Wednesday, December 14, 2016

Extra Sensory Perception



Dulu, mungkin karena pengaruh tontonan televisi atau bacaan, aku selalu beranggapan bahwa indra keenam atau extra sensory perception itu sesuatu yang wah. Luar biasa sekali untuk mereka yang memilikinya. Dulunya seperti itu. 
Lalu muncul perasaan iri dan cemburu.






Hingga lambat laun, aku mulai sadar. Mungkin saja itu semua sudah dirancang seperti itu. Mungkin ada agenda tersendiri (dan itu bukan datang dari Tuhan). Siapa tahu saja ada sekelompok orang yang diuntungkan dengan anggapan yang kuperoleh dari tontonan dan bacaan.

Awalnya sadar sih waktu dua tahun lalu, waktu Mami masih hidup. Itu saat Januari 2014. Ada seorang pesulap lewat sebuah acara televisi yang mengatakan bahwa tiap orang sebetulnya sudah memiliki indra keenam atau extra sensory perception, yang baru berjalan fungsinya saat salah satu atau semua indra (dari panca indra) mati. Mulanya aku menengarai bahwa pasti pesulap itu berkelakar. Eh salah satu teman bloger  (namanya Felix Salvata) bilang, "X benar, Bang.  Dia nggak bohong. Emang tiap orang punya."

Lalu aku dan si bloger itu terjun dalam sebuah diskusi di sebuah aplikasi messsenger. Bukannya sok rahasia, tapi datanya berada di ponsel lama yang sudah raib (karena dicopet dengan cara tak biadab). Dan, tibalah saatnya menyimpulkan.

Yah memang tiap orang punya.

Tiap orang punya.

Tiap manusia memiliki yang namanya indra keenam, extra sensory perception, atau apalah namanya. Cara kerjanya memang tak seperti indra-indra tertentu. Tak tiap manusia juga sadar akan keberadaan indra yang satu itu. Namun cara kerjanya mirip seperti indra perasa. Kalau kalian merasakan dingin, pasti menggigil, bukan? Nah indra keenam itu juga seperti itu. Contoh, kalian tengah pergi ke sebuah tempat angker. Otomatis bulu kuduk kalian merinding. Atau saat menonton film horor, kalian akan melakukan aksi-aksi tertentu. Yah ambil contoh, ngumpet di balik gorden.

Indra ini juga sifatnya rahasia. Tak banyak dibicarakan dalam ilmu pengetahuan karena memang agak sulit dijelaskan. Apalagi dijelaskan secara komprehensif. Indra yang satu ini pemberian dari Sang Pencipta agar tiap manusia dapat merasakan sendiri hal-hal yang sekiranya bisa membahayakan hidup atau nyawanya. Bisa dibilang radar juga. Itulah kenapa, terkadang indra keenam disebut juga extra sensory perception. Ini alatnya Tuhan  untuk berkomunikasi dengan manusia, selain lewat mimpi. 

Pernah dengar dan alami juga kan, kasus seperti ini?

Kita mau pergi ke suatu tempat, lalu mendadak urung karena... "ah mendadak gue nggak enak badan,"

Nah, itu artinya indra keenam kita tengah bekerja. Sama seperti seekor kucing yang langsung menggaruk-garukan bulunya saat langit akan menurunkan hujan lebat. Atau tanaman putri malu yang langsung mengatup saat daunnya disentuh. Makanya, di post (Tak Ada yang Istimewa dari Mereka), aku bilang tak ada yang istimewa. Karena memang itu bukan sesuatu yang maha luar biasa. Tergantung orangnya sadar atau tidak sadar; sering mempraktekan atau tidak. Seringkali ada, lho, orang yang diam-diam sering menggunakan, namun menganggapnya 'normal'. Ada, itu betulan. Orang-orang seperti itu biasanya yang lebih sering menggunakan perasaan (feeling), intuisi, atau naluri mereka. Yah, apa yang kusebutkan itu beberapa contoh nama lain dari indra keenam. 

Tak heran juga orang yang sering mempraktekan sensor pribadinya tersebut sering dianggap-remeh. Karena umumnya binatang dan tumbuhan itulah yang hidupnya cenderung mengandalkan naluri. 

Au percaya ada beberapa orang yang dikaruniai Tuhan talenta-talenta aneh. Itu seperti bisa mengangkat barang berat, bisa melihat makhluk halus atau astral, bisa melepas roh dari raga, bisa baca karakter dari wajah, bisa baca masa depan dari garis tangan, bisa membaca cepat, bisa menghapal banyak hal, atau bisa melihat tembus pandang, hingga bisa melihat masa depan. Namun, bukankah itu sesuatu hal biasa? Tak ada yang istimewa. Nabi dalam sebuah kitab suci yang bisa ini dan itu, jumlahnya banyak. Ada ribuan. Bahkan ada yng menolak disebut nabi karena tak mau ditunjukan; ingin dianggap biasa saja. Ingat juga, Tuhan menciptakan tiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Alhasil, tak ada yang perlu diistimewakan dan dilebih-lebihkan dari indra keenam, apalagi dari sejumlah orang dengan bakat unik bin aneh bin ajaib bin tak biasanya. Kadang kita saja yang suka terperangah berlebihan. Memang apa yang super dari seorang pemain sirkus yang bisa berjalan di atas tali? Lah, baru tahu yah, sekelompok ninja di Jepang wajib menguasai jurus berjalan di atas tali?! Kalau belum bisa, kelulusannya ditangguhkan. Serius, lho, itu betulan ada. Aku dulu pernah menontonnya di Discovery Channel. 

Hmmm... kadang dari situ aku jadi merasa kasihan dengan beberapa orang yang disindir, diejek, dikucilkan, dianggap wah, hingga diberikan julukan atau stigma yang aneh-aneh (atau yang bukan-bukan) hanya karena orang-orang sekitarnya menganggap dirinya berperilaku tak biasanya, aneh, dan agak menyimpang. Lah, bukankah, sekali lagi, Tuhan menciptakan manusia itu unik dengan segala kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri?

Sekali lagi, tak ada yang istimewa dari 'mereka'. Sebab, nilai 100 itu selalu milik Tuhan. 

Piye tokh? Hehe.....