Menuju 2021

 












Well, sepertinya ada dua isu utama sepanjang 2020 ini. Awal tahun, di sepanjang Januari dan Februari, kita disibukkan dengan permasalahan banjir. Mungkin masih terngiang-ngiang di pikiran kita saat tahun baru 2020 kemarin. Hujan deras selama enam jam lebih. Aku pun terkena dampak banjir juga. Air banjir bahkan sempat masuk ke dalam rumah, walau hanya semata kaki. Wilayah Jabodetabek (baca: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) sempat lumpuh karena banjir. Aku juga masih terngiang-ngiang anekdot tersebut: "Kalian melemparkan kembang api ke langit, ini balasan Langit untuk kalian (air hujan, maksudnya)". 

Isu banjir belum surut, muncul isu lainnya pula. Sebuah bencana virus penyakit yang datangnya dari China Daratan. Di awal kemunculannya, sempat membuat kita semua panik. Panic buying lalu terjadi. Penimbunan masker dan kebutuhan sehari-hari di mana-mana. Lalu, sekelompok pria Ghana yang menyebut dirinya Ghana Dancing Pallbearers segera eksis dan diperbincangkan di mana-mana. Mereka suka dibawa-bawa hanya untuk berkata, "Stay at your house. Outside is very dangerous." 

Last but not least, Natal sudah kita lalui. Kurang lebih semingguan kita akan berada di tahun yang baru. Apa doa dan harapan kita untuk dunia ini? Sebut saja dalam hati dan teruslah berharap walau situasi dan kondisi kita seperti tidak mendukung untuk memiliki harapan. Tersenyumlah juga. Konon, dengan sebuah senyuman--walau sedikit dipaksakan, itu sudah mengurangi beratnya beban hidup kita. 

Silakan berefleksi. Yuk, berintrospeksi. Mari membuat sebanyak mungkin resolusi. Jangan takut untuk membuat harapan dan impian sebanyak-banyaknya walau di tengah keterbatasan. 














Comments

Place Your Ads Here