Kisah Salib Pengampunan










Foto di atas adalah foto Salib Pengampunan. Salib Pengampunan itu berada di komplek biara Santa Anna dan Santo Yosef di Cordoba. Patung ini sangat menarik hati dan sukses menjadikan komplek biara tersebut menjadi salah satu destinasi para wisatawan, khususnya wisatawan rohani. 

Mengapa bentuk Yesus-nya seperti itu? Itu ada ceritanya. Rata-rata warga lokal pasti akan menceritakan kisah berikut ini. 

Pada suatu masa, ada seorang pendosa datang menghadap imam utama. Dia ke sana untuk mengaku dosa di bawah salib yang awalnya tubuh Yesus masih tegak seperti yang terdapat pada salib-salib lainnya. Seperti biasa juga, imam utama akan menarik denda untuk setiap pengakuan dosa. Si pendosa ini tak peduli dengan berapa denda dosa yang harus ia bayar. Yang penting rasa bersalah si pendosa itu hilang dan si pendosa itu bisa hidup dengan nyaman. 

Karena terus menerus si pendosa seperti itu, mendapatkan pengampunan dan mengulangi dosanya, si imam utama itu makin lama gerah juga. Suatu waktu imam utama mengancam, "Ini kali terakhir aku mengampuni dosanya."

Lalu, beberapa bulan kemudian, si pendosa datang lagi dan mengakui dosanya lagi ke hadapan imam utama tersebut. Kali ini sang imam utama menolak dengan tegas dan berkata, "Tolonglah, jangan mempermainkan Allah. Saya tak bisa membiarkan anda menghina-Nya."

Keanehan lalu terjadi. Pada saat imam itu menolak si pendosa, ia mendadak mendengar bisikan dari arah salib. Mendadak pula tubuh Yesus turun dari salib dan memberikan berkat pengampunan. Imam itu mendengar bisikan Yesus seperti ini: "Akulah yang menumpahkan darah untuk orang ini, bukan engkau."

Cerita di atas mungkin seperti dongeng belaka untuk yang kurang mempercayainya. Namun, aku percaya warga-warga lokal pasti begitu meyakini cerita di atas dengan iman mereka. Moral dari cerita di atas sederhana saja. Mau bagaimanapun seseorang minta maaf atau ampun, tugas kita hanya mengampuni dan memaafkannya. Karena Tuhan Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan hukuman kepada yang bersangkutan.







Comments