelaki ini tulus. Kalau tidak, buat apa ia terus menjengukku di tempat neraka ini? Buat apa pula belaian, kata-kata manis, dan sorot mata yang membuatku istimewa tersebut?

Mungkin si pangeran ini juga tengah memata-matai tempat ini. Mungkin penyihir keparat itu memang berada di tempat ini. Penyihir itu sedang bersembunyi di suatu pojok terpencil di tempat ini. Lalu, lelaki ini pura-pura ingin merawatku seraya mencari jalan untuk mengalahkan si penyihir.

Aku menoleh. Kutatap kepala kotaknya. Kuberikan senyuman paling indahku. Kulirihkan sesuatu, "Pangeran Kodok-ku, tolong bebaskan aku. Cari dan kalahkan penyihir itu,"

Mungkin bahasa kami berbeda. Tak heran, ia sedikit lama termangu seraya menjaga senyumannya padaku.

"Pasti, Tuan Putri-ku yang jelita nan memesona! Buat kamu, aku rela melakukan apa saja."

Apa? Demi seekor kodok buruk rupa sepertiku, ia rela membuang kehidupan berharganya?

Aku semakin meringkuk, meringkuk, dan tersenyum. Kuberingsut dengan satu loncatan menuju parasnya yang ketampanannya dulu tak bisa kulihat (Mungkin sisi manusiaku yang cukup egois itulah penyebabnya). Yang kutuju, bibirnya. Dan...

...apa yang kulakukan, sudah cukup membuatnya terpana. Ia pun balas mengecup. Kami lalu saling mengecup bibir masing-masing. Ciuman ini rasanya luar biasa. Sungguh memabukkan diriku. Sampai-sampai aku berharap bahwa ciuman inilah yang sanggup mematahkan kutukan sialan itu. 

Tapi ternyata aku salah. Bukan karena ciuman pertama yang baru saja aku alami. Bukan bibir lelaki bernama Tio inilah yang mematahkannya. Namun karena lelaki lain, lelaki yang dulu berusaha memisahkan salah satu kaki dari tubuhku. Lelaki itu datang dengan tatapan sangar. Belum apa-apa, tanpa sambutan yang hangat, lelaki itu menjotos wajah pangeran kodokkuu alami. Bukan bibir lelaki bernama Tio inilah yang mematahkannya. Namun karena lelaki lain, lelaki yang dulu berusaha memisahkan salah satu kaki dari tubuhku. Lelaki itu datang dengan tatapan sangar. Belum apa-apa, tanpa sambutan yang hangat, lelaki itu menjotos wajah pangeran kodokku. Keributan kecil kemudian terjadi di kastil mengerikan milik penyihir yang belum kunjung menampakkan diri. Apa mungkin lelaki ini si penyihirnya? Kalau iya juga, mengapa dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah keris dan berusaha membunuh Tio? 

Oh mungkin dia ingin menghalangi Tio yang ingin membebaskanku. Karena itulah aku berhasrat ingin menyelamatkan Tio. Tapi kedua temannya itu malah menahanku. Aku pasrah. Yah aku hanya bisa pasrah. Pasrah melihat bagaimana lelaki itu mencabik-cabik tubuh Tio, pangeran kodok yang sudah membuat diriku serasa istimewa sekali. Tubuh kodokku bergidik sekali saat menyaksikan bagaimana semuanya itu terjadi. Darah berhamburan, raungan keras terdengar, mata terbelalak, kutukan sirna.

Saat kembali ke wujud manusia, aku bingung sekali. Siapa yang harus kucintai? Aku bingung memilih antara si pangeran kodok atau Oris--yang sudah menghapus kutukan tersebut? 

*****

[Oris]

Kepala tertunduk. Tangan terikat. Aku bingung mengapa aku bisa jadi seperti ini? Mengapa aku nekat melakukan itu di tempat yang penuh khalayak? Seperti bukan aku saja. Aku seperti menjelma menjadi orang lain. Mungkin cintaku padanya yang begitu besar itulah penyebabnya. 

