Friday, December 2, 2016

How Fiction Does Work



"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng." ~ II Timotius 4:3-4








Pernahkah terpikir bagaimana sebuah novel, lagu, maupun film bisa muncul di hadapan kalian semua? Mungkin banyak di antara kalian yang suka meremehkan para pembuatnya. Tanpa pernah berpikir bagaimana sulitnya menciptakan itu semua. 

Sebelumnya sudah pernah saya katakan ada beberapa orang yang hidupnya mengandalkan alam bawah sadar. Salah satunya para seniman. Itu berlangsung sudah lama sekali. Mereka saling bersaing mendapatkan ide, ilham, inspirasi, maupun hidayah. Tak peduli bagaimana mendapatkannya, entah harus mengintip isi pikiran dan hidup orang lain, main-main ke alam mimpi, maupun menunggu datang sendiri, ide itu harus mereka dapatkan demi hidup mereka, yang lalu itu semua dituangkan dalam bentuk tulisan, lagu, lukisan, patung, dan beberapa karya seni lainnya. 

Tapi tak semua dari mereka yang main kotor. Ada juga yang menunggu datangnya ide ke kepala mereka; bukan memburunya sampai tidak 'tidur'. Yang seperti itulah yang ilhamnya dari Sang Pencipta. Tanpa pernah disadari pula, dari segala ide itu, terkandung pesan ilahi di dalamnya. Tak heran kemudian muncul karya yang mengandung pesan di dalamnya. 

Lalu kita ambil contoh salah seorang penulis debutan, yang mana novelnya disalahartikan. Dia dianggap pembangkang yang cari sensasi dengan menulis seperti itu. Padahal saat itu dia tak tahu menahu soal itu semua. Dia hanya menuliskan apa yang datang tiba-tiba ke pikirannya. Tanpa disaring. Kenapa harus disaring? Seringkali agar tak terlihat itu datangnya dari alam bawah sadar (dan berisi nubuatan) yang datang ke pikiran dalam bentuk potongan-potongan peristiwa, banyak penulis harus serapi mungkin menyembunyikan segala pesan yang mungkin ada di dalam tulisan-tulisannya. Seperti itulah penulis tersebut, yang membuatnya kurang disukai rekan-rekan penulis lainnya. Dia hanya penulis apa adanya yang sering disalahartikan. 

Singkat cerita, karena baru pertama menulis tulisan cukup panjang, naskah awalnya berlepotan. Banyak kesalahan tulisan. Banyak pula beberapa bagian yang tidak runtut dan logis. Itu karena dia hanya menuliskan yang ada di pikiran. Ilham itu datang ke kepalanya, lalu ia tulis. Seperti itulah. Beruntung ada beberapa orang yang merapikan tulisannya, sehingga akhirnya sudah ada di rak sebuah toko buku, walau bernasib tragis: disembunyikan keberadaannya (seperti tengah menuliskan sebuah kitab terlarang saja). 

Cerpen-cerpen yang ia ciptakan juga sama prosesnya. Saat datang, ia tergerak untuk menulis. Kali ini ia menggunakan otak kirinya, sehingga cerpen-cerpen itu jadi enak dibaca semua orang. Seperti itulah cara sebuah cerpen--atau apalah namanya--bisa muncul. Proses kreatif seperti itu. Ada yang murni datang sendiri ke pikiran. Ada pula yang dipaksa dengan bantuan alam bawah sadar (mengintip pikiran, alam mimpi, dll). 

Lagu pun tercipta seperti itu pula. Begitu pun dengan sebuah gambar, yang prosesnya begitu rumit dan panjang. Sebab waktu yang dibutuhkan agar tercipta sebuah gambar atau sketsa itu lebih lama dari sebuah tulisan (fiksi) atau lagu. 

Itu baru sebuah tulisan fiksi. Belum lagi dengan terciptanya film--atau setidaknya sinetron atau FTV. 

Sebuah film pendek itu bermula dari sebuah naskah (script), yang mana harus menunggu datangnya ilham dulu (atau dicari dulu bagaimanapun caranya). Penulisnya harus menyendiri dulu. Mereka harus menepi dari keramaian. Umumnya itu dilakukan saat malam hari. Waktu terbaik selalu menjelang tengah malam. Kebanyakan desainer, pelukis, pemahat, penulis lagu, mereka seperti itu kerjanya. Harus menyepi dulu dan kebanyakan berlangsung di malam hari. Jarang dari mereka yang beraksi di pagi dan siang hari. Ilham lebih susah didapatkan di waktu-waktu seperti itu.

Oh, satu lagi, kebanyakan para seniman--atau mereka yang hidup di dunia kreatif--memang sudah dianugerahi Sang Pencipta satu karunia khusus. Tak banyak dari manusia di muka bumi ini yang sebagian besar hidupnya terus didatangi ilham. Ilham itu sendiri juga sama seperti nubuatan yang didapatkan para nabi terdahulu. Datang ke pikiran dalam bentuk potongan-potongan kejadian (dalam kata lain, penglihatan; yang bisa berupa penglihatan visual maupun penglihatan audio). Untuk beberapa hal, proses itu disebut juga sebagai lucid dream

Lalu kembali ke soal pembuatan film. 

Setelah naskah selesai, skenario sudah dibuat. Sudah saatnya divisualisasikan. Mereka, para kreatif, mulai memikirkan segalanya (bahasa kasarnya, berkhayal bagaimana jadinya film itu nanti). Mulailah mereka berkhayal film itu harus dalam latar tempat seperti apa, komposisi warnanya bagaimana, efek suaranya seperti apa, dan seterusnya yang kalian bisa pikirkan sendiri. Itu semua datang dari alam bawah sadar,... atau alam mimpi ( Tak heran juga ada yang menyebut para penulis--atau seniman--sebagai penjual mimpi). Bahkan termasuk pula harus menentukan para pemerannya (cast). 

