Melihat galeri foto aku belakangan ini terasa seperti merangkum realitas kehidupan yang luar biasa kontras. Dari satu scroll ke scroll berikutnya, emosi aku diajak naik turun. Itu gara-gara aneka berita, yang muali dari berita duka, gejolak sosial-ekonomi yang membuat dahi mengernyit, urusan perut sehari-hari, hingga euforia perayaan global.
Berikut adalah catatan refleksi aku tentang apa yang sedang terjadi di sekitar aku saat ini.
1. Kehilangan dan Awal yang Baru (Refleksi Iman)
Minggu-minggu ini dipenuhi pengingat tentang fana-nya hidup. Aku melihat kabar duka beruntun: berpulangnya Bapak Arcy Rito Tauran (65 tahun) pada 20 Juli 2026, disusul berita duka dari keluarga besar SMA Tarakanita Gading Serpong atas berpulangnya Bapak Johanes Kristwira Nursidik, ayahanda dari salah satu siswa kelas XII. Kehilangan ini membawa kedukaan mendalam, namun juga meninggalkan pesan iman yang kuat tentang akhir pertandingan hidup yang baik.
Di sisi lain, hidup terus berjalan. Di sekolah yang sama, romo RD. Deodatus Salto Manulang memimpin Misa Syukur 25 Tahun sekaligus Misa Awal Tahun Ajaran 2026/2027 dengan tema "Berjalan Bersama Kristus Menyongsong Masa Depan". Sebuah kontras yang indah: ada yang menyelesaikan tugasnya di dunia, ada yang memulai lembaran baru dengan penuh harapan.
2. Carut-Marut Sosial dan Jeritan Ekonomi
Saat membuka media sosial, realitas pahit langsung menampar. Ada infografis yang cukup meresahkan dari UNESCO yang menyoroti bahwa Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan pengeluaran pendidikan paling rendah di dunia (hanya 1,3% dari PDB). Angka yang sangat ironis di tengah ambisi besar bangsa ini untuk mencetak generasi emas.
Tak berhenti di situ, badai ekonomi juga nyata di depan mata. Kelihatannya ada yang namanya krisis Industri sedang terjadi. Harga gas industri melonjak tajam hingga USD 23/MMBTU. Dampaknya mengerikan, 3 pabrik keramik besar di Bekasi berada di ambang kebangkrutan, dan sekitar 55.000 buruh terancam PHK massal.
Lalu, kita berpindah ke persoalan hukum dan toleransi. Di lini masa juga ramai soal penangkapan kasus korupsi atau pemerasan "Bu Etik si Pemeras dari Sukoharjo" oleh KPK, hingga sorotan dunia internasional terkait dinamika kebebasan beragama dan isu pembubaran tempat ibadah di tanah air.
Melihat ini semua, rasanya dunia sedang tidak baik-baik saja. Ada kecemasan tentang bagaimana nasib daya beli masyarakat dan stabilitas sosial ke depan.
3. Hiburan dan Pelarian Sehari-hari
Di tengah beratnya realitas di atas, untungnya hidup masih menyediakan ruang untuk bernapas dan tersenyum.
Sungguh euforia lapangan hijau yang luar biasa. Saat Spanyol berhasil keluar sebagai juara FIFA World Cup 2026. Pesta bola terbesar di dunia ini setidaknya menjadi hiburan massal yang sukses mengalihkan perhatian kita sejenak dari penatnya berita politik dan ekonomi.
Tentu saja, sedalam apa pun refleksi kita, urusan perut tidak bisa dinegosiasi. Aku sempat menyimpan infografis jenaka tentang "Resto Andalan Karyawan Pas Bingung Mau Makan Apa". Dari Solaria dan Bakmi GM kalau lagi standar, ditarik senior ke Wingstop, ditraktir kantor di Gyu-Kaku, sampai mode bertahan hidup di tanggal tua bareng Warteg Kharisma Bahari atau Warmindo.
Hidup di pertengahan tahun 2026 ini memang penuh warna. Ada duka yang harus diikhlaskan, ada harapan yang harus dirayakan, ada realitas negara yang harus dikritisi, dan ada kebahagiaan kecil—seperti kemenangan tim bola favorit atau sepiring mi instan di akhir bulan—yang harus disyukuri.
Oh, sebelumnya, selamat belajar untuk adik-adik aku di SMA Tarakanita Gading Serpong. Pun, untuk seluruh adik-adik aku yang masih bersekolah. Sekarang sudah aktif belajar, kan?!
Sebetulnya tulisan ini bisa lebih panjang. Namun, bagian-bagian lainnya berada di ME DÉJÀVU. Terlalu aneh, soalnya. Lebih baik yang aneh ada di sana.
Hehehe.
Eh, aku menulis ini di tengah kondisi aku baru saja mendengar suara alarm mobil yang sebetulnya kencang untuk aku. Namun, saat aku pernah bertanya ke tetangga aku, dia bilang biasa saja. Katanya, "Suara mobil Papa kamu juga gitu, tapi saya nggak pernah complaint."
Lalu ada suara tukang mi ayam mengetuk-ngetuk kentongan. Untungnya tidak ada yang berteriak-teriak, "SO BASO!"











Comments
Post a Comment
Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^