Cerita Lain di Balik #misiterakhirrafael










Nuel Lubis, Si Coklat, dan si Stroberi.










"Yang bikin gue bingung, alam semestanya aja udah seluas gini, surga di mana coba letaknya?" - Andri Christian, salah satu teman SMP

Quote di atas tersebut berasal dari salah satu obrolan aku dengan teman-teman aku. Itu sudah sedari kanak-kanak. Aku memang begitu. Walau lebih banyak mendengarkan, yang terkadang aku sering ikut dalam obrolan, aku seringkali terlibat dalam sebuah obrolan tak biasa. Yah, yang agak-agak menyerempet begitu, yang agak-agak mirip kata-kata Andri tersebut. Dari situlah, walau kelihatannya aku kuper (baca: kurang pergaulan/perhatian), aku cukup berwawasan dan ujung-ujungnya aku rada open-minded. Aku juga bingung kenapa aku menggemari topik-topik tersebut. Seru banget mendengarkan obrolan-obrolan yang agak-agak menyerempet begitu. Haha.

Alhasil, aku jadi tahu bahwa naik haji itu mahal karena biaya ini-itunya (yang untuk warga Arab Saudi, gratis sebetulnya). Aku jadi tahu pula kenapa Natal harus tanggal 25 Desember. Then, blah-blah-blah. Maka dari itu, tak usah heran terhadap isi dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh", yah. Beberapa hal di dalamnya merupakan hasil dari kebiasaan mengobrol aku. Tak ada maksud jahat sebetulnya. Hanya ingin berbagi. Share to share saja. Bagian-bagian yang (sampai sekarang) suka dipermasalahkan, yang salah satu blurb-nya, merupakan hasil dari obrolanku dengan orang ini-orang itu. Juga, sama sekali tak ada maksud cari sensasi, ketenaran, apalagi uang segunung (walaupun aku ingin bisa hidup dari passion menulis ini, hehe). Motivasiku (menuliskan hal-hal itu dalam novel tersebut): murni ingin berbagi; yang tak ada niat jahat sama sekali. 

Tambahan, selain pergaulanku agak-agak nyentrik begitu (yang sama seperti isi novelnya yang sangat nyentrik), aku cukup banyak memiliki sanak saudara yang (agak) religius. Dibilang religius, tidak juga, sih. Namun, mereka--menurutku--cukup memprioritaskan Tuhan (dengan jalannya sendiri). Seperti Tulang Hendry dan Bang Alex yang menjadi penatua/sintua. Lalu, karena keluarga Douglas-lah, aku jadi mengenal sosok bernama Pendeta Yohanes Anin yang orang Timor (yang oleh Pendeta Yohanes, aku sering diceritakan cerita-cerita luar biasa, yang belum tentu aku dapatkan dari mana-mana). Papi aku sendiri, yang semenjak keluar dari lapas, aktif di pelayanan gerejawi tiap hari kamis. Mendiang Mami--yang di waktu senggangnya--suka ikut kegiatan-kegiatan gerejawi, yang salah satunya bareng ibu dari salah satu temanku (Ron Youtube, dong, orangnya!). Kemudian, yah masih banyak, sih, sebetulnya.

Haha. Sudah jelas, belum, kenapa isi si Coklat seperti itu? Sekali lagi kutegaskan, bagian-bagian tersebut (yang salah satunya, datang ke alam mimpi) tak ada maksud jahat sekali. Selain hanya bumbu cerita saja, aku hanya ingin berbagi. Tanpa sadar aku melampiaskan uneg-uneg aku ke dalam #misiterakhirrafael tersebut. Tidak hanya ke dalam si Coklat tersebut, ke novel-novel aku yang lainnya juga sama, kok. 

Omong-omong, aku sebetulnya risih, loh, novel tersebut disangka novel horor. Astaga, perasaan aku tak ada niat cerita seram di dalamnya. Bagian-bagian yang dimaksud juga sebetulnya tidak mendominasi isi novel. Apalagi, novel tersebut memang novel romance (dengan bumbu cerita sedikit nyentrik dan agak berbau misteri). Selain itu, aku sendiri juga bingung, bagian mana yang mengerikan dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh"? Yang bikin jumpscare, ada di halaman mana, sih? Tell me, Guys!





Andri Christian.










Comments