[YUK PESAN YUK] Misi Terakhir Rafael - Ai Shin'Yuu - Amoreureka - Cualacino - Kamisama no Cempe Kanefe












[GABRIEL HUTAGALUNG]
Selelahnya diriku, aku paksakan diriku untuk membuka komputer. Membuka folder surat elektronik kepunyaanku. Aku hanya penasaran kenapa kelakuan Becky jadi rada aneh. Tak biasanya.

PING

Belasan ping aku daratkan ke kotak dialognya. Tak ada balasan dari Becky. Padahal Becky tengah online. Oke, aku mencoba berpikir positif. Mungkin Becky tengah sibuk dengan sesuatu sampai tak sadar pacarnya yang berada di Melbourne memberikan belasan ping padanya. Mungkin Becky tak sengaja perutnya melilit, lalu harus masuk ke kamar mandi. Mungkin Becky tengah sibuk belajar. Mungkin Becky tengah makan. Ah, puluhan kemungkinan ada di kepalaku.

Aku mengembuskan napas berkali-kali. Gemas sekali aku. Bayangan mimpi beberapa hari lalu kembali datang padaku. Yang kulihat, aku menyaksikan Becky bermesraan dengan beberapa laki-laki di sebuah klub.











"Ai Shin'Yuu" di depan Kedai/Dapur Mama SS yang berlokasi di Perumahan Bona Sarana Indah.

[JESSICA KOBAYASHI]
Kalau aku menonton adegan percintaan di beberapa drama televisi, rasanya mudah sekali untuk mengucapkan cinta. Tokoh-tokohnya mengutarakan 'I love you' itu sangat mudah sekali, segampang membalikan tangan bayi saja.

Prakteknya, ya Tuhan, aku sekelas dengan Elia. Jarak bangkuku dengan bangku Elia itu tak terlalu jauh. Walaupun demikian, kata-kata itu terasa sangat sakral sekali. Begitu susah diucapkan. Sementara hati ini suka panas sekali saat mendapati Elia tengah bersama beberapa perempuan, khususnya yang bernama Grace Nasution.

Astaga, aku jahat sekali! Grace itu kan sahabatku. Gracia itu sahabatku sejak sekolah dasar. Tak seharusnya aku berpikir yang sejahat itu. Ayo, Jessica, jangan pernah coba lagi berpikiran jahat terhadap sahabatmu sendiri. Persahabatan lebih penting daripada cinta juga.








Nuel Lubis dan "Amoreureka" tengah mejeng di Mal Alam Sutera.

[MORDEKHAI STEVANO]
"Ya udah sih, Bang. Kalau suka, bilang aja ke Kak Sakura,"

Aduh, Dean ini bicaranya gampang sekali. Pada kenyataannya, itu tak mudah dilakukan. Lagian, aku punya pertimbangan tersendiri kenapa aku tak kunjung mengutarakannya ke Sakura. Sakura kan baru putus dari Dicky. Aku tak mau menjadi bemper. Aku tak mau saat berpacaran nanti, Sakura terus menerus mengingat-ingat Dicky, yang juga rivalku di dunia per-wotagei-an. Bagiku, harus ada jarak. Ada waktunya. Berikan waktu untuk Sakura mengikis hancur perasaannya untuk Dicky.

Tapi.....

Aku tertawa sendiri. Kenapa menyatakan cinta itu terasa sulit sekali? Tidak hanya ke Sakura. Dulu, saat aku masih pelajar SD, aku jadi hanya berdiri melamun. Padahal, gadis incaranku itu sudah berada di depan mataku. Dia memegang tanganku alih-alih memberikan pulpen padaku. Yang ada, aku hanya berkata, "Makasih yah, Remi," Berulangkali seperti itu. Aku gagal menyatakan cinta pada Remi. Dalam hati ingin menyatakan, apa daya mulutku ini berkata lain. 








"Cualacino" di salah satu ruko Premier Park 2, Tangerang.

[FELIX LENGKONG]
Haha. Mendokusai. Menyebalkan sekali para seniorku di Pierrot. Apa sih. Aku kan menjadi single dengan alasan yang sangat kuat. Lagipula perempuan-perempuan di sini tak ada yang cocok dengan seleraku. Entah itu yang asli Jepang, entah itu yang ekspatriat--khususnya yang berasal dari tanah airku sendiri, Indonesia.

