Friday, March 20, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Kowai!



Genre: Thriller, Slasher


[Berdasarkan kisah nyata]




"Mampus kau!"

Seorang pemuda berukuran nyaris raksasa tergelak. Tiada penyesalan melihat teman berkacamatanya yang tak bernapas. Tak ada kejijikan pula dengan pemandangan yang seharusnya bikin tiap mata memandang jadi mau muntah.

Bau anyir mulai menyeruak. Darah tak kunjung berhenti. Bagaimana tak kunjung berhenti jika pemuda itu malah terus memotong-motong tubuh temannya jadi beberapa bagian. Itu membuat pula organ-organ vital berhamburan keluar.

Pemuda itu menghentikan langkahnya. Ia mengendap keluar kamar. Matanya mengedar kemana-mana. Aman--tak ada yang melihat, begitu pikirnya.

Ia percepat langkahnya menuju dapur. Mbak Ijah, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja sekian tahun, sepertinya masih belum pulang berbelanja. Tanpa pikir panjang, ia bergerak menuju salah satu kabinet dan mengambil kurang lebih tiga kantong kresek. Secepat kilat, sebagaimana tiap kriminal yng takut kepergok, ia balik menuju kamar.

Kembali pemuda bernama Kristo itu memotong-motong tubuh teman yang dulu begitu akrab dengannya. Hati-hati sekali ia memasukkan potongan demi potongan ke dalam kantong kresek. Mungkin atas bisikan setan, tak sungkan pula dirinya menjilati darah yang membasahi jemari kanannya.








Diambil dengan menggunakan kamera Cannon EOS 1200D, ISO 200, bukaan f22, shutter speed 1/60, dan focal 34mm. 








[Firman]

Sebetulnya aku malas mengunjungi rumah orang ini. Pemandangan depan mataku ini--sebuah pagar raksasa dengan ujung runcing bak tombak--sungguh merusak mata. Aku semata melakukan ini atas dasar satu hal: persahabatan.

Kutekan belnya. Samar-samar kudengar alunan iramanya. Musik itu kukenal. "Hallelujah"-nya Hendel.

Kristo, Kristo. Sebetulnya ada apa dengan dirimu? Kamu itu begitu tertutup. Entah gaptek, entah dirimu yang tak begitu suka bermain di media sosial. Aku merasa tidak bisa lagi melihat sosok Kristo yang dahulu. Kristo yang selalu tersenyum lepas; Kristo yang pendengar yang baik; Kristo yang seorang pemaham temannya. Heh...

Aku mendongak, mengembuskan napas banyak-banyak.

Ayahmu yang pebisnis koi cukup sukses. Ibumu yang memiliki posisi penting di sebuah perusahaan media audio visual. Apa mungkin kamu seperti ini karena kesepian? Kamu ingin cari perhatian kedua orangtuamu, bukan? Kudengar, mereka lebih menyukai kakakmu yang tinggal di Australia. Kudengar, keluargamu tengah dihajar prahara serius--soal warisan. Katanya, ada pamanmu yang kabur dengan segepok dolar keluaran 70-an yang diwariskan Eyang Kakung-mu.

Mataku kembali lurus memandang pagar. Dan kamu pun datang untuk membukakannya.

 *****

[Kristo]

Oh lihat, temanku yang sekarang ini. Mengapa ia jadi seangkuh ini? Ini bukan Firman yang kukenal.

Firman yang kukenal itu orangnya tidak seperti ini. Orangnya tidak terus-terusan menyerocos dan menjadi tinggi hati. Aku muak mendengar dirinya yang begitu mudahnya membanggakan mimpi-mimpinya. MUAK!

"Hei," ujar Kristo melambai-lambaikan tangan padaku. Aku yang tengah duduk di atas tempat tidur, tersentak dari lamunan penuh emosi membara.

"Gue kadang kesal sama lu, Bro. Kenapa sih tiap gue ngomong apa gitu, lu kayak--" Ia memutar bola mata seperti tengah mencari kata yang tepat. Firman yang dulu tidak seperti ini. Ia selalu sepenuh hati mendengarkanku. "--masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Berengsek!"

