Kelanjutan Perjalanan Novel #MisiTerakhirRafael

 















Sudah lama aku tidak bercerita mengenai novel major pertama aku di IMMANUEL'S NOTES. Padahal, dulu, empat-lima tahun lalu, apa-apa yang dibahas itu si "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Sepertinya aku juga sudah blak-blakan sekali dalam membahas novel aku tersebut. Ada beberapa tulisan aku tentang #misiterakhirrafael tersebut.























Malas untuk membacanya satu persatu? Oke, aku akan meringkasnya dalam satu paragraf. 
 
Jadi, novel aku yang berjudul "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" itu berjudul asli "Dejá vù". Kali pertama aku menggarap naskah itu di tahun 2009. Aku masih kuliah. Masih semester empat. Selesai kugarap itu di tahun 2013. Naskah awal sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Karena aku seorang bermental pejuang, aku tak menyerah. Aku revisi berkali-kali, dan puji Tuhan, ada penerbit yang mau menerbitkannya secara major di bulan Juni 2013. Diterima, namun aku harus tetap menunggu sekitar tiga tahun agar si #MisiTerakhirRafael bisa betul-betul ada di toko buku nasional. Yup, semenjak April 2016, #MisiTerakhirRafael bisa terpajang di banyak etalase toko buku di seluruh Nusantara. Senangnya hatiku, yang bagaikan si gebetan menerima cinta. Tapi, sayangnya, perjalanan #MisiTerakhirRafael tak mulus. Tertatih-tatih.  Royalti pertama yang aku dapatkan itu hanya cukup untuk mentraktir 5 mangkok bakso (Kenapa harus bakso, sih? 😐). Untuk royalti kedua hingga royalti kelima, memang mengalami kenaikan, namun tidak terlalu signifikan. Yah, cukup-lah untuk membayar uang kos agar tidak diusir oleh Ibu Kos. Makanya, aku bilang tidak mulus. Aku pengin bisa beli Lamborghini dari penjualan #MisiTerakhirRafael macam Jess No Limit yang sukses dengan Mobile Legends (dan tim EVOS yang sudah melejitkan nama Jess No Limit), apa daya royalti hanya cukup untuk membayar uang kos saja. Sudah tertatih-tatih dari segi penjualan, aku menangkap banyak isu tak enak dari #MisiTerakhirRafael yang salah satunya, ada yang bilang novel aku ini bermuatan negatif. Ada banyak kata-kata tidak senonoh (yang kudengar sendiri dari manager sebuah toko buku). Ya ampun, aku tidak pernah berbakat untuk membuat novel stensilan. Kata-kata tidak senonoh yang mana? Belum lagi, #MisiTerakhirRafael tak bermuatan SARA juga. Selain itu, aku mendapati keanehan lainnya. Ternyata #MisiTerakhirRafael sempat bersembunyi di gudang selama penjualannya. Di tahun 2016 yang lalu, aku dan si asisten penulis mendapati fakta menyebalkan tersebut. Di sistem pencarian komputer, novelku itu tersedia dalam jumlah banyak. Aku tidak menemukan di raknya. Saat kutanyakan, si #MisiTerakhirRafael baru dikeluarkan dari gudang. Itu terjadi sampai tiga-lima kali. Waktu pun terus berjalan. Perjalanan #MisiTerakhirRafael makin tertatih-tatih hingga si penulis harus menerima kenyataan pahit.  Sudah empat kali aku tidak menerima kabar tentang penjualan #MisiTerakhirRafael . Bukan mungkin lagi, dan sudah pasti, penjualan #MisiTerakhirRafael jatuh dan tenggelam ke dasar laut yang paling dalam. 

Oke, sekian cerita tentang perjalanan si #MisiTerakhirRafael --dan aku tidak menyesali apapun. Aku tidak mengutuki pihak manapun. Nasi sudah menjadi bubur. Di bilang mengampuni, yah aku sudah mengampuni beberapa pihak yang (mungkin) sudah menyebabkan penjualan #MisiTerakhirRafael sangat tertatih-tatih. Aku ikhlas menerima penjualan #MisiTerakhirRafael yang nol rupiah. Yang kudengar, karir seorang penulis buku memang singkat. Ada rumor yang mengatakan kesuksesan sebuah buku itu hanya berlangsung selama lima tahun. Sementara kemesraan antara aku dan #MisiTerakhirRafael hanya berlangsung sekitar tiga tahun. Mungkin ini sudah saatnya aku memulai petualangan baru. 

Oh, tidak. Aku tak sedang menggarap naskah untuk dikirimkan ke penerbit. Sekarang ini aku sudah sangat puas dengan "Rainy Couple" dan "Boy's Angel" yang tayang di aplikasi NovelToon dan NovelMe. Lebih nyaman menulis melalui aplikasi seperti Storial ternyata. 
 
Untuk #MisiTerakhirRafael , terima kasih sudah menjadi bagian dari beberapa kebanggaan aku. Terima kasih sudah membuat aku merasa norak saat melihat kamu di rak toko buku.  Terima kasih juga untuk setiap penjualan dan royaltinya. 

Kabar terakhir yang kudengar tentang #MisiTerakhirRafael adalah novelku itu makin langka. Dari seorang teman, katanya stoknya kosong di toko buku yang berada di kawasan Ciledug (tahun 2019). At last, thank you, and sayonara. You'll be one of my pride.
















Comments

Place Your Ads Here