Antara Riset dan Curhat








Kadang ide untuk menulis (cerita fiksi) suka terlahir saat Nuel Lubis tengah bersepeda. Latar: Kota Moderen, Tangerang.









Mendadak teringat dengan beberapa momen di akhir 2014 yang lalu. Aku tengah sibuk di beberapa grup Facebook (yang hanya karena grup social media, mendadak pergaulanku jadi luas banget). Lalu, aku sempat mengalami beberapa konflik di grup tersebut (yang karena itu, aku sempat berkonflik dengan beberapa sahabat, yang salah satunya malah jadi perang dingin). Kemudian, aku sempat menjadi kontributor di beberapa situs dan blog. Salah satunya: AO-Magz yang founder-nya Aul-Howler yang beberapa kali sempat menjadi model sebuah brand, yang salah satunya itu Zalora (kalau tak salah, yah).

Oh iya, jika baca kembali blog AO-Magz, lihat beberapa tulisanku di sana, hmmm.....

.....aku tertohok pada cerpen ini: AMBO UPE & KOLONG WEWE. Well, walau sempat kujawab langsung, mendadak aku ingin  menjawabnya sekali lagi. 

Omong-omong, maaf, Ul. Aku sedikit berbohong saat itu. Aku belum berani mengakui yang sebenarnya. Sebetulnya kenapa bisa sedetail tersebut, jujur kukatakan bahwa cerpen itu terinspirasi dari pengalaman sendiri. Aku lupa dari mana sumbernya. Pokoknya, yang bisa kubilang, aku sejak kecil lebih suka mendengarkan daripada mengobrol. Aku cukup bisa dibilang pendengar yang baik (walau, sompretnya beberapa kali suka mengantuk dan menguap saat mendengarkan, huhu). Nah, dari kebiasaan suka curhat dan mendengarkan curhatan orang lain itu, dari sanalah sumber inspirasi cerpen bergenre horor tersebut. Aku lupa-lupa ingat, apa ada teman yang bernasib sama dengan si Aan tersebut; ataukah Aan ini terinspirasi dari cerita seorang teman yang memiliki teman bernasib seperti itu. Yang jelas, Aan itu bukan terinspirasi dari aku. Puji Tuhan aku belum pernah mengalaminya, kok. 

Lalu, cara penceritaan yang seperti itu karena aku selalu beranggapan tiap orang pasti pernah mengalami hal yang kuceritakan. Tidak hanya untuk cerpen tersebut, namun juga untuk tiap cerita fiksi yang kuciptakan. Aku cenderung menulis dengan mencoba menyelami pikiran orang lain. Sebab, aku cenderung merasa bahwa tiap calon pembaca pasti pernah mengalami juga. Alhasil, beberapa cerita fiksi yang aku tulis itu suka mendetail dan (agak) blak-blakan. Seperti tengah curhat saja. Haha.

Anyway, dibilang riset, iya juga. Saat itu, selama menuliskannya, aku sempat googling sebentar. Maka dari itu, kukatakan bahwa aku menuliskannya selama tiga-empat jam. Bagian berbohongnya itu karena aku tidak menceritakan seluruhnya bagaimana cerpen tersebut terlahirkan. 

Begitulah.







Comments

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^