Serial BSG: Sabetan Berujung Nyawa














Episode sebelumnya:  

Ray Naksir Rena 


Di rumah Randy,

Entah kenapa Ray sulit untuk memejamkan mata. Serentetan kejadian itu masih terngiang-ngiang di benaknya. Kenapa ia harus mengalami kejadian-kejadian mengerikan tersebut? Salah satu tangannya mengepal lumayan kuat. Ia setengah bangkit berdiri. Diremasnya pelan seprai tempat tidur. Kaum Vudo yang dipimpin oleh Rasputin itu sudah membuatnya sebatang kara. Keluarga yang tersisa itu hanyalah Reza. 

Rena sekonyong-konyong muncul di hadapan Ray. Gadis itu tersenyum manis. Hilang sudah segala kegalauan Ray setiap melihat senyuman Rena. 

"Kak Ray," ujar Rena tersenyum. 

"Iya, Rena, ada apa?" tanya Ray, yang balas tersenyum. 

"Aku boleh masuk, Kak?" 

"Masuk saja, Rena. Oh iya, Paman sudah tidur?"

"Paman sudah tidur, Kak. Yang lain juga sudah. Cuma Kak Ray yang masih melek, Kak. Kak Ray lagi memikirkan apa?"

Ray tak menjawab. Kedua matanya menerawang ke langit-langit kamar. Spontan saja ia menggigit bibir bawahnya. Mendadak Ray kangen dengan kedua orangtuanya yang tewas karena pasukan Vudo. 

"Kak," 

"Iya, Rena,"

"Kakak masih memikirkan kedua orangtua Kakak?"

Spontan saja Ray mengangguk pelan. 

"Pasti sulit untuk Kak Ray lupakan. Walau aku belum pernah kehilangan orang tua, aku tahu itu hal yang sangat menyakitkan. Yang tabah, yah, Kak Ray."

"Terima kasih, Rena,"

"Ya sudah, sekarang Kak Ray tidur. Nanti besok kesiangan berangkat kerjanya." 

Walau tinggal bersama Randy yang mendapatkan warisan cukup banyak, Ray tetap tak bisa bertopang tangan begitu saja. Keikhlasan hati seorang Ray Bramasakti membuat Ray rela bekerja sebagai seorang teknisi di Ray Motor. Adik Randy yang bernama Rena ini turut membantu Ray di Ray Motor tersebut. Randy pun turut membantu di Ray Motor tersebut.

"Kamu juga tidur-lah, Rena. Ngapain kamu ke kamar Kakak?" Ray mengacak-acak rambut Rena.

"Iseng saja, Kak. Eh, Kak, aku bukan anak kecil lagi." protes Rena melotot. Sok marah, namun sebetulnya suka juga diperhatikan seperti itu oleh Ray. 

"Iya, hehe,..."

"Kak," Rena mengepalkan tangannya erat. "Semangat, yah, Kak Ray. Kakak harus kuat. Harus tegar, Kak. Kedua orang tua Kakak pasti maunya Kak Ray itu selalu semangat."

"Iya, Rena. Kak Ray pasti akan selalu semangat demi kamu."

"Kok demi aku, sih, Kak? Demi Kak Ray, dong?!"

Ray tertawa. "Ya sudah, kamu kembali ke kamar kamu, dan pergi tidur. Terima kasih untuk wejangannya, Rena Iskandar."

"Sama-sama, Kak Ray Bramasakti, si Bima Satria Garuda." Rena bangkit berdiri dan tersenyum lebar. "Tetap kuat dan jadi penumpas kejahatan, yah, Kak Ray. Saran ayah, jangan Kakak salah gunakan kekuatan Kak Ray."

Ray mengangguk, nyengir. "Bawel kamu, yah?!" 

***

Lagi-lagi Ray terbangun. Jam masih menunjukan pukul dua pagi. Suka seperti ini. Tidur malam Ray sering tidak nyenyak. Sedikit-sedikit Ray terbangun. Tiap dua jam sekali pasti terbangun. Ini sangat menyiksa sebetulnya. Namun Ray harus memaksakan diri untuk kuat. Kata-kata Rena selama ini benar. Kedua orang tua Ray pasti ingin Ray tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh. 

Baru saja Ray bermimpi kejadian itu lagi. Itu adalah kejadian saat Ray masih kecil. Rumah keluarganya diserang oleh pasukan Vudo. Kondisi saat itu sulit untuk dilupakan oleh Ray. Sangat mencekam. Sampai sekarang Ray sulit menghilangkan suara teriakan ibu kandungnya. Membayangkannya saja membuat Ray geram. Ingin rasanya Ray menumpas habis seluruh pasukan Vudo, terlebih lagi Rasputin. 

"Apa yang terjadi? Di mana ini? Siapa kamu sebenarnya? 

