From Zero to Hero

















Aku lupa nama pasti judul novelnya. Yang jelas, novelnya ini pernah diangkat menjadi serial televisi. Kalau tak salah, inisial tokoh utamanya itu V. Vlad atau apa, aku agak lupa. Yang jelas, aku mengalami hal yang dialami si tokoh utama. 

Diceritakan, di salah satu episode, si tokoh utama yang kutu buku pindah sekolah. Dari sekolah gedongan ke sekolah kelas bawah. Dia pindah (yang aku ingat) demi temannya. Ingin merasakan bersekolah di sekolah negeri yang berada di perkampungan itu seperti apa. Yup, dia dulu bersekolah di sekolah swasta yang bayarannya itu aji gile

Nah, aku mengalami yang seperti itu. Aku sempat bersekolah di sekolah gedongan  (Strada St. Fransiscus) selama satu tahun. Tinggal kelas, lantas aku dipindahkan ke sebuah sekolah swasta yang sudah lama dikenal sebagai sekolah buangan. Sebab, murid yang tidak diterima di mana-mana, jatuhnya masuk ke sekolah tersebut. Sekolah itu terletak tak jauh dari rumah. Halaman sekolahnya tak begitu luas. Pokoknya, tak heran sekolahnya sempat mendapatkan julukan 'sekolah buangan'. 

Well, sekarang ini aku malah bangga pernah bersekolah di sekolah buangan tersebut. Apalagi saat aku memutuskan hijrah ke sekolah gedongan. Akhirnya, seorang Nuel Lubis naik kasta. Dari kasta sudra, jadi kasta ksatria. Haha. Tidak berlebihan juga aku bilang begitu. Karena perbedaannya sangat jauh sekali antara SMP Markus dan SMA Tarakanita. Entah itu dari segi biaya, kurikulum, kompetensi pengajar, fasilitas, dan lain-lain. Tak heran, sempat selama satu tahun aku mengalami kesulitan beradaptasi. Ya iyalah, yang tadinya murid buangan, sekarang harus bersekolah di sekolah elit. Naik mobil antar jemput pula. Kaus kakinya khusus pula. Ada logo sekolahnya. Buntutnya, nilai semester pertama aku jeblok. Aku hampir mau tinggal kelas. Kalau tinggal kelas, balik lagi jadi murid buangan. Malu-lah turun kasta begitu. Huhuhu.

But, because of the God's hand, aku naik kelas. It's very miraculous. Di tahun berikutnya, aku jadi bahan omongan guru-guru dan murid-murid. Iman yang beginilah, Iman yang begitulah. Ke mana-mana dilihat oleh puluhan pasang mata. Tiap tugas kelompok, beberapa murid sering menghindar agar tidak sekelompok denganku. Lucu kan ya? Well, that's Iman. Sejak SD hingga kuliah, author dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" ini selalu jadi buah bibir (yang pernah ada seorang perempuan bilang, bibirku seksi *eh? ). 

Apa inti tulisanku ini? 

Hanya mau bilang, mungkin benar kata Nova. Mungkin murid-muridnya cuek olala bibeh. Mungkin juga karena selama sembilan tahun jadi murid buangan, aku rada kesulitan untuk menyesuaikan diri kembali di lingkungan elit. Naik kasta soalnya. Bahkan yang dulunya sekolah di sekolah elit, yang bersangkutan kesulitan untuk bersekolah di sekolah buangan. Buntutnya, setahun berikutnya, dia pindah ke Australia (ada ini orangnya). Contoh lain lagi, aku punya teman, yang saking turun kastanya, nama SMA-nya rapat-rapat disembunyikan. Yang dibanggakan, SMP-nya. Well, I don't have negative intention, just sharing. Jikalau ada yang bisa dipetik, syukur deh! 







Comments