Doppelganger or Bilocation?








Linda di Gandaria City (sumber:akun Instagram yang bersangkutan).








Iseng saja aku main ke Instagram salah seorang teman kuliah dulu. Namanya Linda (plesetan dari Lintingan Daging Nikmat #plak #KemudianDitamparLinda #BecandaDeng #GituAjaMarah ). Apa akun instagram-nya, wah wani piro? Haha. 

Singkat cerita, aku mau bilang.....

.....paham tidak, kenapa Linda memberikan lingkaran ke perempuan tersebut? Yup, pakaiannya mirip dengan yang dikenakan Linda. Berasa janjian, padahal antara Linda dan perempuan tersebut tak sedang berjanji sebelumnya. Kenal dekat juga tidak. Murni orang asing yang baru kali pertama itu berjumpa di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan. Ajaibnya, andai tasnya juga mirip. Untungnya tak terjadi. Kalau dipikir, seram sih yah. Bagaikan bertemu doppelganger saja. Hiiy, aku atut, minta dipeyuk!

Haha. Anyway, aku pun pernah mengalami yang dialami oleh Linda. Sejak kecil, malah. Aku seringkali bertemu dengan mereka yang berpakaian mirip dengan aku, entah sengaja atau tidak. Kesal, sih, tapi ada senangnya juga. Walau lebih seringnya menjengkelkan hati. Sudah capek-capek tampil beda di tempat umum, sompret-nya ada yang berpakaian mirip. Kan, gimana begitu. Huh!

.....

Oh iya, yang dialami oleh Linda (juga yang sering kualami sewaktu kecil) ini agak mirip juga dengan fenomena bilocation, yang mana seseorang yang secara supranatural bisa muncul di dua tempat berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Eh, aku tahu istilah tersebut dari sebuah film Jepang berjudul sama, yang keluar di tahun 2013. Sebelumnya, jujur saja, aku sungguh tak tahu menahu tentang fenomena tersebut. 

Lucu, yak? Maksudku, bukan tentang doppelganger atau bilocation tersebut. Aku lebih merujuk ke pengalaman Linda tersebut. Kok bisa? Bagaikan sudah diatur saja, yah. Bertemu dengan seseorang yang pakaiannya nyaris mirip dengan yang kita kenakan. Kaget juga. Ada ngeri-ngerinya juga. Di bayanganku, bagaimana jika kelak aku bertemu dengan sepuluh orang yang berpakaian mirip denganku (yang identik dengan kemeja kotak-kotak, kaus merah, celana jins, dan sepatu kets tanpa tali). Seram, kan, yah. Yah, tapi sih, kalau mau berpikiran positif, senyumkan saja dulu, lalu tertawakan. Makanya, jadi lucu, kan. Aku saja hampir mau tertawa melihat vampire China, yang jalannya loncat-loncat dan jidatnya tertutupi kertas mantra. Lol!

At last, aku berbagi pengalaman lainku lagi. Ini bisa pengalaman horor, bisa juga pengalaman lucu. Jadi, ceritanya begini bermula saat aku masih sibuk skripsi dulu. Sepulang mengikuti bimbingan skripsi Bu Asmin yang cantik nan galak (kenapa gadis cantik selalu galak, yah?), kusempatkan dulu mampir di ITC BSD. Biasalah, aku wifi-an di foodcourt ITC yang berisik banget (tapi pewe). Kurang lebih ada dua-tiga jam aku hang-out di sana. Lalu, aku pulang. Masih di dalam mal, yang di sekitar lantai dasarnya, aku kaget. Aku bertemu orang yang mirip denganku yang bertinggi badan 163 cm. Bajunya pun mirip denganku (yang karena itu, aku sempat trauma untuk berpakaian merah). Berkacamata pula. Parahnya lagi, sama-sama culun. Wah, seram sih ini. Mana masih sore. Yang menyelamatkanku hanya satu. Itu: si cowok doppelganger ini kurus kerempeng dan agak jangkis. Dia sedikit lebih tinggi dari aku. Fiuh, untung, yah. Tapi karena si cowok, selama di angkot, aku terus menerus termenung sambil nyengir tak jelas. Kok bisa ada yang berperawakan sama denganku? Kukira, wajah ini langka. Tapi, bisa-bisanya ada yang menirukan. Sumpah, aku tersinggung (pada saat itu). Oh iya, omong-omong, aku sempat menguber-uber si cowok. Penasaran saja, karena mungkin aku bisa salah lihat. Sayang, Tuhan tak mengijinkan. Sebab, si cowok doppelganger bak menghilang dalam kabut. Seperti ninja saja.

Hmmm..... just for your information, pengalaman aku yang bertemu si doppelganger ini lalu kutuangkan ke  dalam "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Di bagian yang mana, beli dan baca novelnya, dong. Tapi, sedikit clue, itu pada saat Gabriel, dkk tengah berada di Sun Beach Inn, Bali.

Sedikit alert, karena mungkin ada pihak-pihak yang terganggu, aku hanya tengah bercerita saja. Share to share saja. Berbagi pengalaman saja. Tak ada maksud negatif apalagi jahat. Jika ada yang bisa dipetik, bagus. Tak ada hikmahnya, kan hanya tulisan ngalor ngidul saja. Hehe.









Comments