Satu kejadian lainnya muncul di benaknya. Saat itu Ray menemani Rena ke Monas. Tiba-tiba saja sebuah gedung diserang. Ray yang begitu ingin tahu langsung menghampiri dan menyelamatkan Mikhail yang hampir dan jatuh dari atas gedung. Sejak itulah Ray mengenal sosok bernama Mikhail yang saat itu mengenakan jubah hitam dengan garis merah. Kedua mata Mikhail sangat tajam. Mungkin lebih tajam daripada seekor elang. Kedua mata, yang menurut Ray, sangat membenci kejahatan, khususnya kejahatan yang dilakukan oleh Rasputin dan pasukan Vudo-nya.

"Namaku Mikhail. Aku datang dari dunia yang mirip dengan duniamu. Kamu adalah yang terpilih untuk melaksanakan tugas besar." 

Walau sudah dijelaskan, tetap saja Ray masih bingung. Lagipula Ray merasa kata-kata Mikhail itu bukanlah suatu ucapan yang harus dibantah. Mikhail sangat berkharisma. Bahkan Ray gentar untuk  berani lama-lama menatap kedua mata Mikhail. Hingga akhirnya Ray berubah bentuk menjadi sesosok yang berbeda daripada wujud manusianya. Seperti sebuah ksatria burung garuda dengan sorot mata yang nyalang dan berapi-api. Di salah satu tangannya, Ray memegang sebuah pedang yang banyak memakan korban pasukan Vudo. Sudah banyak yang bertumbangan, kenapa mereka tidak menyerah saja, begitulah pikir Ray.

*** 

Di Ray Motor, 

Ray menghentikan sejenak pekerjaannya. Tak hanya Ray, Reza, Randy, dan beberapa pekerja lainnya juga sama. Sekumpulan orang yang berteriak histeris dan berlari kocar-kacir itulah yang menjadi penyebabnya. Ketenangan kota telah berakhir. Mereka mulai mengacau lagi. Pasukan Vudo itu kapan pernah kapok untuk mengacau? 

"Mereka lagi," geram Ray menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayo, Kak Ray," ajak Reza. 

Ray lalu mengikuti Reza yang berlari cepat menuju kehebohan yang sudah mengakhiri ketenangan dan kedamaian kota. Ray mengambil tempat yang agak sepi, lalu berubah menjadi sosok pahlawan super bernama Bima Satria Garuda. Sebilah pedang berwarna biru langit dengan gagang berwarna keemasan. Dengan bantuan pedang tersebut, Ray menghajar satu persatu pasukan Vudo. 

Sosok itu muncul lagi. Sosok dengan wajah besi yang sudah membakar habis rumah Ray itu berdiri tak jauh dari Ray dan Reza berdiri. 

"Mau apa lagi kau? Kenapa tidak pernah kapok-kapok?" gertak Ray. 

Sosok itu tertawa dan suara tawanya cukup menggelegar. Suara petir bahkan kalah daripada suara tawanya tersebut. Namun Ray dan Reza sama sekali tidak takut terhadap sosok berwajah besi tersebut. Bima dan Azazel (alias Ray dan Reza) tanpa pikir panjang langsung menghujani sosok itu dengan permainan pedang dan bela diri mereka berdua. Sosok itu meladeni. Terjadilah baku hantam yang cukup menguras tenaga. Tak ada satu pun dari mereka bertiga yang menunjukan tanda-tandanya akan menyerah. 

Sekonyong-konyong pedang yang dari tadi terus menerus diayunkan oleh Bima Satria Garuda itu menghantam dengan cukup keras dada dari sosok berwajah besi tersebut. Sosok itu meraung kesakitan. Langsung saja sosok itu berlari secepat kilat untuk menjauh dari Bima dan Azazel.  

"Awas kalian berdua, aku akan balas perlakuan ini!" raung sosok tersebut sebelum menghilang dari pandangan mata Bima dan Azazel. 

"Berkali-kali kau datang dan mengacau, berkali-kali pula aku akan menyerang balik sampai kau kapok untuk mengacau lagi!" raung balik Bima.

*** 

Ray cukup terkesiap dengan berita di koran hari ini. Diberitakan ada seorang pengusaha kelas kakap baru saja masuk rumah sakit. Menurut artikel koran tersebut, pengusaha itu terkena pendarahan otak. Belum sempat tertangani dengan baik, si pengusaha itu sudah mengembuskan napas untuk kali terakhir. 

Kalau Ray perhatikan dengan seksama, bentuk tubuh si pengusaha itu mirip dengan sosok yang baru saja terkena sabetan pedangnya yang mana dirinya tengah beraksi sebagai Bima Satria Garuda. Ray mengernyitkan dahi. Apa mungkin, satu pertanyaan lama kembali menyeruak di kepala Ray Bramasakti. 







Comments

Place Your Ads Here