Kompleksitas AI SHIN'YUU








Salah satu halaman "Ai Shin'Yuu".






Baca foto di atas, bukan? Itu salah satu halaman pertama dari "Ai Shin'Yuu". Aku lupa juga dari siapa. Yang jelas, seingatku, pernah ada teman yamg berkata bahwa novelku ini jauh lebih menarik (atau complicated?) dari pendahulunya, "Kamisama no Cempe Kanefe". Jujur, saat aku baca ulang lagi, aku merasakan hal sama. Padahal dunia teenlit-nya kental sekali. Namun, aku sangat merasakan tiap tokohnya seperti sudah dewasa saja. Padahal, mereka kuciptakan dalam usia remaja. 

Haha. Yah, itu menurutku sebagai author-nya. Aku tak tahu anggapan orang lain. Omong-omong, beli dong ke @raditeenspublisher@gmail.com agar aku bisa tahu tanggapan kalian terhadap isinya. 









Nuel Lubis di depan cermin. Lucu, nggak, sih? 😅






Oh iya, dalam novelnya tersebut, ada banyak sekali pengalaman hidupku yang kutuangkan,k khusus setiap kisah masa kecilku. Kadang pengalaman utuh, kadang pengalamannya kumodifikasi. Maksudnya, kan kita pernah mengalami penyesalan sehabis mengalami kejadian tak enak, lalu berpikir andai seperti ini, andai seperti itu. Nah, itulah yang kulakukan. Atau, bisa juga aku mengalami sesuatu hal, tak ada penyesalan, lalu timbul di pikiranku, "Kalau saat itu terjadi begitu, lucu kali, yah?"

Haha. 

Oh iya, mungkin ada hubungannya dengan isi novel tersebut, aku sedikit menceritakan latar belakang keluargaku. Yah, aku Nuel Lubis lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua orangtuaku itu Batak tulen. Padahal, seluruh dari kedua keluarga besarku sangat beragam (Artikan sendiri maksudnya 'beragam', yah). Lalu, Papi aku dulu pernah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Setneg. Sebelumnya, beliau pernah bekerja sebagai pengacara dan dosen. Sementara Mami merupakan ibu rumah tangga yang super sibuk. Beliau sempat menjalani usaha-usaha tertentu seperti jualan es mambo, usaha salon, usaha wartel, sampai usaha kafe di sebuah mal yang berada di Tangerang.

Kemudian, kita berlanjut ke saudara kandungku. Yang pertama, Kak Sely. Sebelum menikah di tahun 2013, dia sempat bekerja di law firm. Yang punya itu Junimart Girsang, yang merupakan saudara kandung dari Juniver. Karena aktivitasnya tersebut, dia bisa jalan-jalan ke beberapa tempat seperti Korea dan Thailand. Oh iya, Kak Sely sempat bersekolah di SMAN 1 Tangerang, yang sangat membanggakan sekali.

Yang kedua, Kak Irna. Dia merupakan guru kounseling di Bina Nusantara International School. Sebelumnya, dia sempat bekerja lumayan lama di Dian Harapan. Yang sebelumnya lagi, sebelum.kuliah S-2, Kak Irna sempat bekerja di..... aku lupa, tapi bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta--sebagai HRD. Sebelum kuliah di Universitas Indonesia (yang sama seperti Kak Sely), Kak Irna sempat sekolah di Sancta Ursula, BSD. Wow!

Terakhir, adikku, Kitty, yang sempat bersekolah di SMAK Penabur, Gading Serpong. Kitty yang lulusan Psikologi, Atmajaya, Jakarta ini sempat bekerja di beberapa tempat. Aku
hanya ingat dia pernah bekerja di PT. KAI, Traveloka, Binus, dan yang sekarang jika tak salah, dia bekerja di BTPN sehabis menamatkan S2 Psikologi di Universitas Indonesia.

Sisanya? Aku? Rasa-rasanya sudah sejak 2009, aku kelewat sering bercerita tentang hidupku sendiri. Narsis, yah, aku. Haha. Makanya, aku tak usah bercerita lagi. Haha.

Oh iya, apa yang kutangkap dari keluargaku itu suka aku ceritakan ulang ke dalam novel-novelku, khususnya "Ai Shin'Yuu". Di bagian yang mana saja, beli saja novelnya yang berharga Rp 45.000. Pokoknya ada beberapa adegan di dalam novelnya yang mana suka kebablasan curhat. Ada, kok, bagian aku tanpa sadar malah bercerita mengenai Papi yang sempat mendekam di LP Cipinang karena kasus korupsi (yang membuat masa kuliahku itu hanya ditemani oleh ibu kandung saja). But, whatever, I do still love my daddy! 

Jika membaca sedikit riwayat keluarga intiku, begitu kompleks, yah. Itu baru keluarga inti, belum keluarga besarku, loh. Wah, bisa satu buku setebal "Harry Potter: Deathly Hallow", kali, yah?! Haha. Tak heran, tiap membaca kembali "Ai Shin'Yuu", aku seperti tengah bercermin saja.

Begitu kompleksnya, begitu rumitnya. Sampai-sampai, aku mendadak teringat kata-kata seorang.komentator di Webtoon, yang mana berkata bahwa dunia tak seindah yang berada di Webtoon (atau fiksi). Sebab, yang berada di cerita fiksi itu sesungguhnya merupakan cuplikannya saja. Itu hanya puncak gunung es saja. Ke dalamnya lagi, yah lebih kompleks lagi. Lebih rumit dan penuh drama lagi. Maka dari itu, ada baiknya kita tidak sembarangan menghakimi atau cepat ambil kesimpulan terhadap hidup orang lain. Terkadang, dengan kita ikut campur masalah orang lain, jangankan masalah yang bersangkutan, kita jadi kebanjiran masalah. Nah!

Kompleksnya cerita "Ai Shin'Yuu" yang ditandai dengan keberadaan tujuh tokoh utama tersebut sesungguhnya terinspirasi dari apa yang ada di sekitarku, khususnya dalam keluargaku sendiri. Walau kompleks dan agak rumit, aku juga merasakan bahwa cukup banyak pemikiran yang..... ah, dangkal banget, sih! (Nanti kalau kalian baca langsung, kalian kelak paham kenapa)

Lagi-lagi, aku teringat dengan kata-kata seseorang (yang masih dari Webtoon). Dia menyarankan untuk jangan terlalu mengacu pada pemikiran orang lain, apalagi yang terbungkus sebagai teori. Haha. Itu malah ada di dalam "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Ada yang pernah bercerita padaku, aku dapat teori dari mana. Padahal, sudah kubilang, itu hanya opini, bukan teori layaknya ilmu pasti. Wah, apa aku sudah mulai benar-benar menjelma sebagai seorang penulis, yah?!

Last but not least, tulisanku kali ini sangat berantakan. Tak ada jentrungannya. Ah, ini kan hanya tulisan ngalor ngidul, yang sekalian mempromosikan "Ai Shin'Yuu"!














Comments