Friday, September 16, 2011

Mereka itu bukan untuk DILIHAT, tapi DIRASAKAN!



WARNING: Jangan baca postingan ini dan lihat di atas jam 10 malam!!!


Menurut kalian, pocong itu ada atau tidak? Eits, maksudku, bukan @Poconggg jelmaannya si Arief itu loh? Hehehe...! Kalau menurutku, pocong itu ada di luar konteks saya pernah melihatnya atau tidak.Karena saya yakin, makhluk-makhluk gaib seperti pocong, kuntilanak, tuyul, hingga yang impor seperti drakula itu ada. Hanya saja tidak semua orang bisa melihat keberadaan mereka. Kalau saya sih berharap saja jangan sampai bertemu dengan salah satu dari mereka.

Nah begitu juga dengan Tuhan. Tuhan sama seperti makhluk-makhluk gaib tersebut. Hanya sedikit kuduga yang bisa bersua denganNYA. Tapi janganlah kita berkata TUHAN ITU TIDAK ADA. Karena menurutku Tuhan itu ada dan keberadaanNYA hanya bisa dirasakan, bukan dilihat. 

Hal itu sama seperti udara. Udara itu ada atau tidak? Kalau konteksnya harus sesuatu yang bisa dilihat dengan mata telanjang, mungkin kita bisa bilang udara itu enggak ada. Tapi sesungguhnya udara itu ada. Karena udara hanya bisa kita rasakan. Udara hanya bisa kita lihat dalam bentuk angin tornado yang tak semuanya bisa melihatnya. 

Berikut saya punya sebuah cerita (mungkin anekdot) tentang hal ini. 

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".

"Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.

Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.

Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.

Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.

Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak.

Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Siapakah mahasiswa tersebut???

Mahasiswa yang dimaksud itu adalah Albert Einstein. Saya salut sama dia. Ia bisa berpikir logis tapi tetap percaya kalau Tuhan itu ada. Ilmuwan-ilmuwan Eropa dan Amrik sana biasanya menafikkan soal keberadaan Tuhan. Karena berpendapat segala sesuatu itu harus bisa dijelaskan.  Itu yang menurutku salah.

Karena menurutku, tidak semua hal bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Saya pernah baca di Intisari kalau pernah ada kasus aneh yang dialami seorang dokter. Si dokter itu pernah menemukan ada benda aneh (saya lupa bendanya apa. :p) di dalam tubuh pasiennya. Hingga saat ini, si dokter enggak bisa menjelaskan kenapa ada benda tersebut di dalam tubuh pasien itu. Akhirnya mereka menduga itu akibat perbuatan mistik.

Dan kalau kalian (bagi yang atheis) masih tetap meragukan hal-hal tersebut, termasuk Tuhan dan menganggap semuanya harus ada penjelasan ilmiahnya, kusarankan ada baiknya kalian membaca MENJAWAB ATEIS INDONESIA karangan Eko Arryawan yang diterbitkan oleh Media Abadi Indonesia.


Sedikit reviewnya bisa dilihat di blognya mbak Fanny Sang Cerpenis Bercerita. Dan sebetulnya tulisan ini saya buat untuk diikutsertakan dalam kontesnya mbak Fanny lagi  REVIEW BUKU BERHADIAH. Hehehe...! ^^v