ANOTHER FICTION: Lima Kisah Lima Perempuan kala Banjir








Genre: Drama




















[Atikah]
Aduh, bagaimana ini? Padahal hari ini ada pelantikan manager baru di kantor. Tapi, gara-gara hujan deras yang turun semalam, beberapa titik di daerah Jabodetabek terkena banjir. Yang kudengar di radio barusan, aku disarankan untuk tidak naik KRL. Ada beberapa stasiun yang tidak beroperasi. Jalur relnya terendam air. Beberapa di antaranya adalah stasiun Tanah Abang dan Jatinegara. Temanku, Vania juga berkata yang sama. Tadi dia mengirimkan pesan padaku. Katanya, "Tik, kalo ke kantor, jangan naik kereta. Banyak stasiun yang kena banjir."

Hufft, terpaksa aku harus menggunakan jasa ojek online. Aku kira penderitaanku hanya berhenti sampai di situ saja. Ternyata masih berlanjut. Mungkin karena pengaruh cuaca buruk semalam, aku tak kunjung mendapatkan driver. Order aku gagal melulu. Mau tak mau aku harus naik ojek pangkalan. Aku harus bertemu si tukang ojek resek itu lagi. Dia tersenyum menggodaiku. Kuberikan saja sebuah senyuman palsu sebagaimana yang disarankan oleh seorang selebgram, Agustian.

Ponselku berdering. Vania lagi. Kali ini dia memperingatkanku jalan-jalan yang menuju kantor masih tergenang air. Banjirnya hampir sepinggang. Astaga, ini aku harus meneruskan perjalananku atau tidak? 

Setelah berpikir agak lama, aku memilih untuk terus melanjutkan perjalanan. Nasi sudah menjadi bubur, kan. Mau tak mau harus kuubah menjadi bubur yang enak. Lalu, aku pun melanjutkan perjalananku dengan menggunakan bajaj. Please, jangan tanyakan kepadaku berapa tarifnya.

[Risma]
Aku kembali mengeluh. Banjir di ruas jalan yang berada tak jauh di dekat rumahku inilah penyebabnya. Biasanya ruas jalan ini ramai oleh pengendara kendaraan bermotor. Namun, kali ini begitu lengang sekali. Kurasa, banyak yang berpikir mau lewat mana. Genangan di mana-mana, soalnya. Karena banjir yang makin tinggi inilah, beberapa pengendara sepeda motor jadi berhenti. Mungkin mereka takut mesinnya jadi rusak karena air banjir. 

Aku pun memiliki kekhawatiran yang sama. Apa aku bolos saja? Sepatuku ini sayang sekali sampai harus terkena air banjir. Membersihkannya lama. Mahal pula. Sepatuku ini produk impor langsung dari Italia. Huh.

Apa aku harus batal pergi ke sekolah? Kulirik jam yang berada di ponsel. Sudah jam enam dua lima. Pasti telat kalau aku paksakan datang ke sekolah. Nanti pasti aku kena hukuman Pak Ridwan. Kabarnya Pak Ridwan itu sangat disiplin. Sekali telat, yah telat. Mau itu telat karena banjir, tak jadi persoalan untuk bapak-bapak berkumis kotak itu. Konsekuensinya yang telat harus lari keliling lapangan sebanyak lima puluh kali. Mana yang kupilih? Lari keliling lapangan atau sepatu Italia ini kena air banjir?

Aduh, pusing tujuh keliling aku jadinya pagi ini. Pergi sekolah atau tidak, nih?

[Anita]
"PA!!!" teriakku pada suami tersayangku, Bang Ando, yang masih tidur di dalam kamar. "Papa, ke sini, Pa. Jangan molor mulu di kasur. Bantuin istri kerja, kek. Tuh, lihat, dapur kebanjiran. Atap bocor lagi. Nanti, begitu banjir surut, perbaikin genteng, yah!?"

Bang Ando membuka matanya dengan agak malas. Bibirnya ditekuk. Aku tahu dia mau berbicara apa. Bagaimanapun aku dan Bang Ando sudah lima tahun menikah. Kami sudah memiliki anak satu yang kami berikan nama Kelvin.

"Aduh, Ma, Papa capek, nih. Ntar aja dulu, yah, Papa bantu. Kasih kesempatan Papa molor dulu bareng lima belas menit."

"Oh, begitu, yah. Yah, berarti Mama gak bisa masak. Sarapan paginya ntar sore aja, yah."

Suamiku itu langsung bangkit berdiri. Inilah enaknya jadi perempuan. Terasa mudah sekali menyuruh laki-laki apalagi kalau sudah menikah. Aku tergelak lebar melihat aksi Bang Ando barusan.

