Thursday, March 30, 2017

Cerita, Kreatif, Imajinasi, hingga Alam Bawah Sadar




Sumber: komentar TK di salah satu post.




Jaman dahulu kala, mungkin sebelum masehi, situasi dan kondisi di Eropa hampir mirip dengan di negara-negara Asia, khususnya Indonesia. Kental dengan sihir, mistis, dan okultisme. Bahkan anak-anak pun bisa melakukan sihir. Jaman itu, orang-orang sama sekali tidak pernah takut berbicara soal alam bawah sadar (baca: alam mimpi). Itulah kenapa, jika kita berbicara soal kebudayaan Yunani dan Romawi, bercampur dengan mitologi-mitologi, yang entah benar entah salah. Itu juga karena kurang bukti. Bagaimanapun memang sulit mendapatkan bukti (nyata dan empiris) dari hal-hal bersifat supranatural. Apalagi jika seorang yang terbiasa berpikir logis dan empiris tengah menyelidikinya.

Lambat laun, kaum dewasanya mulai ketakutan. Perang yang melibatkan sihir, okultisme, dan supranatural benar-benar  pernah terjadi. Kaum penyihir mulai ditakuti karena segala perbuatan mereka yang cenderung menyeramkan, merugikan, dan seringkali bersifat destruktif (tak heran Gereja Katolik memprakarsai perburuan besar-besaran terhadap sejumlah penyihir, yang terutama dilakukan atas dasar melakukan perintah kitab suci, 2 Samuel 28: 9-10). Agar menghindari anak-anak mereka menuju sana, para orang dewasa lalu menganggap tabu beberapa hal. Beberapa hal kemudian dibalut dalam bentuk cerita rakyat yang oleh sebagian besar anak-anak belum tentu dianggap sebagai kebenaran. Cerita-cerita di dalamnya terdapat nasehat-nasehat orang dewasa agar kelak jangan menjadi seperti yang ada dalam cerita. Meskipun dianggap tabu, tetap saja para orang dewasanya tidak menutup diri terhadap beberapa hal. Karena itulah juga, beberapa cerita rakyat (yang sekarang dikenal sebagai fairy's tale)--sebelum ditulis ulang--terdengar menyeramkan. Sebab pada dasarnya, cerita-cerita tersebut bersumber dari alam bawah sadar/alam mimpi/alam roh. Tetap saja, seiring perkembangan usia, anak-anak mulai sadar bahwa beberapa cerita tersebut mungkin nyata; sama sekali tidak bersifat imajinatif atau khayalan.

Jaman itu juga, kaum dewasa juga sudah menyadari bahwa ada suatu pesan rahasia di balik segala ide untuk menuliskan sebuah tulisan, entah fiksi maupun  nonfiksi. Mereka sepakat berkata bahwa pesan rahasia itu berasal dari suatu ilahi yang tak memiliki fisik, yang mungkin saja berasal dari Sang Pencipta. Jaman itu, tak jauh berbeda dengan jaman sekarang, bayangan akan Sang Pencipta itu bermacam-macam. Walau, pada intinya tetap sama: Sang Pencipta itu selalu terkesan sangat berwibawa dan memiliki kekuatan mahadahsyat yang mampu mengontrol segala yang terjadi di dunia dan alam semesta. Itulah kenapa tak banyak cerita atau tulisan yang beredar di masa itu. Selain diceritakan dari mulut ke mulut--juga kertas belum memasyarakat, mereka sadar akan tanggung jawab dalam membikin sebuah tulisan dan cerita. Ada tanggung jawab moral (dari Sang Pencipta) sebabnya. Tidak asal bikin dan benar-benar dipikirkan secara matang-matang. Salah-salah, alam bisa marah dan mengamuk.

Beberapa kitab suci mengenal adanya nubuatan. Nubuatan itu juga sebuah cerita fiksi sebetulnya, karena sama sekali belum terjadi. Meskipun ada juga beberapa cerita fiksi yang bersumber dari kejadian yang sudah ada. Itu sudah terjadi sejak lampau sekali. Namun pada intinya sama, tulisan-tulisan fiksi dibuat atas dasar mengajar dan mendidik. Itu dibuat untuk memberikan peringatan; agar orang jadi lebih waspada.

(Baca "Nubuatan dalam Fiksi")

Kreatif
Yang namanya 'kreatif' itu sebetulnya memang ada. Pada dasarnya, Sang Pencipta telah membagi otak manusia menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Kreativitas umumnya datangnya dari arah otak kanan; sementara otak kiri lebih bertujuan untuk menganalisa, berpikir kritis, dan segala sesuatu yang berasal dari alam sadar.  Nah, mimpi dan penglihatan juga datang dari arah otak kanan. Makanya tak heran, hal-hal yang disebut sebagai mimpi dan penglihatan itu seringkali masuk ranah khayalan dan imajinasi. Sebagian besar orang beranggapan, "Kan belum tentu benar. Masih diragukan kebenarannya. Masih belum pasti." Alam bawah sadar manusia pun bekerja dari arah otak kanan, yang karena itulah manusia bisa hidup.


Kata 'creativeness' atau 'kreatif' berasal dari bahasa Latin, creatus,--yang marak digunakan pada tahun 1678 (abad pertengahan atau renaissance), khususnya saat mesin cetak ditemukan. Itu artinya menciptakan. Sebab pada dasarnya saat orang tengah berpikir kreatif, mereka tengah menciptakan sesuatu dari otak kanan mereka; dari alam bawah sadar mereka juga. Dan, mungkin saja di dalam hasil kreatif itu ada muatan mimpi, penglihatan, dan nubuatan. Bisa saja kreatifnya mereka muncul karena mencontek (baca: menerawang alam bawah sadar seseorang).

Maka dari itu, hati-hatilah dalam berpikir kreatif. Jangan sembarangan dipergunakan. Ada pesan ilahi di dalamnya. Terdapat tanggung jawab moral dari Sang Pencipta langsung. Jangan asal bikin sesuatu bersifat kreatif, apalagi atas dasar hiburan semata. Jangan biarkan sesama kalian terbodohi karena kekreativitasan kalian. Apalagi jika mereka tertekan, terintimidasi, dan jadi seratus persen terpengaruh (beberapa penulis--ada yang memiliki karunia untuk mempengaruhi orang lewat tulisan-tulisan mereka). 

Yah, meskipun beberapa penulis sepertinya sudah disewa untuk menjalankan sejumlah agenda dari sejumlah oknum atas nama uang dan materi. Idealisme mereka sudah tergadaikan. Tak usah heranlah jika kita menemukan tulisan bermuatan negatif (ejekan, sindiran, paksaan, intimidasi, dan menakut-nakuti). Mungkin pada saat membuatnya (baca: proses kreatif), mereka memiliki sejumlah agenda. Bisa jadi mereka sudah dibayar atas tulisan-tulisan yang mereka buat. Hal seperti itu sudah terjadi sejak tahun-tahun sebelum masehi. Sepertinya selalu ada agenda dan kepentingan di balik sebuah tulisan dan hasil kreatif. Entah itu bermuatan positif dan negatif. Maka dari itu, berpikir cerdas dan bijaklah sebelum, saat, dan/atau sesudah mengonsumsi hasil kreatif seseorang.

(Baca "Hey, Kalian, Para Penulis")




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^