"Lu berubah sekarang, Man," desisku seraya memalingkan muka.

"Berubah? Berubah gimana?"

Aku bangkit berdiri dan menantangnya lagi. "Iya, lu berubah. Lu itu bukan Firman yang gue kenal dulu. Firman yang gue kenal itu nggak searogan ini."

"Gue arogan? Arogannya dari mana? Please tell me something I don't know."

"Lihat aja isi dari beberapa social media lu. Yah Facebook, yah Twitter, yah Instagram, yah blog,... NORAK!!!"

"Hah?" Firman terperanjat. "Apanya yang sombong sih? Masa gue sebagai pekerja seni, sebagai ilustrator, nggak boleh unjuk kemampuan gitu? Ini passion gue, Bro--dunia gue. Hidup-mati gue di dunia ilustrasi dan desain. Dan, menurut gue, segala kata-kata yang gue tulis di tiap social media itu cenderung biasa aja lagi. Gue hanya menunjukkan ke dunia kalau gue seorang ilustrator; yang dengan demikian makin banyak tawaran ngedesain yang gue dapetin. Itu berguna banget buat nambahin portofolio gue. Siapa tahu juga makin mempermudah buat kerja di studio Universal, tempat kerja yang jadi impian gue."

Aku berdecak. "Firman yang gue kenal itu nggak kayak gini. Yang--"

"--terus gue harus gimana? Nggak usah unjuk kemampuan gitu?" tantangnya yang terlihat sengit di mataku.

"Yah itu lebih bagus. Yang status Facebook atau tweet-tweet-nya nggak lebay."

"Wait, wait, wait. Lebay gimananya nih?" Baru aku mau jawab, ia kembali menyerocos. "Terus gue harus diemin aja segala desain atau ilustrasi yang gue udah bikin? Dibiarin aja di salah satu folder My Document?"

"Yah itu lebih baik. Lagian lu kan udah ngantor, segala karya lu juga udah kelihatan ke hadapan publik kan. Masih kurangkah itu? Bayaran lu juga lumayan. Tiga koma sekian kan. Lu juga masih single dan belum nikah. Sebegitu pentingkah terus pamer artwork di social media?"
"
Tampak Firman menghela napas. Firman yang dulu kukenal tidak terlihat sefrustrasi ini dalam menghadapiku.

"Kayaknya cuma lu, Bro, yang anggap gue sombong. Nyaris dari kebanyakan teman gue itu nggak pernah ada yang bilang gue sombong. Mereka bilang, gue biasa aja. Malah kata salah satu teman blogger, gue nggak ada sombong-sombongnya sama sekali; malah cenderung humble orangnya. Easy-going katanya."

"Ya itu karena teman lu psikopat semua."

Matanya nyalang mendadak. "Hah? Psikopat? Asal aja kalau ngomong. Ada juga lu yang sakit jiwa, yang suka ngomongin hal-hal yang aneh-aneh. Ngapain juga ngomongin soal artis mana yang tergabung ke Freemason? Nggak penting!"

"Nggak penting?" Telingaku berdiri. "Kata lu itu nggak penting?"

"Iya, itu nggak penting, Kristo. Wake up, please! Buat apa lu sering bahas mereka, baik secara obrolan nyata maupun status Facebook? Lu tahu nggak, semakin kita sering menyebut nama mereka, itu keuntungan besar buat mereka. Mending, kalau udah tahu bahayanya mereka itu, yah nggak usah dibahas."

"Tapi--"

"Udah deh, nggak pake tapi-tapian. Mending lu cari kegiatan apa gitu ketimbang mikirin sesuatu yang nggak selayaknya lu pikirin. Mending lu gencarin usaha toko buku online lu itu. Lu pajang buku-buku yang mau lu jual di DP BBM lu. Itu lebih berguna daripada pasang gambar-gambar nggak jelas yang sebetulnya annoying banget. Untung lu udah gue anggap saudara, kalau nggak, udah gue delete dari kapan, tahu."

