Mengenang Koko Ferdie

 







Credit to: Mas Win








Aku mengenal sosok bernama-pena Koko Ferdie ini dari sebuah buku antologi, yang diterbitkan oleh sebuah penerbit yang kelak menerbitkan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Judul buku antologi itu adalah "Suki Desu", yang sangat bertema Jepang-Jepangan. Ada karya Koko Ferdie di dalam buku antologi tersebut. Selain ada karyanya, ada kontak pribadi Koko Ferdie beserta penulis-penulis lainnya. 

Karena lagi gencarnya melemparkan banyak naskah ke mana-mana, aku mem-follow beberapa akun dari penulis-penulis yang karyanya tertuang di dalam buku antologi tersebut. Salah satunya, Koko Ferdie. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Koko Ferdie mem-follow back akun Twitter aku saat itu. Aku langsung blingsatan. Pertemanan kami segera berlanjut ke Facebook dan grup-grup Facebook. Apa aku yang lupa, karena seingat aku, aku dan Koko Ferdie sempat berhubungan di Line, Instagram, dan grup-grup menulis di Facebook.

Untuk yang terakhir, aku diajari banyak sekali hal oleh Koko Ferdie. Selalu coba, coba, dan mencoba. Mungkin melalui Koko Ferdie, aku bisa mengenal beberapa penulis dan beberapa penerbit. Salah satunya, Raditeens, yang sudah menerbitkan empat judul novel (yang sejauh ini belum menunjukan perkembangan yang cukup berarti). "Kamisama no Cempe Kanefe" mungkin memiliki campur tangan seorang Koko Ferdie di dalamnya. Novel itu sendiri digodok di tahun 2013, yang mana aku kali pertama mengenal Koko Ferdie. 

Yep, sosok bernama Koko Ferdie itu sangat berarti untuk seorang Nuel Lubis. Ia sudah memberikan banyak sumbangsih untuk karir kepenulisan aku yang rasanya masih belum ada apa-apanya. Mungkin sosok Koko Ferdie ini membuat aku betah menunggu kabar novel aku itu kapan tayang di toko buku. 

Belum sempat aku bertemu dengan Koko Ferdie, pada pertengahan 2017 yang lalu, Koko Ferdie memilih untuk pulang ke pangkuan Sang Khalik. Aku jelas begitu kehilangan. Ingin sekali bisa kopi darat dengan Koko Ferdie, orangnya malah pergi lebih dulu ke alam lain. Sakit sekali, yang sesakit perjuangan seorang pejuang LDR, yang memulai hubungan dari internet, dan terpaksa putus karena kopi darat kali pertama yang tak berjalan dengan ekspektasi (ternyata si pasangan memilih untuk menikahi orang lain).

Terakhir, walau baru sedikit karya-karyanya yang aku baca, Koko Ferdie memang sosok penulis yang luar biasa. "You are My Best Friend" adalah novel yang sanggup membuat aku menangis hebat. Coba carilah sendiri di beberapa e-commerce dan belilah. Dijamin, itu merupakan novel yang layak baca sekali. Walau tipis, novel terakhir Koko Ferdie itu sangat layak dibaca. 














Comments

Place Your Ads Here