A Very Hilariously Interesting Coincidence
















Sabtu kemarin (13/10), di rumah aku, ada arisan. Arisan parsahutaon (semacam perkumpulan orang Batak yang tinggal di komplek aku). Untuk hidangannya, keluarga aku menyajikan kue bolu pandan. Itu salah satunya. Nah, bolu pandan ini sungguh mengingatkanku akan Mendiang Mami.

Mau menangis rasanya. Tak apa-apa, kan, menangis. Cuz, ada yang bilang, anak laki-laki memang dekat dengan ibu kandungnya. Dulu, rasanya malu dianggap anak mami (bahasa gaulnya, mama boy). Namun, seiring bertambahnya usia dan bertemu banyak orang baru, well I'm so proud to call myself The Mama Boy. Salah satu pesepakbola legendaris asal Wales malah tidak malu menganggap dirinya anak mami.

Oke, intermeso saja. Yang jelas, aku kangen lagi saja dengan Mendiang. Sudah tiga tahunan ini, aku tidak pernah merasakan kembali masakan Mendiang. Aku jadi menyesal, dulu tiap Mendiang memasakan sesuatu, aku malah memilih jajan di luar. Padahal walau hanya dibuatkan nugget, buatan seorang ibu sangat berbeda sekali.

Then, hmmm, bicara tentang kue, terakhir kali makan kue buatan Mendiang itu saat Desember 2012 kemarin. Itu saat Kak Seli belum menikah; masih kerja di law firm kepunyaan Junimart Girsang. Kak Irna masih di Dian Harapan. Kitty masih kuliah S-1 di Atmajaya. Lalu, aku tengah gencar-gencarnya mengirimkan naskah-naskah aku ke beberapa redaksi. Ketik-print-kirim. Itu-itu saja yang aku lakukan. Haha. Capek sih, namun puas sekali ya.

Terus, balik ke soal kue, kue yang dibuatkan terakhir itu kue wajik. Kue wajik itu salah satu kue yang mana Mendiang jago sekali membuatkannya. Selain kue wajik, Mendiang jago bikin nastar, kastangel, kue putri salju, dan bolu. Yang terakhir itu, Mendiang sering bikin hanya saat aku bocah saja. Begitu beranjak dewasa, jarang sekali Mendiang membuatkannya. Padahal bolu-bolu buatannya sangat DEP SEDEP semua. Aku setiap kali Mendiang bikin bolu, selalu suka diam-diam menghabisinya. Bahkan adonannya suka aku jilat-jilat. Haha, kangen!

😢

Ya Allah, Ya Rabi (kata-kata yang sering didengungkan Mendiang jika tengah latah), tak terasa sudah tiga tahun Mendiang beda dimensi. Yang jelas, aku sangat merindukan kue-kue buatan beliau, apalagi bihun goreng buatannya. Terakhir, wajik itu. Sehabis itu, wassalam, sepanjang 2013, fisik Mendiang drop. Beberapa kali Mendiang masuk ruang ICU dan menjalani kemoterapi. Satu-dua kali Natal, bukan kue buatan beliau yang disajikan. Keluargaku lebih sering beli.

Anyway, at last, tiga bulan kemudian setelah Mendiang, ayahnya Dion meninggal. Aku kaget saat buka Facebook, ada teman ayahnya menghubungiku. Lucunya lagi, ternyata kampung halaman ayahnya itu di Purbalingga. Well, kota itu juga memiliki kedekatan emosional dengan aku. Sebab, hampir lima tahun, Mbak Rokhidah yang asal Purbalingga kerja di rumah. How interesting coincidence! So hilarious! Well, the world is smaller than I guess!














Comments