Seminggu Nuel Lubis bareng Tukang Jualan (Street Food)
















Hari senin
Yang menjual tahu Sumedang di daerah ini lumayan DEP SEDEP. Setiap kali aku ke daerah Kota Moderen, aku selalu memaksakan diri untuk menghampiri tukang tahu Sumedang tersebut. Renyahnya pas di mulut. Cukup sebanding dengan harganya. 

Hari selasa
Susah memang mencari makanan yang murah meriah di kawasan Gading Serpong. Rata-rata tempat kuliner di kawasan ini menyediakan menu dengan harga yang tak cukup murah. Belum lagi, keberadaan pedagang kaki lima juga susah ditemukan. Aku sangat bersyukur bisa menemukan tukang nasi rames di seberang tempat karaokenya. Di jam 12 siang ini, aku bisa menemukan kuliner murah meriah seperti tukang rames ini, itu sudah sebuah mukjizat.

Hari rabu
Hujan turun mendadak. Lumayan deras. Aku terpaksa berteduh di rumah salah seorang warga. Eh, mendadak tukang cakwe lewat. Aku panggil saking tergiur dengan aromanya. Wah, makan cakwe yang dilumuri sambal di tengah derasnya hujan, itu sangat luar biasa!

Hari kamis
Akhir-akhir ini, isi dagangan pedagang kaki lima di sini makin beragam, yah. Contohnya itu hari ini. Tukang jagung manis ini yang kumaksud. Ada saja yang menjual jagung manis keliling. Rasanya sangat DEP SEDEP. Kombinasi jagung, keju, dan susu kental manis itu sangat menggugah selera. Sering saja berjualan di daerah ini, yah, Bang. Hehe.

Hari jumat
Memang nasi uduk merupakan jajanan yang paling diincar untuk dimakan pada saat sarapan pagi. Aku tak mau mengantre juga. Terpaksa aku membeli nasi uduk yang tak jauh dari sekolah dasar ini. Walau tak banyak yang beli, nasi uduk yang dijual si ibu tua ini tak kalah DEP SEDEP dengan para saingannya yang lebih memiliki banyak peminatnya.

Hari sabtu
Sekarang semangkok mi ayam menjadi Rp 10.000. Mahal, sih. Apalagi porsinya juga tak banyak. Tapi apa daya, aku harus makan. Aku belum sempat makan siang juga.

Hari minggu
Tidur siangku terganggu. Kencang sekali suaranya. Ternyata ada tukang harum manis tengah lewat. Boleh juga, apalagi aku sudah lama tak mencicipinya. Terburu-buru aku keluar rumah juga. Aku panggil keras-keras, dia menoleh, aku pun memesan rambut nenek. DEP SEDEP!


PS:
Tulisan ini diusahakan tersaji dalam bahasa Indonesia EYD, yang tanpa kosa kata asing. Kata 'DEP SEDEP' itu ciptaanku untuk menggambarkan kelezatan suatu hidangan kuliner. Itu macam 'mak nyus'-nya Bondan Winarno.





Comments