Again, Kristoforus Bramandias in Memoriam

  












Selama Dias masih hidup, aku sering berjumpa dengan Dias. Aku dan Dias sering bertemu di Atmajaya dan Plaza Semanggi.

Apa yang aku dan Dias sering lakukan setiap berjumpa? Yah, layaknya seorang sahabat, paling mengobrol. Aku--dan beberapa teman lainnya--sering menjadi tempat curhat Dias. Aku dan yang lainnya seringkali memberikan saran. Aku menggunakan kata 'saran' karena kata 'saran' jauh lebih halus terdengar daripada kata 'nasehat'. Kami semua sahabat Dias. Sepertinya bukan kapasitas kami untuk menasehati Dias. Juga, Dias sepertinya sangat tahu apa yang harus dilakukan dirinya. Aku yang memberikan saran untuk Dias, malah yang lebih sering dinasehati. Berlaku juga untuk teman-temannya yang lainnya. 


Selain mengobrol, kami juga suka menonton bareng (kalau ada film menarik), sok-sokan menjadi pakar kuliner, kadang suka membaca beberapa buku menarik, hingga mengamat-amati lingkungan sekitar. Untuk aku sendiri, rasanya sudah banyak tempat yang aku kunjungi bersama Dias. Itu seperti Plaza Semanggi, Senayan City, fX Sudirman, Plaza Senayan, Grand Indonesia, Pasar Tanah Abang, Thamrin City, Gelora Bung Karno, Summarecon Mal Bekasi, Mal Metropolitan, hingga AEON MALL GARDEN CITY. Pokoknya, banyak tempat menarik yang aku datangi bersama Dias. 

Di sela-sela pertemuan aku dan Dias, aku suka menyempatkan diri untuk memperbaharui social media dan IMMANUEL'S NOTES. Itulah kenapa kubilang kadang beberapa kali Dias suka menyumbangkan ide untuk tiap tulisan-tulisan aku (baca: Mencoba Menggarami Sesuatu). Aku membantu Dias dengan cara membiarkan seorang Kristoforus Bramandias menyisipkan ide-idenya ke IMMANUEL'S NOTES. 

Dias juga yang menemani aku untuk inspeksi pertama setelah "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" masuk ke toko buku offline untuk kali pertama. Kalau aku memiliki permasalahan, Dias benar-benar membantu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kelebihan lain Dias: benar-benar apa adanya dan jarang sekali menghakimi. Mungkin itulah yang membuat Dias disukai banyak orang.

Satu kenangan yang sulit aku lupakan itu saat aku dan Dias menghampiri manager sebuah toko buku untuk bertanya perihal "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Atau, saat aku dan Dias pindah mal dari Plaza Semanggi ke Senayan City. Hujan turun dengan derasnya selama perjalanan. Ada angin ribut. Ada pohon nyaris ambruk. Itu terjadi di tahun 2017.

Atau, pada saat seorang pramuniaga mendadak jatuh sendiri. Itu terjadi pada tahun 2018. Di media massa, ada berita mengenai balkon dari gedung Bursa Efek Indonesia ambruk. Setelah kejadian si pramuniaga jatuh, hujan lebat turun. 


















Comments

Place Your Ads Here