Evolusi Nuel Lubis Sejak Lulus dari Fakultas Hukum (2012-2021)

 














Tidak menyangka segalanya akan berlangsung seperti ini. Ada beberapa hal yang sama sekali aku tak pernah menduga itu akan terjadi dalam hidup aku. Tak terasa pula, aku akan sudah berusia yang ketigapuluhtiga. Sudah dua-tiba tahunan aku masuk ke dalam Club 30. Percaya-tak percaya, sudah banyak sekali yang aku alami. 

Di tahun 2012 yang lalu, aku resmi menyandang gelar Sarjana Hukum. Mami masih hidup. Masih ada Bang Rivai. Beberapa dari teman-teman aku masih berada dalam posisi yang sama (yang pada akhirnya aku ditinggalkan karena pencapaian-pencapaian mereka yang membuat mereka serasa menjadi dewa saja). Dulu aku paling suka membiarkan rambutku panjang dengan sendirinya dan aku biarkan awut-awutan. Di tahun itu pula, aku ingat wajahku pernah dipenuhi jerawat. Kata orang, menurut mitos, wajah berjerawat itu merupakan akibat dari keseringan memikirkan seseorang (versi jahatnya, sering berpikiran hal-hal porno). Nah loh, coba tebak, aku sering memikirkan apa? 

Sekarang, di tahun 2021, wajahku sudah bersih dari jerawat (mungkin akibat dari penggunaan Scarlet Whitening, hehe). Mami dan Bang Rivai sudah berbeda alam. Tak ada Dias yang aku sering ajak hang out. Beberapa dari teman-teman aku jadi sulit ditemani. Mendadak di kedua lengan aku, tumbuhlah otot-otot (yang bingung bagaimana caranya bisa bertumbuh). Aku mulai berani membotakkan rambut. Tak ada angin, tak ada badai, berat badan aku pernah turun drastis hingga lima kilogram (ah, mungkin karena keasyikan main Mobile Legends Bang-Bang). Lalu, ini yang aku sangat heran, makin lama kepala aku makin terlihat seperti bakso (di tahun 2012, wajah aku masih terlihat tirus). Makin menjengkelkan lagi, mulai ada uban (hiiy!).

Itulah beberapa hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Itu baru dari segi penampilan fisik dan keberadaan orang-orang terdekat--yang belum dari segi pemikiran, karakter, dan hal-hal lainnya. Itu baru dari sudut pandang diri sendiri. Belum dari sudut pandang orang lain. Mitos itu terbukti dengan sendirinya. Well, everyone will be sure change. Disadari atau tidak, perubahan itu pasti dialami oleh orang lain, entah itu perubahan secara fisik maupun perubahan secara karakter atau batin. 







Mami, Bang Rivai, Tulang Abner, Tulang Hinsa (searah jarum jam). 







Last but not least, yeah, I have to admit, it's true. The life does really go on at 30. Kenapa aku bilang seperti itu (terutama sebagai penutupnya)? Karena, sebelum usia 30 tahun, aku merasa kita seperti tengah bertualang dan masih dalam proses pencarian dan pembentukan. Di rentang usia 20-29, kita belum mengenal apa itu mawas diri. Disuruh introspeksi saja susah. Itu juga saat di mana kita ingin berteman dengan sebanyak mungkin orang. Melakukan hal-hal yang bertujuan untuk memuaskan hasrat dan/serta nafsu. Mana teman, mana musuh, itu belum terlalu terlihat. Itu semua baru terlihat di usia 30. Apa itu hidup dan tujuannya, baru kita ketahui di atas usia 30. Well, the life does really go on at 30. Am I wrong? 















Comments

Place Your Ads Here