Wednesday, November 12, 2014

ANOTHER FICTION: Naif








           
            Huh! Padahal peristiwa sudah terlampau lama, entah mengapa warga desa itu – tak kunjung menerima eksekusi Entis. Mereka selalu beranggapan Entis polos. Senaif tampangnya yang bagi sejumput orang, culun. Entis tak bersalah, Entis tak bersalah. Begitulah selalu mereka dengung-dengungkan tiap hari. Sampai senewen aku mendengarnya.
            Aku… akulah salah satu dari sekian regu penembak. Hingga kini, aku masih saja dirundung penasaran mengapa mereka bisa tahu fakta aku termasuk orang ke sekian yang jadi eksekutornya. Temanku,.salah satu anggota regu petembaknya juga berkata, “Ada salah satu sipir yang membocorkannya. Dengar-dengar, si sipir itu menaruh respek pada Entis.”
            Entis, Entis. Dirimu membuatku termangu-mangu. Mengapakah warga masih tak bisa menerima dirimu itu salah satu pelaku pengeroyokan sepuluh tahun silam? Bukti sudah cukup lengkap. Saksi-saksinya juga sudah banyak mengatakan dirimu bersalah. Terkadang aku merasa mereka semua terkecoh dengan wujudmu yang polos. Kukira, kamu itu  setan bersayap malaikat.
            Yah itulah kamu. Bagaimana tidak. Bukti sudah lengkap, kamu masih saja mengelak. Oh tidak. Mengelak masih lebih baik. Dengan mengelak, bisa saja pelaku memang tak bersalah. Tapi kamu tidak, Entis. Komplet sudah bukti yang amat memberatkanmu, tutur katamu malah selalu tak kunjung dipahami tim penyelidiknya. Mereka sampai mengiramu mengidap suatu penyakit kejiwaan kronis. Namun bagiku, bukankah tiap pelaku kriminal memang pengidap gangguan kejiwaan kronis? Andai jiwanya tak terganggu, mereka tak akan melakukan hal-hal keji yang sulit dinalar: pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi.
            Entis, Entis. Sungguh dirimu membuatku tak bisa merasakan tenangnya berjalan-jalan di desa ini untuk menikmati matahari tenggelam di cakrawala barat. Sebelum kau dieksekusi, kupingku belum panas. Tapi sekarang berbeda. Kemana pun melangkah, banyak mata memandang sinis, banyak suara memproduksi cibiran-cibiran yang menusuk sukma. Padahal sudah berjuta kukatakan, aku hanya menjalankan kewajiban. Begini-begini, aku regu petembak profesional. Belum lagi, aku sudah meminta maaf sebelum-sesudah eksekusi.
            Sepertinya itu semua tak berlaku. Mereka benar-benar menganggap Entis itu makhluk polos. Insan lugu, yang menurut mereka tak akan mungkin melakukan pengeroyokan – apalagi hingga menyayat leher korban. Sekali lagi, aku duduk di sebuah musala. Di bawah bokong, ada sajadah yang menyejukan jiwa dan raga. Kudendangkan ayat-ayat suci sekedar meminta hidayah dan pertolongan Sang Khalik. Ya Rabb, bebaskanlah hamba-Mu ini dari kesukaran.
            Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, seorang ustad menghampiri. Ustad itu mengenakan baju koko berwarna magenta. Ia memandangiku tersenyum seraya berkata, “Kamu masih terganggu dengan Entis?”
            Kuhentikan rapalan ayat-ayat suci. Aku tengok dan menjawab, “Iya, Ustad.”
            Namanya Yusuf – setampan Nabi Yusuf Alaisalam – dan ia berujar lagi, “Tak usah masduk begitu. Santai saja.”
            Aku protes. “Bagaimana tak masduk, Ustad? Segala pergunjingan mereka membuat hidupku tak tenang. Jalan sedikit, ada mata nyalang. Pergi kemanapun, suara-suara bernada minor memukul gendang telinga.”
            Sang ustad nyengir. “Entis, Entis. Hidup-mati, kamu selalu saja bikin susah.”
            Aku melongo. Rasa penasaran menggelitik tiap kerja syarafku. Siapa sangka tokoh keagamaan di kampung ini pro denganku.
            “Ustad kenal dengan Entis?” tanyaku mengernyitkan jidat.
            “Jelas.” jawab Ustad Yusuf mantap. “Entis itu semasa kecil badung. Suka bolos dan mengganggu rekan sebayanya. Semasa remaja, ia pernah ketahuan merokok ataupun tawuran di lingkungan pesantren. Namun karena dirisaukan akan merusak nama baik kampung dan ayahnya, pengelola pesantren tak jadi mengeluarkannya. Tak heran aku, ia bisa menjadi pelaku kriminal.”
