Demi Mereka, Aku Sering Menuliskannya







Oh, kalian salah, Nuel Lubis tidak berada di Bali dalam foto berikut ini. Itu masih di Tangerang, kok.










Mungkin buat para pembaca IMMANUEL'S NOTES (terutama yang sudah membacanya sejak 2010) pasti terheran-heran kenapa aku lumayan sering bercerita tentang diriku sendiri. Entah itu masa lalu aku, entah itu kegemaranku, yah pokoknya it's all about me

Bukan, bukan untuk seseorang, kok. Walaupun demikian, tetap saja memang ada kaitan ke manusia. Aku membuat IMMANUEL'S NOTES menjadi lebih bersifat pribadi, itu demi "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Sejak 26 Mei 2018, aku sadar novelku yang terbit sejak 18 Maret 2016 itu memiliki pembaca yang di atas 100 orang. Total penjualan hingga detik ini saja sudah hampir 500 buku (setengah ribu, Cuy!). Atau, mungkin lebih. Pastinya, secara logika saja, novelku itu sudah memiliki pembaca. Mungkin juga sudah ada yang menyukainya. Alhasil, aku jadi berpikir, mungkin sudah saatnya. It's show time, I guess, I am going to write about myself very personally. Tanpa perlu, tanpa harus diminta, kesadaran sendiri saja, aku tergugah untuk menulis tentang diriku sendiri lebih sering lagi. Hitung-hitung, aku belajar sebagai (calon) penulis biografi. Begitu. 

Apalagi--yang selain untuk para pembaca kisah cinta Gabriel dan Mikha--aku juga belajar membaca situasi bahwa namaku tengah jelek. Itulah dua dari sekian alasan kenapa aku sering bercerita tentang hidupku sendiri. Yah, harusnya aku sadar ini selayaknya dimulai sejak 2010 kemarin. Pada dasarnya, blog itu kan sejak awal dikenal sebagai jurnal pribadi, yang bahasa kasar abang-abang warnet, buku harian online. Seyogyanya IMMANUEL'S NOTES lebih bersifat personal. Saat membaca old post-nya saja, aku miris banget. Jangankan aku yang jarang banget menulis tentang keseharianku, keluargaku, hingga teman-temanku, foto-foto pribadi aku pun jarang terunggah ke IMMANUEL'S NOTES. Tak heran, banyak yang mencibir negatif aksiku yang sering bercerita tentang diriku sendiri; tentang yang suka mengunggah foto selfie sendiri akhir-akhir ini.

Well, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bagi para pembaca buku-bukuku, kalau dirasa kurang, bisa sering bertandang ke IMMANUEL'S NOTES untuk mengetahui lebih dalam tentang diriku sendiri. Yang juga, lebih baik menyelidiki sendiri daripada menduga-duga apalagi termakan kata-kata orang lain. Aku janji aku akan lebih sering bercerita tentang aku sendiri. Yah, itu tentang masa lalu aku, aktivitas aku, hingga setiap kegemaran aku. Aku sadar, kok, ada tanggung jawab cukup besar saat novel aku berada di toko buku, yang lalu dibeli oleh ratusan pasang mata. Aku mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih emosional lagi dengan  tiap pembaca yang masih malu-malu (Penulisnya kalah pemalu, nih! ๐Ÿ˜…). 

That's it

Oh iya, silahkan beli buku-buku aku, yah. Kalau informasi tentang aku masih kurang dari IMMANUEL'S NOTES, masih ada karya-karya aku lainnya. Ada yang bilang, karya (mau dalam bentuk apapun) merupakan cerminan jiwa dari si pembuatnya. Toh, aku juga masih butuh mencari sesendok berlian demi meneruskan hidup. Nggak salah, kan?!

Haha.

Eh iya, sedikit mau bercerita pengalamanku saat Februari kemarin. Ada teman bloger yang mengaku masih suka membaca IMMANUEL'S NOTES. Dia mengatakan itu padaku secara jaringan pribadi (baca: japri). Maaf, yah, tak bisa dimuat di sini. Sebab, dia sudah meminta aku untuk tak menyebut namanya secara sembarangan. Singkat cerita, aku tentunya senang banget, dong. Sejak 2010 hingga sekarang, yang bersangkutan masih suka bertandang ke IMMANUEL'S NOTES. Wah, hidungku kembang kempis! Mana tak hanya satu, tapi ada empat-lima orang!  ๐Ÿ˜„

Last but not least, ใ‚ใ‚ŠใŒใตใ‰ใ† ใ”ใ–ใ„ใพใ™。 ๅƒ•ใฎใƒ–ใƒญใƒƒใ‚ฏใ‚’่ชญใ‚“ใงใ„ใ‚‹ใ‚“ใ ใซใ‚ใ‚ŠใŒใจใ†!

Haha. Sudah benar, belum, grammar bahasa Jepang aku? Oh iya, aku buka bocoran, nih. Dulu, aku belajar bahasa Jepang itu karena seorang gadis. Itu terjadi di tahun 2013. Aku tak bisa lupa sama sekali. Saking berkesan sekali, aku membela-belakan diriku untuk belajar bahasa Jepang. Mulai dari beli bukunya di toko buku, ikut grup belajar bahasa Jepang, chat dan menulis status dalam bahasa Jepang, hingga menonton serta mendengarkan musik Jepang. Anyway, am I weaboo? I don't think so. Cuz, I just did it in the cyber world. Di dunia nyata, yah aku berbahasa seperti biasanya. Mana paham tukang ojek, aku ajak bicara bahasa Jepang. Haha. 

Sudah, ah, begitu saja. And, stay tuned!














Comments