Arti Privasi dan Pentingnya Menjaga Rahasia








Aku, Nuel Lubis, ibarat tengah mencoba keluar dari terowongan rasa bersalah. Latar: terowongan Summarecon Bekasi.





"Ini, ceritanya boleh saya sebar, nggak? Saya gitu, Man. Kalau kamu minta saya rahasiakan, yah saya rahasiakan. Kalau kamu minta saya sebar, yah saya sebar."- seseorang di empat tahun yang lalu.





Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku seperti larut dalam lautan perasaan bersalah yang lumayan deras. Itu membuatku seolah-olah aku ini pendosa besar saja. Padahal, kalau kupikir, masih banyak yang lebih berdosa dan malah lebih jahat daripada aku sendiri. 

Hmmm.....

Kenapa aku bilang seperti itu, itu ada alasannya. Sudah sejak tahun baru kemarin, aku suka reread old posts IMMANUEL'S NOTES. Entah dalam kepentingan beres-beres-biar-rapi, entah dalam kepentingan sekadar nostalgia dan iseng. Nah, hingga di suatu masa, aku lumayan terenyak. Kadang aku sampai menitikan air mata. Tahu kenapa, Sob? Jujur saja, to the point, itu karena tulisan-tulisanku di tahun 2015 tersebut, khususnya cerita-cerita fiksi yang aku buat. Mereka semualah penyebab kenapa aku merasa orang paling berdosa di alam semesta. 

Salah satunya, cerpen "Kowai" ini. Jujur, yang kutulis di cerpen tersebut memang benar. Cerpen tersebut memang terinspirasi dari kisah nyata. Apalagi, mengingat yang bersangkutan sudah meninggal, aku makin menjadi tidak enak hati. Pasalnya, seharusnya saat itu aku sadar diri. Buat apa juga aku beberkan dalam bentuk cerpen segala pengalamanku saat itu dengan yang bersangkutan. 

Terkadang, memang enak, tiap kita dijadikan tempat curhat oleh seseorang. Kita seperti menjadi orang istimewa. Karena, jujur, mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan untold story seseorang yang mungkin aku tidak akan pernah dapatkan dari mana-mana, itu langka. Sudah bagus orang tersebut mau menceritakan sisi lain dari hidupnya yang bisa jadi merupakan isi dari lubuk hati terdalamnya. Lalu, dari situlah, aku merasa berdosa saja tentang waktu itu. Buat apa, sih, aku sebar (yang dalam bentuk cerpen) untold story temanku tersebut. Demi uang? Demi ketenaran? Atau, hanya demi kepuasan batin? Hufffttt!

Tidak hanya untuk Almarhum Dias saja, aku punya segudang rasa bersalah ke beberapa teman. Ke Shania, ke Yudi, ke Erland, ke Ermen, ke Ronnie, ke Bobby, ke Dion, dan ke beberapa orang lainnya. Mereka sudah mau curhat kepadaku. Mereka sudah mau cerita ini-itu yang mereka tahu ke aku. Untold story mereka aku pegang, eh bangsatnya lagi aku malah menjadikan curhatan dan untold story sebagai bahan tulisan di IMMANUEL'S NOTES, khususnya bahan tulisan fiksi. Dari situlah, kadang aku merasa mereka mungkin rada jengah saat membacanya. Mungkin pikir mereka: 'Ini, ngapain Iman tulis di blognya sih, ember banget, cowok kok mulutnya kayak ibu-ibu rumpi, sih. Cucok banget,'

Haha 😑. 

Ya sudah, sih, akhiri saja, tulisan kali ini. Aku hanya mau bilang, aku tengah terjebak dalam rasa berdosa yang lumayan besar. Yang dari rasa berdosa tersebut, aku makin menyadari betapa pentingnya menjaga rahasia tersebut. Privasi itu sangat berharga. Tak heran, yang kudengar, untuk mendapatkan informasi-informasi tertentu, seseorang harus keluar uang hingga milyaran rupiah. 

Well, that's why aku lebih sering bercerita mengenai hidupku. Aku cerita apapun itu tentang hidupku, bahkan sampai menceritakan topik-topik tertentu dalam hidup aku. Hitung-hitung, aku melakukannya sebagai penebusan rasa berdosa aku. Hufffttt.

That's it!







Comments