            “Hanya saja, warga selalu menganak-emaskannya. Pemuda itu sungguh berwajah dua. Mereka tak tahu saja, orang yang mereka dukung itu punya dua kepribadian. Satu sisi, berkepribadian layaknya domba; sisi lain menjelma jadi serigala.”
            “Terus mengapa Ustad tak membantu kami menetralisir masalahnya?” selaku.
            “Buat apa?” ujar Ustad Yusuf. “Pengelola pesantren, masjid, dan musala terus memberitahukan kebenarannya. Hanya saja warga selalu keras hatinya. Mereka tak percaya. Entis itu benar-benar sukses menciptakan citra positif – atau mungkin saja ia menyuapnya. Ah, tapi dosa, bukan, ber-suudzon itu?”
            “Tapi warga perlu tahu,” potongku lagi. “walau kebenaran itu menyakitkan.”
            “Sudahlah, ikhlaskan saja,” Ustad Yusuf memukul pundakku. “Bukankah seseorang yang tak membuka aib orang lain, kelak Allah akan menutup pula aib orang itu di hari kiamat. Lagipula pembalasan itu murni hak Allah. Tak baik kita melangkahinya.”
            Ustad Yusuf ada benarnya juga. Pembalasan itu hak-Nya. Soal bagaimanakah amal ibadah Entis itu urusan dia dan Allah. Tak bagus pula, kita berusaha mengambil hak absolut-Nya. Walaupun begitu, aku sudah melangkahi-Nya. Aku dan kawan-kawan regu petembak mengambil hak-Nya untuk memanggil pulang salah satu umat-Nya. Tapi itu juga kulakukan karena negeriku ini masih pro-hukuman mati. Mumet.
            Pertemuanku dengan Ustad Yusuf benar-benar mencerahkan. Ia laksana malaikat. Kedatangannya membawa mukjizat. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, mata dan bibir mereka jadi berubah simpati padaku. Akhirnya telinga dan mataku dapat beristirahat dari perihal-perihal negatif. Sungguh petang yang menyenangkan. Tukang  ojek yang mencibiriku berubah perhatian. Mereka malah tersenyum. Ganjil.
            “Eh, Pak Andi, mau pulang?” tawar salah satu dari mereka menawariku motor tambangnya itu. “Mau saya antar, Pak?”
            Aku tersenyum kecut.
            Sepertinya ia berbakat meramal. Tapi ia bukan peramal. Awam pun akan bertanya, “Pak Andi masih marah?” jika melihat ke belakang – apalagi di belakang penuh borok.
            Tak kujawab. Anehnya, aku malah naik motor bebek bututnya itu. Dengan girangnya, karena bisa menebus kesalahan, ia menyetarter motor bututnya itu. Mungkin dari spionnya, ia bisa tahu aku mangkel.
            “Pak Andi, saya mewakili warga sekampung minta maaf yah. Saya juga baru tahu bagaimana jeleknya Entis itu. Selama ini, ia selalu bersikap manis tanpa diketahui busuknya hatinya. Semuanya tertipu oleh topeng yang ia kenakan.” Ia membuka keheningan yang sudah cukup lama berlangsung setelah meninggalkan pangkalan.
            “Oh begitu.” timpalku. “Ada angin apakah kalian semua bisa insyaf?”
            “Barusan keluarganya Entis meninggalkan kampung. Sebelum pergi, mereka meminta maaf hampir ke seluruh warga. Di sela-sela itulah, ayahnya bilang Entis memang layak dieksekusi. Dua hari lalu, mereka memberesi kamar Entis dan tahulah mereka apa yang terjadi sebenarnya. Di lemarinya, penuh senjata-senjata dan juga botol-botol minuman keras. Bahkan ada pula, selinting ganja.”
            Kala ia menceritakan itu semua, suara deruman motornya bagaikan tak terdengar. Seolah-olah suara-suara di sekitar kami berdua terisap – entah karena apa. Suara si tukang ojek jadi terdengar begitu nyaring. Nyaring senyaring-nyaringnya.
            Tak ada niat aku untuk membalas ucapannya. Niatku… hanyalah memandangi langit-langit malam. Malam ini, langitnya berwarna pekat sekali. Sebetulnya tak terlalu pekat. Sebab ada beberapa bintang tampak, juga sinar rembulan begitu terangnya. Terhadap purnama itulah, aku menengadah ke atas dan berucap syukur pada Tuhan dalam sanubari. Yah Rabb, terimakasih atas campur tanganmu.

