Hanya Kenal atau Sungguh Mengenal?

 










Terjadi di tahun 2015 yang lalu, pasca meninggalnya Mami. 

Ada seorang bapak. Si bapak adalah pemilik usaha rental dan fotocopy. Singkat cerita, langsung saja, dia bercerita padaku bahwa ia menceritakan pada aku bahwa istrinya pernah memimpikan dirinya  sebelum ia dan istrinya berkenalan, berpacaran, dan menikah. 

Dari obrolan lebih lanjut dengan si bapak tersebut, muncul sebuah petuah yang sangat bagus. 

Jika kita saat tengah tidur lalu bermimpi, dan di mimpi, kita berjumpa dan bercakap-cakap dengan seseorang yang cukup akrab, itu seperti kita berada di sebuah toko buku (atau perpustakaan) dan melihat banyak buku menarik. Seberapa dalam kita mengenal sosok yang kita lihat di alam mimpi, itu tergantung dari seberapa keras usaha kita makin mengenal sosok tersebut di kehidupan nyata. Tak peduli dengan anggapan orang, mau seperti apa halangannya, jika ingin mengenal lebih dalam, berusahalah lebih keras. Pada akhirnya, kita akan berkata sendiri, "Dia nggak begitu, kok. Jangan sembarangan men-judge."

Itu sama seperti sebuah buku menarik di toko buku (atau perpustakaan). Mau mengenal seperti apa buku itu, tergantung pula seberapa keras kita terus menerus coba mencari tahu bukunya seperti apa. Mau teman kita bilang jelek, kita tidak peduli dan terus menerus mencari tahu sendiri, lalu mungkin kita akan berkata, "Buku ini sangat luar biasa menarik! Suka banget!"

Apa kita hanya kenal? Atau, benar-benar mengenal? Semuanya tergantung usaha kita sendiri. 














Comments

PLACE YOUR AD HERE

PLACE YOUR AD HERE
~ pasang iklan hanya Rp 100.000 per banner per 30 hari ~