Tuesday, May 12, 2015

ANOTHER FICTION: Pra (Sebelum) Sangka



Genre: Komedi


Artwork by: Gustyanita Pratiwi





"Eh, Pras," Anabela memiringkan laptop ke arah teman kampusnya yang duduk di sebelahnya. "Ini gimana? Desainnya bagus kan?"

Prasongko yang sedari tadi itu sibuk dengan gawainya, mau tak mau harus mengalihkan pandangan ke perempuan berambut model bob tersebut. Matanya seksama sekali memerhatikan desain kaver terbaru untuk "Swara Jaya", sebuah buletin bulanan yang dikeluarkan oleh unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampusnya.



"Mmm, mmm, mmm,.." Prasongko berdeham beberapa kali seraya tangannya sibuk menggeser-geser pointer ke beberapa titik dari desain itu. 

Anabela menungguinya dengan cemas. Dikatakan cemas, sebetulnya tidak. Hanya saja perempuan itu berharap tugasnya selesai. Sudah tiga hari ini dirinya harus berkutat di depan laptop. Semuanya demi desain kaver tersebut. Minggu depan buletin itu harus segera terbit. Dan sebetulnya juga Anabela pasti senewen sekali jika desain ini pun mesti direvisi. Sudah lima kali--sejak minggu lalu--desain kavernya harus mendapatkan revisi. 

"Gimana, Pras?" Anabela mengumbar senyum. Disangkanya dengan melepaskan sebuah senyuman, Prasongko bisa luluh dan tugasnya selesai. Dia kan tak harus berurusan dengan UKM itu pula. Belum lagi ia harus berkutat dengan seabrek tugas-tugas kuliah. Pun ia masih harus menjalani beberapa syuting film televisi, iklan, dan pemotretan majalah. 

"Revisi lagi, gih," tukas Prasongko yang mengangsurkan balik laptop itu. 

Anabela lesu. "Serius? Gue harus revisi lagi?"

"Iya, lu harus revisi lagi. Desain lu itu terlalu simpel banget. Warna yang lu pilih juga norak. Plus agak enggak sesuai sama isi buletin bulan depan. Belum lagi lu lupa cantumin artikel yang bakal jadi headline-nya. Gimana sih? Lu serius enggak buatinnya?" cecar Prasongko dengan rahang yang menegang. Tatapan dingin menyerang Anabela. 

"Yah Pras, udah deh, gini aja desainnya. Atau lu aja yang ngedesainnya. Gue punya banyak urusan lainnya yang harus diselesaikan. Yah itu tugas kuliah, syuting, pemotretan, dan lain-lain, dan sebagainya."

Mata Prasongko langsung nyalang. "Seenaknya aja lu ngomong. Kan yang bagian desain kaver itu lu. Dan katanya lu itu passion-nya di desain, jago ngedesainnya, ya udah selesaikan revisi-revisian ini. Gue juga males harus ngecekin tiap desain yang lu bikin."

"Ya udah kalo bosen, lu aja yang lanjutin," serang balik Anabela ketus. "Be-te-we, bukan hanya gue juga kali tim desainnya. Setahu gue, lu juga; plus masih ada tiga anak lagi. Dan lu kan juga kuliah di fakultas yang sama kayak gue. Kita sama-sama anak DKV kan? Gambar-gambar buatan lu juga sering dipuji sama dosen-dosen."

Prasongko berdecak. "Ngeles aja lu. Udah selesein aja soal desain itu. Gue males disemprot sama pimred mulu gara-gara bawahan gue kerja enggak bener. Omong-omong, gue laper lagi. Gue mau pesen makanan dulu. Dah, lu lanjutin revisiannya lagi."

Saat Prasongko berjalan beberapa langkah, Anabela menjulurkan separuh lidahnya sembari melontarkan ejekan, "Weee, dasar jelek luuuu!! Sembarangan lu kalo ngomong. Sialan!!!"

*****

Aku hanya bisa cengar-cengir saja melihat apa yang baru kusaksikan di foodcourt mal ini. Sepertinya untuk kesekian kalinya aku akan melihat pasangan yang cekcok, dan dugaanku, mereka pasti putus setelah itu. Percaya deh. 

Lagipula, bagaimana tidak berantem, pasangan itu aneh. Masa sudah kencan di mal berdua saja, dan suasana foodcourt sangat mendukung (karena lumayan sepi), mereka malah sibuk dengan barang elektronik masing-masing? Si perempuan sibuk dengan laptop. Si lelaki sibuk dengan gawainya. Jangan salahkan Tuhan kalau suatu saat akan terjadi keributan. Coba dipikirkan lagi, pacaran itu kan seharusnya bersitatap, mengobrol beberapa topik, saling lontar kata-kata mesra, dan mungkin saling suap-suapan. Seharusnya seperti itu. Eh ini malah sibuk berkutat dengan gawai masing-masing. Sungguh terlalu!