*****

            Arkian, sepuluh tahun sudah terlewati. Sudah lama kutinggalkan profesiku sebagai regu eksekutor. Aku sadar, profesi yang kujalani waktu itu hanya menambah panjang daftar dosaku. Sudah aku melangkahi Sang Khalik, belum lagi ditambah dengan dosa-dosaku yang lainnya. Kini aku menekuni profesi lainnya. Jadi dosen.
            Aku juga sudah tak berada di daerah itu lagi. Aku tinggal bermil-mil jauhnya dari daerah itu. Walaupun demikian, Entis tetap ada di memoriku. Ia tak hanya azal, tapi juga sungguh kekal selamanya. Walau sempat dibuat kelimpungan, ia mengajariku suatu hal: jangan membeli satu makanan hanya karena bungkusnya menarik hati.
            Pelajaran itu masih tertanam di ulu hatiku. Tertancap begitu kokohnya. Saking mengempat kokohnya, itu membuatku tak langsung cepatnya menarik kesimpulan dalam berhadapan dengan kasus-kasus homogen. Selalu berpikir dua kali dan membuatku tampak lambat memutuskan oleh rekan-rekanku di sekretariat. Tapi bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Biar lambat, asal selamat.”?
            Seperti saat ini. Aku dan rekan-rekan dosen dihadapi oleh suatu kasus. Kasus ini sama seperti kasus Entis. Hanya berbeda sedikit. Bukan kasus pengeroyokan, namun kasus plagiat. Pelakunya tak kunjung mengakui perbuatannya. Ia terus berbicara berputar-putar seperti sebuah komedi putar. Bikin pusing saja. Apakah ini selalu menjadi pembawaan manusia yang tak pernah mau mengakui kesalahannya? Padahal nyatanya ia sudah terbukti bersalah.
            Pelakunya juga menyerupai Entis. Beberapa dosen tak percaya ia melakukan plagiasi hanya untuk lulus semata. Semasa kuliah, ia bukan langganan kasus. Tak pernah absen kuliah maupun kena cekal karena masalah absensi. Teman-teman mahasiswanya juga beranggapan sama. Tapi bukti sudah lengkap. Skripsinya sudah terbukti mengandung unsur plagiat. Ancamannya… kalau tak batal kelulusannya, ia bisa dipidanakan.  Sepertinya sanksi kedualah yang akan ia terima. Sebabnya, ia selalu berdalih.  Tak pernah mau mengakui kesalahannya. Kalau saja mengakui, bukan tak mungkin nilai skripsinya hanya di-C-kan. C minus; itu di atas D, dan nilai memalukan. Walau memalukan, setidaknya masih lumayan daripada dibatalkan atau dipidanakan.
            Sulis. Itulah nama mahasiswa kasus plagiasi ini. Lima huruf dan akhiran berbunyi mirip dengan… Entis. Cara ia menatap pun sama. Nanar – seolah-olah ia polos. Naif – padahal bukti kejahatan sudah mengarah padanya. Apakah Sulis merupakan reinkarnasi Entis? Entahlah. Lagipula di dalam agamaku tak mengenal istilah ‘reinkarnasi’. Namun mengapakah bayangan Entis bisa tampak dalam paras Sulis?
Sulis. Kasihan  nian dirimu, nak. Kau tak bisa mengelak lagi. Kau bahkan lupa menghapus jejak-jejak plagiasimu di komputer jinjingmu sendiri. Alih-alih ingin membuktikan dirimu tak bersalah, sang komputer malah mengkhianati tuannya sendiri. Miris nian. Kejahatanmu memang tak tercium orang-orang terdekat; tapi barang matilah yang membuka kedok polosmu itu.
            Entis. Sulis. Kejahatan akan tetap kalah oleh kebaikan. Tak ada gunanya memasang tampang naïf atau beraksi polos. Sesungguhnya Tuhan maha tahu. Ia sendiri yang akan membuka tirai-tirai yang menyelubungi kejahatan. Itu terbukti pada Entis dan Sulis.

            Naif. Terkadang aku bertanya-tanya. Masih adakah orang naïf di dunia ini? Kasus Entis dan Sulis membuatku sangsi masih ada orang naïf di dunia. Sebab bagiku, naïf hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi sesuatu yang tak ingin dipertunjukan. 

3 comments:

  1. bau bangkai tidak bisa di sembunyikan ya :)

    ReplyDelete
  2. Dalem beneerrr!
    Gue udah baca duluan doong dari AOmagz! hehe

    Http://AOmagz.blogspot.com

    #SekalianPromo
    #hehehe

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^