Sembari mengamati Bang Ando membereskan keributan di dapur akibat hujan deras semalam, aku membuka Facebook. Kutuliskan sebuah status yang berisi, "Guys, hati-hati di jalan, yah. Jalanan banyak yang banjir. Kemungkinan besok masih hujan. Jaga kesehatan, Guys. Stay safe!"

[Natasya]
Pagi ini suatu perjuangan sekali untuk pergi ke kantor. Perjalanan yang tadinya hanya empat puluh lima menit, mendadak menjadi dua jam. Belum lagi, saat aku keluar dari stasiun Tanah Abang, aku begitu kerepotan untuk memanggil satu driver ojek online. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai kudapatkan satu nama driver yang menurutku cukup antik. Namanya Amin Ya Allah. Aku mau tertawa saat membaca namanya.

Semenit-dua menit kemudian, Amin datang menjemputku. Kami lalu terlibat obrolan maha serius namun bercanda. 

"Neng, bagus yah pemandangannya," ucap Amin nyengir. Aku bisa melihat sekilas cengiran tersebut dari kaca spion. Amin tak jelek amat wajahnya. Mungkin wajah suamiku kalah daripada wajah Amin. Kenapa Amin tak mendaftar untuk menjadi model majalah saja?

"Bagus apaan, Bang? Air di mana-mana. Airnya kotor pula. Banyak tikus keliaran. Hiiy." Aku memasang tampang jijik.

"Lah, kan bagus, Neng, pemandangannya. Banyak kolam ikan di mana-mana. Tuh, lihat, ada kodok juga. Bocah-bocah berhasil nangkepin ketam juga." jawab Amin sambil menunjuk ke arah beberapa bocah yang tengah asyik mencari ikan. "Terus, airnya bisa dipake buat belajar berenang, kan, Neng."

Aku tertawa miris. Bisa saja Amin ini. "Tapi, kasihan, Bang, pada telat semua. Masa dua bulan banjir mulu?" 

"Lagian, salah siapa coba? Kok kerjaannya bikin kolam mulu sejak Januari kemarin? Bikin stadion bola kan bagus, ketimbang bikin kolam ikan. Saya heran, kenapa gak sebelumnya aja yang ngelanjutin masa baktinya. Bagus banget padahal kerjanya."

Haha. Aku terpingkal sembari memegangi perut. Amin ini bisa saja. Kenapa Amin tak ikut audisi stand up comedian saja? 

[Tiara]
PENGUMUMAN

Karena situasi Jakarta dan sekitarnya yang banjir merata, dan beberapa akses jalan menuju kampus yang tertutup oleh banyaknya genangan air, aktivitas perkuliahan hari ini  dihentikan.

Tertanda
Sekretariat fakultas Ekonomi

Ah, senang sekali aku membaca status dari Mbak Agnes. Kampusku diliburkan sampai banjir surut (yang entah kapan). Hari ini aku bisa di dalam kamar sambil melanjutkan hibernasiku.

Aku langsung menjalankan rencanaku selama ini. Sudah sejak bulan Desember kemarin, aku ingin menyelesaikan menonton "Stranded on the Land with You". Namun, karena kesibukanku di kampus, juga kesibukanku untuk kegiatan-kegiatan lainnya, sampai sekarang belum terlaksana. Aku merasa sekarang inilah saatnya. Terimakasih, Tuhan, sudah mau menjawab doaku, walau sepele sekali terdengarnya.

Langsung saja aku ketik nama situs streaming tersebut. Kucari nama drama Korea tentang sepasang kekasih yang telah lama berpisah, namun akhirnya bisa berjumpa di sebuah pulau kecil nan menawan. Ini drama yang sangat romantis, menurutku. Kata teman-teman di kampus, aku harus menonton episode terakhirnya. Langsung saja kumainkan episode tiga puluh lima--tiga episode sebelum episode terakhirnya.

Di saat seperti ini, terdengar teriakan Mama. Mama memintaku untuk membantunya membersihkan segala kotoran akibat hujan. Dapur rumahku berantakan sekali. Kalau begini, kapan bisa berleha-lehanya?


PS:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang tak ada kaitannya dengan tempat, kejadian, atau tokoh apapun. Walaupun demikian, beberapa hal tertentu dari cerita ini mengacu ke pengalaman aku sendiri. Cerpen ini pula masih terinspirasi dari pengalaman beberapa teman yang mereka curahkan di akun media sosial mereka.

Comments