Boleh Berbeda, namun Ternyata Tetap Sama











 




Tentang warnet ini, aku pernah membahasnya dua tahun lalu. Bisa baca: Nge-hedon di Warnet. Saat itu, aku menuliskan tentang pengalaman menyebalkan yang suka dilihat bocah-bocah saat aku tengah asyik menggunakan jasa dari warnet ini. Untuk kalian yang sudah lama memperhatikan IMMANUEL'S NOTES,  pasti tahu aku pernah kehilangan sandal di warnet ini, kejadiannya itu di warnet ini, yang tampak pada foto di atas foto. Saat itu, aku tengah mencari data-data untuk penyusunan skripsi aku. Selesai browsing, aku kaget sandalku hilang. Mau tak mau aku membeli sandal baru, dan harus kehilangan uang sekitar Rp 25.000. Omong-omong, tulisan yang dimaksud itu sudah dihapus dengan alasan yang, maaf, aku tak bisa ceritakan (sejak aku wisuda di 2012, ada beberapa tulisan yang aku sengaja hapus, memang).

Aku sangat berterimakasih kepada ZIP Laundry ini (yang dulunya warnet). Mulai dari pengumpulan data, scanning, hingga bantu mengetikan beberapa data, sering aku lakukan di warnet ini. Si empunya warnet juga cukup ramah, menurutku. Walau sudah beralih-fungsi menjadi laundry, kebaikannya tetap tak berubah kepada aku. Dulu, Cici yang punya warnet sering mengawasi sepeda dan sandalku agar tidak kemalingan lagi. Sekarang, aku sering terbantu dalam hal biaya laundry. Layanan laundry-nya pun sebagus dengan layanan warnetnya yang terdahulu. 

Untuk setiap novel aku, warnet ini kurang memiliki kontribusi. Terakhir aku menginjakkan kaki di warnet ini di tahun 2011. Begitu skripsi selesai, aku hampir tak pernah memasuki bangunan ini yang saat itu masih menjadi warnet. Saat aku kembali lagi di tahun 2018, blaaast, ia sudah berubah menjadi laundry. Kontribusi yang warnet ini berikan,  paling hanya berkontribusi kepada penulisan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Beberapa dialog yang ada seringkali merupakan hasil browsing aku di warnet ini. Maka dari itu, mungkin ada tulisan-tulisan dari sobat-sobat bloger yang tercantol ke dalam novelku yang berwarna utama coklat tersebut. 

Well, apa pelajaran yang bisa kupetik?

Tempat boleh mengalami perubahan, namun ternyata isinya sama. Tetap merasakan kenyamanan yang luar biasa. Yah, sebetulnya tak jauh berbeda dengan manusia. Dia boleh berubah, namun ternyata perubahannya tak mengurangi rasa respek aku kepada dia. 

Oh iya, tempo lalu ada yang mengajukan komentar--yang bisa dibilang komplain. Yang tidak melalui kotak komentar IMMANUEL'S NOTES, orang itu mengomentari tulisan sebelumnya (Riset tentang Jepang di warnet). Dia bilang tulisan aku itu terlalu frontal. Aku jawab saja di sini bahwa tulisan itu sudah kupikirkan matang-matang. Aku hanya menuliskan segala kesan dan kenangan indah aku tentang warnet tersebut, khususnya yang berkaitan dengan buku-buku aku. Setidaknya biar orang-orang tahu aku juga gigih dan ulet terutama yang berkaitan dengan setiap impian aku. Terima kasih juga atas kritikannya, yah. Terima kasih sudah membaca tulisan-tulisan aku yang receh ini pula.

Terakhir aku turut berdukacita atas hilangnya KRI Nanggala. Semoga cepat menemukan jalan keluar yang terbaik. 














Comments

Place Your Ads Here