Cristiano Ronaldo Gagal Juara Piala Dunia Lagi

 
















Perjalanan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia selalu terasa seperti kisah tentang waktu yang tidak pernah berpihak.

Pada Piala Dunia 2006, ia masih menjadi pemain muda yang berada di bawah bayang-bayang generasi emas Portugal. Sosok seperti Luís Figo masih menjadi ikon utama tim, sementara Ronaldo baru mulai menunjukkan bahwa suatu hari nanti dialah yang akan menjadi wajah sepak bola Portugal.

Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 2010, Figo dan sebagian besar generasi emas telah pensiun. Ronaldo pun naik menjadi pusat permainan. Sayangnya, kualitas skuad Portugal saat itu belum sepenuhnya mampu mengimbangi levelnya. Ada kesan bahwa ia harus memikul beban terlalu besar untuk membawa negaranya bersaing dengan para favorit.

Memasuki Piala Dunia 2014, kualitas Portugal sebenarnya mulai meningkat. Namun, nasib kembali tidak berpihak. Mereka langsung tergabung dalam grup yang sangat berat bersama Jerman, Amerika Serikat, dan Ghana yang saat itu juga dihuni banyak pemain berpengalaman di liga-liga top Eropa. Di luar lapangan, muncul pula berbagai kritik terhadap kepemimpinan pelatih, sementara Ronaldo sendiri datang ke turnamen dengan kondisi fisik yang jauh dari ideal.

Piala Dunia 2018 memberi harapan baru. Portugal datang dengan status juara Eropa setelah menjuarai Euro 2016. Namun, status tersebut justru membawa ekspektasi yang sangat tinggi. Ronaldo tampil luar biasa di fase grup, termasuk mencetak hat-trick ke gawang Spanyol, tetapi Portugal kembali gagal melangkah jauh.

Lalu tibalah dua Piala Dunia terakhir. Di sinilah ironi itu terasa paling nyata. Portugal akhirnya memiliki salah satu skuad terbaik dalam sejarahnya. Nama-nama seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Rúben Dias, Rafael Leão, Vitinha, hingga João Cancelo menunjukkan bahwa kualitas tim sudah jauh lebih merata dibanding era-era sebelumnya.

Namun, di saat Portugal memiliki generasi yang begitu kuat, Cristiano Ronaldo justru telah menjadi pemain paling senior. Usia adalah sesuatu yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun, bahkan oleh salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa. Ia tidak lagi memiliki kecepatan, daya ledak, dan stamina seperti ketika berada di puncak kariernya.

Mungkin itulah ironi terbesar dalam perjalanan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia. Saat ia berada di puncak performa, Portugal belum cukup kuat untuk membantunya. Ketika Portugal akhirnya memiliki skuad yang sangat lengkap, sang mega bintang sudah melewati masa emasnya.

Mungkin bukan karena Cristiano Ronaldo membela tim nasional yang salah. Mungkin, ia hanya lahir pada generasi yang tidak pernah benar-benar bertemu dengan waktu yang tepat.














Tulisan dibuat setelah merayakan kecil-kecilan kemenangan Argentina atas Mesir 3-2. Aku pun sedang menunggu Swiss versus Kolombia. Semoga Kolombia menang. 







Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~