An Unforgettable Lesson from Preacher Yohanes Anin

Tulisan tangan Pendeta Yohanes Anin.









Mendadak, di minggu Advent keempat ini, aku teringat akan sosok seorang pendeta yang juga seorang pensiunan tentara (yang pernah bekerja di daerah Timor). Namanya Yohanes Anin. Aku ingat, saat tengah belajar agama (secara privat) dengan Pendeta Yohanes, kala tengah menyanyikan "...bila roh Allah ada di dekatku, ku kan menari seperti Daud menari...", almarhum pernah berkata, "Immanuel, tahu nggak, seperti apa Daud menari?"

Aku lalu menggeleng. Almarhum berkata lagi, "Ya seperti orang gila atuh,"

Haha. Well, Beliau memang tidak salah. Memang ada nats Alkitab yang berkata seperti itu. Ada di 1 Tawarikh 15: 29 yang berbunyi: "Ketika tabut perjanjian TUHAN itu sampai ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud melompat-lompat dan menari-nari. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya."

Kadang aku merasa bahwa saat itu aku tengah diberikan suatu pelajaran berharga yang bahkan tidak diucapkan langsung oleh Pendeta Yohanes (karena, aku ingat dengan jelas sekali, Pendeta Yohanes hanya berkata seperti itu tanpa menggurui sama sekali, yang lagi ngalor-ngidur saja). Itu semacam bahwa kita jangan pernah takut dan ragu jika ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan Allah, walau dunia mungkin tidak menyukainya. Dunia bisa saja bilang "no", namun jikalau Allah bilang "yes", lalu apa? 

Aku tak ada maksud apa-apa. Tidak bermaksud negatif sama sekali. Just sharing. Anggap saja ini hanya semacam self-reminder. Semacam note-to-myself untuk aku pribadi. 






Tiga belas tahun sudah Pendeta Yohanes Anin berpulang. Terakhir ada di dunia, tahun 2005 itu. Itu saat aku masih kelas 10--mau naik kelas 11.








Comments