Aku kembali menatap pemandangan itu. Pemandangan sebuah rumah sakit jiwa. Rumah sakit itu memang tak pernah sepi. Tapi khusus hari ini, rumah sakit itu jadi tiga kali lebih ramai dari biasanya. Bahkan ada pita kuning pula. Polisi sibuk menyisir. Aku yakin, kalau aku ada di sana, bau darah masih menusuk hidung. Yah bau darah dari lelaki yang sudah merampas sisi manusia dari perempuan yang amat sangat kusayangi. 

Rana Ayu Januavarya. Itulah nama lengkap perempuan itu. Nama yang unik, sekaligus juga kebetulan yang sangat lucu. Aku ingat, dulu Ayu pernah cerita bahwa nama pertama dan potongan dari nama terakhir itu berasal dari nama Latin dari kodok. Rana itu nama genus awal dari kodok. Sementara -varya berasal dari fejervarya, nama genus yang baru. Ayu diberikan nama seperti itu karena lahir pada saat bulan Januari, di mana musim itu merupakan favorit dari spesies yang bisa hidup di dua alam tersebut. Ditambah lagi, hari kelahiran Ayu bersamaan dengan saat di mana kodok peliharaan ayahnya itu kabur entah ke mana. 

Lucu. Kadang suka ada banyak cerita lucu saat kita menyelidik arti nama seseorang. Seperti namaku juga, Oris. Oris itu nama panggilanku. Lengkapnya itu, Honoris Dermawan Joyokerto. Honoris itu datang dari kata honoris causa. Saat kelahiranku bertepatan saat paman tertuaku mendapatkan gelar tersebut. Pun bersamaan dengan saat ayahku berhenti main judi. Saat itu, judi yang paling terkenal itu SDSB. Singkatan dari sumbangan dermawan sosial berhadiah. Dari situlah nama Dermawan berasal. Meskipun ayah selalu berkata bahwa ia juga mengharapkanku menjadi orang yang dermawan selalu. 

Amanat itu selalu kujaga. Bahkan karena amanat itu pun, aku jadi seperti ini. Aku tak dibayar, namun mungkin karena pengaruh namaku juga, aku melakukan ini semua. Kuselidiki mengapa Ayu bisa jadi sinting sekarang ini. Ternyata itu semua karena ulah Mbah Karto yang sudah dibayar oleh lelaki yang sudah pergi ke neraka mungkin. 

Aku tergelak tanpa suara. Kedua polisi yang ada di depanku jadi berdecak dan geleng kepala beberapa kali. Iya, aku tahu mengapa mereka seperti itu. Bagaimanapun seorang manusia normal itu tak akan pernah tertawa di atas mayat yang sudah dihabisinya. Tapi sekarang aku malah tertawa puas. Aku merasa puas setelah menusuknya, lalu darah mengalir deras dari lambung dan jantungnya. Lega sekali saat menyaksikan matanya terbelalak lebar dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tak mempermasalahkan tanganku yang berubah warna dan aroma, asalkan perempuanku aman dari si setan tersebut. 

Hahaha... Aku puas, puas, dan puas. Memang benar ternyata. Ayu hanya bisa sembuh dengan cara membunuh si biang keladinya, yaitu lelaki itu. Setelah kukirimkan lelaki itu ke tempat yang pantas, Ayu tidak lagi lompat-lompat bak kodok. Ia kini sudah berdiri tegak dan meraung layaknya manusia normal. 

4 comments:

  1. Bagus loh ceritanya, apalagi Artworknya juga mendukung sekali. Lalu, bagaimana kisah penyihirnya ? Apa mungkin sudah dibahas tapi belum saya tangkap ya. Entahlah, yang jelas selama si sinting itu sudah pergi, perempuan itu sudah aman. Itu yang saya tahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum kok. Thank yah udah nyimak dari awal sampai akhir. I really appreciate this. ^_^

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^