Santo Rafael Malaikat Pelindung Aku











Silahkan tutup tab. Tak usah dibaca sampai habis, apabila tak berkenan.








Kadang, aku suka bertanya, entah ke diri sendiri, entah ke orang lain. Malaikat itu sosoknya seperti apa? Ada yang bilang juga, malaikat tak bergender. Bisa jadi malaikat itu sama seperti yang ada di Mobile Legends (yang tergambarkan dalam sosok Rafaela). Haha. 

Tapi, jujur, malaikat yang aku kenal sosoknya itu lebih mirip dengan yang ada di foto sebelah kanan. Dia bersayap, berambut pirang, dan keemasan. Setidaknya, itulah yang kuingat dari beberapa kali pengalaman aku lolos dari maut (yang salah satunya saat coba ditembak dengan sniper). Yang setiap lolos dari maut, kedua mataku suka menangkap sekelabat bayangan sosok yang aku gambarkan. Suaranya sangat menenangkanku. Heh.....

Karena itulah, aku aktif mencari tahu sendiri ke beberapa tempat, entah itu gereja, toko buku rohani, internet, dan lain-lain. Sampai akhirnya, entah tanggal berapa, yang jelas itu sekitar bulan Desember 2015, mendadak aku membeli Alkitab versi Katolik yang ada beberapa kitab yang mana di Alkitab versi Protestan itu tidak ada. Memang mahal, sih. Tapi, menurutku, sangat layak. Apalagi, saat aku spontan membuka kitab Tobit, lalu tersentak di bagian Tobit bertemu Santo Rafael. Entah kenapa, hati nuraniku serasa berbisik, "Selama ini, kamu suka diselamatkan oleh Santo Rafael. Itu guardian angel kamu, Iman."

Kemudian, dari situlah, aku tergugah membeli Puji Syukur dan berdoa khusus ke malaikat pelindung. Aku berani memproklamirkan diri bahwa Santo Rafael itu malaikat pelindungku. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, sosoknya--menurutku--lebih mirip dengan yang ada di sebelah kanan. Itulah yang kuingat saat aku jatuh dari atap awal April 2016 kemarin. Samar-samar kuingat, ada sosok bersayap yang beraura serba hijau menopang tubuhku. Dia lalu tersenyum padaku. Katanya, "Lain kali hati-hati,"

Haha. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Ini, kan, kesaksian iman aku. Ini pengalaman spiritual aku juga. Aku tidak berkeinginan untuk memaksakan orang lain percaya. Aku hanya sekadar berbagi pengalaman saja, yang mungkin untuk beberapa orang, terasa sangat sinting. Aku sendiri pun percaya tak percaya, kok, awalnya. Tapi, aku sadar, di dunia ini ada banyak hal yang hanya bisa dirasakan; bukan untuk dilihat (baca juga: MEREKA BUKAN UNTUK DILIHAT, BUKAN UNTUK DIRASAKAN).

Omong-omong, menurut kalian, sosok malaikat itu seperti apa? Hehe. Sharing saja, tak usah takut. Aku tahu rasanya saat ingin bercerita beberapa hal, tapi takut ini-takut itu. Aku juga menuliskan hal ini juga karena desakan hati nuraniku, yang merasa harus kutuliskan. Haha. Oh iya, selamat hari minggu, yak!





Comments