"Lu tuh yang asal ngomongnya. Lu itu nggak tahu apa-apa, jangan suka sotoy. Lu tahu nggak seberapa kuatnya peranan mereka dalam beberapa aspek di kehidupan ini. Mereka sudah mengontrol semuanya. Yah politik, yah hukum, yah ekonomi, yah hiburan, bahkan ranah medis. Konon agen-agen mereka sengaja membiarkan beberapa makanan dan minuman terkontaminasi untuk mendukung suatu misi rahasia mereka yang busuk."

"Yah udah sih, biarin aja. Fokus aja ke kehidupan kita. Kalau kita anggap buruk, yah nggak usah dinikmati. Simpel. Fokus aja ke hidup kita sendiri. Dan biarkan Tuhan yang mengurus."

"..."

"Dan lu mending fokus cari kegiatan positif apa gitu. Entah fokus besarin toko buku online lu--yang pasti gue bantu; dengerin kata-kata orangtua lu buat S2 lagi; atau kalau lu mau, gue bisa bantu lu supaya keterima di perusahaan di mana gue bekerja. Lu masukin aja lamaran lu. Kayaknya perusahaan gue baru buka job vacancy lagi deh."

Cih! Sekarang dia mulai ikut campur urusan pribadiku pula.

Darah sudah naik hingga ubun-ubun. Hatiku semakin panas mendengarnya. Aku melengos pergi. Kutinggalkan Firman dalam kamar--yang jadi terbengong-bengong dengan tindak-tandukku yang pasti mencurigakan.

*****

Yah begitulah. Begitulah sebab musababnya mengapa tersangka bisa membunuh korban. Motifnya? Mungkin kalianlah sebagai pembaca yang menentukannya sendiri. Kecemburuan? Frustrasi? Kesepian? Silakan kalian tentukan sendiri.

Tak butuh waktu lama pula, kasus ini terbongkar. Mungkin karena pelaku tergolong baru untuk kasus-kasus mutilasi sadis seperti ini. Sebulan kemudian ibu-ibu yang tengah mencuci, begitu terkaget-kaget mendapati sepotong tangan di sebuah kali kotor. Tiga hari setelahnya, giliran sekelompok pemancing yang histeris saat salah satu rekan malah berhasil mengail potongan kepala. Seram? Ya sudah jelas! Atau lebih gilanya lagi saat seorang kakek melihat sekelompok bocah tengah memainkan potongan jari-jari.

Baru beberapa hari kemudian, karena semakin seringnya ditemukan potongan-potongan tubuh manusia, aparat langsung bergerak cepat. Tim penyelidik langsung menginvestigasi. Hingga ditemukanlah satu fakta.

...potongan-potongan tersebut...

...itu ternyata milik seorang pemuda desainer ternama. Hasil visum menunjukan bahwa kesamaan beberapa ciri fisik itu sama dengan seseorang yang dilaporkan keluarganya sudah lama nian tak pulang-pulang. Laporannya di kepolisian sudah hampir berusia sebulan.

*****

[Sumitomo]

Firman, Firman. Melihat fotomu terpampang di dekat peti itu, ingin rasanya aku menyumpahi. Maaf, Firman. Yah aku tahu, tak sepantasnya aku begitu. Tapi untungnya aku urung.

Hei, Kawan. Bukankah sudah aku peringatkan soal teman kita tersebut? Teman kita itu sudah tak waras. Ucapan-ucapannya sudah jauh dari kata irasional. Semestinya kau tak perlu berbuat jauh. Aku tahu, kau itu altruistik. Tapi menolong itu pun tak boleh gegabah dilakukan. Apalagi menolong orang seperti Kristo. Perlu dilakukan dengan cara-cara benar.

Aku sudah bermilyar kali bilang, aku pasti akan segera menghubungi kedua orangtua Kristo secara pribadi soal kelakuan menyimpangnya akhir-akhir ini. Tapi kau malah bersikukuh untuk maju lebih dahulu. Rasakanlah itu. Senjata makan tuan kan.

Firman, kawanku yang altruistik dan keras kemauannya. Semoga kau bahagia di alam sana.





PS: Kowai berasal dari bahasa Jepang yang berarti kurang lebih seram, buruk atau ngeri.