Dulu, iya. Aku sempat beli exc beberapa selebgram atau figur publik. Tidak hanya Shania Gracia ini, ada beberapa yang aku beli. Aku melakukannya, karena berharap bisa menyelesaikan satu per satu masalah aku. Terlebih masalah-masalah aku yang berkaitan ke hal-hal... yang kerap membuat aku disebut Tukang Halu. Eh ternyata, bukannya ada kejelasan, bukannya terselesaikan, malah menambah drama baru. Bertambahlah drama-drama yang membuat kepalaku tambah pusing saja. Membuat hidup aku menjadi tak nyaman.
Akhirnya aku ambil keputusan untuk tidak membeli exc mereka yang jauh lebih tenar dari aku lagi. Pertimbangan aku yang lainnya lagi itu, percuma juga beli mahal-mahal, nanti tiap bulan bisa saja ditagih biaya, eh, sudah beli mahal-mahal, akrab pun tidak, yang ada, aku malah dijadikan alat oleh beberapa figur publik atau selebgram yang sudah aku beli exc mereka.
Lebih baik tanggapi saja sewajarnya. Berkomentar saja di postingan-postingan media sosial mereka jika memang aku tertarik untuk berkomentar. Lagi pula, selain author, aku pun seorang content creator, dan sempat menjadi KOL Influencer, well, alangkah lebih bagus lagi, jika dijadikan bahan untuk setiap media sosial aku.
Memang caraku ini terasa agak lama dan melelahkan. Setidaknya aku terhindar dari drama-drama tidak menyenangkan yang hanya membuat kepalaku pusing saja.
Lantas, kalau aku mundur ke belakang, ke awal-awal nge-blog, tidak perlu aku kejar-kejar, tidak perlu beli exc tiap bulan, kalau memang sudah saatnya, pasti datang juga. Dulu, aku ingat, saat beli Shitlicious-nya Alitt Susanto, di luar dugaan, penulisnya, yang seingatku, pernah datang ke blog ini. Kalau tak salah ingat, memang pernah berkomentar.
Selain itu, ada beberapa orang tenar di masa itu, mereka pernah ikut berkomentar di IMMANUEL'S NOTES. Selain Alitt, ada Irvina (yang pernah tampil di Dahsyat), lalu ada Clara Canceriana, Ci Lia (yang menulis Seoulmate), dan... eh, aku baru sadar sesadar-sadarnya, Mas Adi Chimenk dan
Mas Raja Faizal Maradona itu sempat akrab dengan penulis bernama Valiant Adi Vabyo tersebut.
Aku baru sadar juga, pekerjaan sebenarnya Mas Gaphe dengan jargon "yumilah yumiwati"-nya. Apalagi Mas Gaphe sempat mengaku dia itu seorang penerjemah, dan pernah menunjukkan sedang menerjemahkan omongan seorang pembicara dari balik bilik penerjemah. Bisa jadi Mas Gaphe pernah bertemu dengan orang-orang tenar, dan tanpa harus beli exc.
Nah, yang terakhir itu, aku ingin seperti itu juga. Seperti dugaanku tentang Mas Gaphe. Biarlah berjalan secara alami. Tak terkesan mengejar-ngejar. Tak terkesan ambisius apalagi mengarah ke arah obsesi.
Alhasil, aliran uang bisa terkontrol, minim drama pula, hingga tak perlu menambah beban pikiran.
Yah, daripada keluar uang mahal-mahal, meski ada yang gratis juga, eh, si figur publik atau selebgram, hubungannya dengan kita, yah, begitu-begitu saja. Kenal akrab juga tidak. Apa bedanya pula kita dengan ratusan penggemarnya? Sudah jarang ditanya kabar kita, kita susah juga mau... apa... kepoin dia. Padahal, syarat menjadi teman, khususnya teman yang baik, kepo itu wajib, toh!?
Tidak kepo, yah, tidak akrab, maka belum menjadi sahabat yang baik. No kepo, no being bestie.
Selain itu, aku memang orangnya susah akrab dengan seseorang. Dengan salah seorang sahabat aku, itu juga orangnya belum meninggal, dan aku bisa akrab dengan dirinya, itu membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Itu juga keakraban aku dengan dirinya, aku tidak perlu membayar apa pun.
Makanya, dengan alasan seperti itu, aku tidak akan lagi mengeluarkan uang berlebih dan tak berfaedah hanya untuk akrab dengan figur publik atau selebgram mana pun. Biarlah aku pikirkan ulang caranya seperti apa, yang lebih bersahabat, tidak menuai drama, atau membuat kepala pusing.
Kalau aman, lanjut. Kalau dirasa akan ada drama, lebih baik jangan dulu.


Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^