Ah, Indonesia. Tuhan, kapan aku bisa kembali ke Indonesia lagi? Berbeda dengan adikku, si Naomi, aku lahir di Jakarta. Jakarta itu ibukota dari Indonesia, kan. Aku hanya menyimak perkembangan Jakarta dari media. Rasanya belum puas, jika tak ke Jakarta langsung. 

Jakarta, Indonesia, Jakarta, Indonesia. Dua kata itu terus mengusik di pikiranku. Aku hanya cengar-cengir sendiri. Kuletakan dulu tablet ini. Tergesa-gesa aku membuka browser. Situs agen perjalanan yang menjadi incaranku. Mungkin ada jadwal penerbangan ke Indonesia dengan biaya yang sesuai dompetku.

Ah, sialan. Iklan pengganggu, dasar. Iklannya menyebalkan. Biro jodoh begitu. Aku lumayan tergelitik dengan kata 'soulmate'. Haha. Apa mungkin belahan jiwaku berada di Indonesia? Oh iya, perempuan-perempuan yang tinggal di Indonesia itu seperti apa?





"Kamisama no Cempe Kanefe" di depan sekolah Markus, Tangerang. Tak lupa, ada mural bergambar Ibu Lernita Purba dan Mendiang Endi Hutapea.

[NAOMI KAWAGUCHI]
Aku tergelak saat menyaksikan kelakuan adikku, Minami. Sebegitunya dengan pacarnya itu. Oh iya, siapa nama pacarnya itu? Esra, kalau aku tidak salah ingat. 

Mencoba mengingat nama pacarnya saja, serasa ada yang mengungkitku. Si dia. Siapa, yah, namanya? Ingatan pertama: dia ini dulunya cengeng. Sedikit-sedikit menangis. Gampang sekali keluar air matanya. Menurutku, dia itu laki-laki paling cengeng yang pernah kutemui. Bahkan, saat aku masih di Tokyo pun, belum pernah ada lelaki seperti dia. 

“Jangan nangis dong! Kamu itu cowok, masak nangis sih?” 

Satu dialog muncul di otak. Sebuah pesan dari masa lalu. Ah, aku ingat, namanya Obed. Obed itu bagaimana kabarnya, yah? Apa si cengeng itu sudah memiliki pacar? Apa mungkin lelaki sepenakut itu memiliki pacar? 

Aduh, apa sih aku ini? Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Kenapa aku tak begitu suka dengan ide dia sudah berpasangan? Apa mungkin.....







Untuk "Kamisama no Cempe Kanefe", "Ai Shin'Yuu", "Cualacino", dan "Amoreureka", silakan pesan ke raditeenspublisher@gmail.com









[MARIA]
"Kak,"

Dengan berat, aku memaksakan diri untuk menoleh ke arah adik semata wayangku, Agatha. "Apa?"

"Iya, aku tahu, Kak. Kakak segitu cintanya sama Bang Diaz. Tapi, kayaknya Bang Diaz kelihatannya nggak sayang sama Kak Maria. Kayak bertepuk sebelah tangan gitu. Apa kita nggak sebaiknya pindah dari sini? Ke Italia atau ke Jepang, yuk, Kak."

Aku hanya mengendikan bahu. Aku bingung harus menjawab apa. Yah, namanya juga sudah cinta. Apalagi, aku tahu Diaz  sebetulnya sayang dengan aku. Hanya saja, Diaz tak bisa menunjukan cintanya dengan benar saja. Dibalik judesnya Diaz, ada sebuah cinta yang luar biasa. Aku sangat bisa merasakannya.

"Jadi, gimana, Kak?" tanya Agatha tak sabar.

"Udah, kita di sini aja, Agatha," ujarku tersenyum. "Ini kan wasiat Papa dan Mama juga. Wasiat itu pamali jika dilanggar. Lagian, Kakak merasa harus berada di dekat Diaz, walau Diaz masih terus menerus dingin ke kakak."

Agatha tertawa. "Ya, terserahlah. Aku sih betah-betah saja di sini. Yang aku pikirin, yah Kak Maria."







Comments

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^