Sebuah Cerpen untuk Gilang dan Tim Viaduct Lainnya

















Bedah cerpen: Pra (Sebelum) Sangka


1. "Gimana, Pras?" Anabela mengumbar senyum. Disangkanya dengan melepaskan sebuah senyuman, Prasongko bisa luluh dan tugasnya selesai. Dia kan tak harus berurusan dengan UKM itu pula. Belum lagi ia harus berkutat dengan seabrek tugas-tugas kuliah. Pun ia masih harus menjalani beberapa syuting film televisi, iklan, dan pemotretan majalah.

>> Bagian ini terinspirasi dari kisah nyata sebetulnya. Jujur, cerpen "Pra (Sebelum) Sangka" itu aku dedikasikan untuk UKM Viaduct, salah satu unit kegiatan mahasiswa yang paling aku sukai di fakultas Hukum dulu. Anyway, memang aku bukan anggota resminya. Aku hanya pengamat saja. Aku sekadar mengamati aktivitas Viaduct dari jarak-jarak tertentu; walau kadang tahu aktivitas Viaduct dari beberapa teman seangkatan yang aktif di Viaduct macam Andrian Gilang, Tyo, Dessy, serta Anabela Anjani. Nah, tokoh bernama Anabela terinspirasi dari si Anabela Anjani ini. Anabela yang aslinya itu pendiam, agak judes, namun saat di kelas, lumayan kritis. Beberapa kali Anabela mendebat dosen dan beberapa kali menang.

Sementara, kesibukan Anabela yang seorang desainer kaver dengan kesibukan-kesibukan lainnya seperti syuting dan pemotretan iklan, itu juga dari beberapa teman kuliah dulu. Beberapa orang seperti itu bahkan suka aku temui di dalam Viaduct. Salah satunya, Anastasia Warokka, yang juga aktif di Viaduct, yang berwajah Indo. Rambutnya yang agak pirang sungguh mengingatkanku dengan masa kecilku yang berambut serupa. 




2. Dengan lincah, kububuhkan sebuah tweet lagi di halaman profil Twitter kepunyaanku. Begini bunyinya: "Gaya pacaran anak jaman sekarang: nongkrong di mal, bukannya bermesraan, malah sibuk sama gadget masing-masing. Buat apa juga pacaran di mal?"

>> Dulu, saat menyusun skripsi, seringkali aku mampir ke mal, apalagi sehabis riset di suatu tempat. Aku suka menulis skripsi (dan juga beberapa naskah novel) di foodcourt. Nah, sembari mengetik, mataku suka jelalatan begitu. Aku suka menginspeksi tiap pengunjung yang ada. Kadang aku suka main tebak sendiri kejadian yang kulihat di depan mata. Contoh: ada anak kecil yang tengah menangis gara-gara minuman soda susunya tumpah, lalu ada seorang remaja lelaki berusaha menenangkannya. Lalu, di pikiranku, anak kecil itu mungkin adiknya. Abangnya menjahilinya hingga minumannya tumpah. Kemudian, si Abang minta maaf. Haha. Padahal, bisa jadi antara anak kecil dan remaja itu sama-sama orang asing, yang belum pernah bertemu sebelumnya.

Oh iya, tweet tersebut sebetulnya pernah aku tweet-kan di akun Twitter terdahulu.






3. Nah, dengar sendiri kan, mereka bukan sepasang kekasih. Tepatnya mereka itu sepasang adik-kakak. Sapaan si adik ke si kakak itu 'mas'. Tak aneh memang. Banyak, kan, adik yang menyapa kakaknya dengan sebutan 'mas' yang mungkin di telinga si penulis yang congekan itu lebih terdengar sebagai sebutan seorang perempuan pada kekasihnya.

>> Kali ini terinspirasi dari pengalaman yang ada di..... ah, lupa dari mana persisnya. Yang jelas, aku punya beberapa teman yang hubungannya dengan kakak atau adiknya itu seperti orang pacaran. Orang yang kali pertama melihat itu pasti mengira mereka berdua sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Padahal, keakraban mereka karena mereka saudara kandung. Di rumah, mereka berdua memang sangat akrab. Sejak kecil, mereka sering main bareng, yang tak jarang sering di kamar berdua, yang sebetulnya tengah bermain. Sampai-sampai ayah kandungnya menegur mereka untuk tidak sering berdua di dalam kamar. Bagaimanapun, tak etis jika abang dan adik perempuannya--walau keduanya masih berusia SD--berdua saja dalam sebuah ruangan. Walaupun demikian, tetap saja karena terlalu sering bermain dan jalan bareng adik perempuannya, seringkali di mata awam hubungan abang dan adik perempuannya itu lebih mirip seperti sepasang kekasih daripada saudara kandung.







4. "Hatsyiii!" Wah, aku pasti tenar sekali. Pasti ada puluhan yang sedang menggosipkanku.

Jika tengah sendirian, lalu spontan aku bersin, apalagi jika suaranya kencang, aku sering beranggapan ada yang tengah membicarakanku. Bahkan, di balik bersinnya aku, bisa-bisanya aku memikirkan seorang gadis manis dengan rambutnya yang terurai melambai-lambai. Haha. 





BONUS: 
Aku cantumkan foto teman seangkatanku di fakultas Hukum. Namanya Andrian Gilang Khrisnanda. Panggil saja Gilang (kok, jadi mirip dengan artikel-artikel berita pemerkosaan, yah? 😂✌). Gilang ini orangnya lumayan pendiam, dingin (untuk yang kali pertama mengenalnya), kritis, analitis, dan..... yah, sama seperti aku, Gilang ini observatif. Pelit senyum, si Gilang. Alhasil, foto-fotonya di social media seringkali seperti itu. Senyumnya kaku begitu, Cuy! Hehe!

(Sialan nih penulis. Sendirinya juga kaku senyumnya. Penulisnya kadang suka sok tahu)







Dari kontak Whatsap Gilang.







Comments