Rasa Bahagia & Rasa Sedih







Dicomot dari kata-kata Mattia, teman Remi.








Aku habis menonton REMI yang episode terakhir. Lalu, akibat menyaksikan sang tokoh utama yang mellow begitu, aku mendadak teringat akan seseorang yang kukenal di 2015 silam. Salah satu kejadian di tahun yang sama, yang di Setiabudi One (yang juga teringat akan seseorang yang memberikanku kopi rasa susu kocok) itu juga kembali teringat di kepalaku. Aku lalu cengar-cengir penuh kegemasan (yang semoga alam semesta juga ikutan gemas #SemestaGemas hehe). Kenapa? 

Haha. Sebab, heran saja aku. Apa tak boleh seorang laki-laki itu menangis apalagi menangis karena ibu kandungnya meninggal dunia? Belum lagi, setahuku, tangis merupakan salah satu bentuk emosi manusia seperti layaknya tawa dan marah. Kenapa tiap lelaki menangis itu dihakimi yang bukan-bukan (seperti dianggap bencong)? Lalu, tiap perempuan tertawa ngakak itu juga mendapatkan perlakuan yang sama, itu kenapa juga? 

Bingung aku, kenapa begitu. Oh iya, maaf baru mempertanyakan sekarang. Dulu, aku kesal juga. Namun, entah kenapa aku baru terpikirkan untuk dijadikan bahan tulisan sekarang ini. Dan, menurutku juga, tak apa lelaki menangis, tak apa pula perempuan tertawa ngakak. Jika itu bisa membuat mereka plong, lalu kenapa? 

Oh iya, di balik kesedihan, ada kebahagiaan. Di balik kebahagiaan, ada kesedihan. Saat kita tengah bahagia, mungkin tanpa kita sadari, cepat atau lambat, bakal muncul kesedihan. Sebab, well, aku percaya juga (yang sebab kata-kata di picture itu ambil dari REMI; kata-kata Mattia), tiap kita tengah bahagia, pasti kita akan terpikirkan juga bahwa mungkin saja  ada yang jadi sedih (atau tengah bersedih) atas kebahagiaan yang kita rasakan. Dan, hey, bukankah rasa sentimentil itu juga bagian dari kesedihan. Kalau kita tengah bahagia, bukankah secara refleks kita ingin membagikannya dengan orang lain? Ingin membagikan itu pasti karena terbawa oleh rasa sentimentil tersebut. Ya, nggak? 

Haha.

Post yang sungguh untuk menertawakan sesuatu yang ada di belakangku. Aku seperti mau bilang: Hey, Kawan, aku memiliki alasan khusus kenapa aku semenye-menye itu saat 2015 kemarin. Antara aku dan ibu kandungku, kami sangat dekat secara emosional. Tak bisakah aku masih berduka atas kepergiannya? Haha.

Ah, sudahlah. Kalau dibaca ulang, tulisan ini seperti sebuah pembenaran. Eh, tapi anggap saja, ini hanya self-reminder. Pengingat untuk aku agar tidak terlalu bahagia atau terlalu sedih. That's it.







Comments