Sumber: tomkuu
Pemilihan cast itu juga berdasarkan alam bawah sadar; mengandalkan sesuatu dalam diri mereka (extra sensory perception, atau ESP, yang tiap manusia punya). Pernah dengar yang seperti ini? 


Sumber: tomkuu

"Ah kalo novel ini dibikinin film, tokoh X cocoknya diperanin sama artis Y..."

Pasti di antara kita pernah berandai-andai saat membaca satu novel atau komik. Itu hal wajar. Nah seperti itulah cara pemilihan cast-nya. 

Para pihak yang bertugas memilih cast, bekerja seperti itu. Mereka baca dulu dulu tulisannya, lalu mereka 'baca' karakter tiap tokoh, dan terakhir membiarkan ESP mereka bekerja untuk menentukan siapa yang berhak memerankannya. Proses ini berjalan rahasia dan sangat hati-hati sekali. Itu semata dilakukan agar cerita itu sangat hidup. Yah karena tujuan dibikin film adalah untuk menghidupkan sebuah tulisan fiksi. Itulah juga kenapa rata-rata proses casting itu tertutup (dan rahasia). Jika berjalan terbuka, itu akan berjalan sangat panjang dan melelahkan. Jarang ada yang mau melakukannya. Prosesnya harus berjalan dengan kerahasiaan amat tinggi. Masing-masing harus bekerja sama, entah di alam sadar maupun alam bawah sadar. Segalanya harus diperhatikan, mulai dari penampilan fisik tokohnya, kebiasaan tokoh, maupun sifat dan karakternya.

Sumber: Blog Kabar Baik.
Oke, pemilihan cast sudah selesai. Film pendek akan diproduksi. Skenario sudah dibuat. Cast sudah. Yang lain-lain sudah pula.  Namun tetap, agar terlihat hidup, perlu ada sentuhan akhir, apa itu? Tiap tokohnya harus dihidupkan. Apalagi jika film itu diangkat dari tulisan pribadi seseorang. Yah walau dari awal film itu dibuat karena itu... mengintip pikiran dan hidup orang lain. Dan, agar terlihat hidup, walau sudah didapatkan pemeran yang cocok. Ada kalanya antara aktor/aktris dan tokohnya memiliki banyak perbedaan. Semisal sang aktor yang kurang begitu tahu soal dunia spionase, padahal tokohnya seorang agen rahasia. Jalan paling efektif ialah mrogo sukmo (astral projection, yang diawali proses sleep paralysis), roh lepas dari raga (yang paling gampang dipelajari lewat ilmu bela diri atau meditasi; atau ada pula yang menguasainya karena bawaan lahir seperti seorang penulis debutan yang novelnya ditolak lalu disembunyikan), lalu menghampiri seseorang di alam mimpinya. Tujuannya satu: tokoh yang diperankan bisa berjalan natural dan terlihat sangat hidup; bukan sekadar tokoh imajiner belaka.

Film itu sendiri bahasa Inggris-nya movie. Movie dari kata move, yang artinya bergerak.

Memang tak semua pelaku dunia perfilman (atau entertainment) bekerja untuk kepentingan sang iblis. Masih banyak yang bekerja demi memuliakan nama Sang Pencipta yang sudah menganugerahi satu karunia, talenta, dan bakat yang tak semua orang punya. Namun tetap saja, percayalah, di balik sebuah film, buku, lukisan, maupun patung, selalu ada pesan tersembunyi di dalamnya. Entah itu pesannya 'buruk', entah itu pesannya 'baik'.

Sumber: Blog Kabar Baik.
Dan, film merupakan jalan paling efektif pula untuk menyebarkan suatu paham, atau propaganda tertentu. Lewat tulisan, sebetulnya bisa. Namun proses mencernanya sangat lama sekali. Bisa-bisa pesan gagal tersampaikan. Lalu si pembaca gagal dipengaruhi. Lewat suara, bisa lebih cepat, tapi tetap terasa lama. Ada kalanya suara bisa diabaikan. Bagaimana jika si calon pendengar dalam kondisi telinganya tertutup? Sementara lewat film, itu bisa berjalan sangat cepat. Apalagi jika dikemas dengan menarik. Perpaduan gambar dan suara sangat cepat untuk menyebarkan propaganda atau paham yang bertujuan mempengaruhi pikiran. Film juga termasuk media brain wash. Itulah kenapa menitipkan ideologi paling efektif dan efisien adalah lewat media film.

Kurang lebih seperti itulah cara fiksi bekerja. Begitulah kurang lebih bagaimana film dibuat. Yang mana naskah harus ditulis dulu; dan itu memaksa penulisnya harus menyepi dulu dari keramaian. Dia mencari si ilham dalam sepi dan mungkin dalam kegelapan. Kemudian dari naskah, film tersebut kemudian siap diproduksi. Hati-hati juga, naskah itu mungkin tidak selamanya buah pikiran satu penulis. Bagaimana jika hasil buah pikiran dari banyak penulis? Tak heran jika bisa disusupi ideologi dan propaganda tertentu (oleh sekelompok orang). Lalu cast dipilih pun tak lepas dari alam bawah sadar. Juga, saat film tengah diproduksi. Sehingga dari awal dituliskan naskahnya hingga syuting, segala prosesnya tak akan pernah jauh-jauh dari keberadaan alam bawah sadar. Entah itu ilham, ESP, maupun astral projection.



No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^