Gemas aku dengan sepasang kekasih aneh itu. Saking gemasnya, kini saatnya dunia perlu tahu. Ponsel, mana ponsel? 

Dengan lincah, kububuhkan sebuah tweet lagi di halaman profil Twitter kepunyaanku. Begini bunyinya: "Gaya pacaran anak jaman sekarang: nongkrong di mal, bukannya bermesraan, malah sibuk sama gadget masing-masing. Buat apa juga pacaran di mal?"

Hihihi, aku terkikik. Sambil menuliskan ini, aku kembali teringat dengan kejadian sebelum sampai di mal ini. Sebelumnya aku sempat mampir dulu di rumah makan yang tak jauh dari mal. Biasa, untuk beli makanan yang bisa kukudap sembari menikmati fasilitas wifi foodcourt ini. 

Kejadiannya itu sama persis dengan pasangan itu. Sama-sama cekcok juga. Dan pasti sama-sama ribut karena hal sepele yang seharusnya bisa dihindarkan. Yang cewek itu ngambek gara-gara yang cowok malah hobi sekali mengambil jatah porsi dari nasi goreng si cewek. Sepertinya sih, yang cowok lebih suka nasi goreng si cewek daripada mi ayam yang sudah dipesannya. 

*****

Matahari sangat terik sekali. Menyebalkan memang jika cuacanya seperti ini. Suhu yang seperti ini bikin kita jadi malas untuk berleha-leha di luar ruangan. Anak jaman sekarang bilang, "Bikin mager aja," Well, cuaca dengan matahari yang super kurang ajar dalam melontarkan panasnya itu memang bikin mager. Alias malas gerak. 

Mungkin karena cuaca yang panas itulah, perempuan itu jadi cemberut di dalam sebuah rumah makan kecil--yang agak ramai pengunjung--yang sebetulnya rada adem dengan adanya satu-dua buah kipas angin yang sudah disetel. Mungkin si perempuan itu cemberut karena seperti dugaan si penulis yang berkacamata dan berberewok nyaris lebat itu: cekcok karena masalah sepele. Tapi masa perempuan dan lelaki itu sepasang kekasih? Tampaknya penulis kita keliru besar terkait hal tersebut. Penulis kita kan orangnya suka sok tahu. 

Mari kita dengarkan baik-baik untuk menghindarkan diri dari berprasangka yang bukan-bukan. Iya, kalau prasangkanya positif. Lha, kalau negatif? Ckckck. 

"Mas, apaan sih? Udah pesen mi ayam, kenapa nasi goreng punya aku diembat juga?" kata perempuan berambut setengah keriting itu sewot. 

"Icip doang sih. Ya elah, gitu aja ngambek. Lagian kan Mas juga yang bayar ini." ujar lelaki botak itu defensif. 

"Katanya mau nraktir,"

"Iya, emang mau nraktir niatnya. Tapi enggak ada salahnya juga kan icip-icip punya adik sendiri. Sedikit doang, kok."

"Itu namanya enggak ikhlas, Mas."

"Sotoy kamu ah. Mas ikhlas, kok, nraktir adik Mas tersayang ini. Yah hitung-hitung buat balas jasa ke si adik yang untungnya enggak bocorin ke Papa-Mama soal Mas yang berhenti kerja dari perusahaan advertising itu." 

"Iya sih, buat nepatin janji. Tapi kalau terus diicip mulu, mending aku kasih tahu Papa sama Mama nih. Biar disemprot habis-habisan."

"Eh, kok gitu sih?"

"Biarin. Itu namanya bukan nraktir lagi, tahu!"

Nah, dengar sendiri kan, mereka bukan sepasang kekasih. Tepatnya mereka itu sepasang adik-kakak. Sapaan si adik ke si kakak itu 'mas'. Tak aneh memang. Banyak, kan, adik yang menyapa kakaknya dengan sebutan 'mas' yang mungkin di telinga si penulis yang congekan itu lebih terdengar sebagai sebutan seorang perempuan pada kekasihnya. Yah, penulisnya juga tak bisa disalahkan. Banyak pula perempuan yang seperti itu, yang memanggil kekasihnya dengan sebutan 'mas', alih-alih yang sudah mendunia seperti 'beb', 'yayang', 'sayang', 'hunny', atau 'papi-mami'. 

*****

"Hatsyii!!!" Hidungku terasa gatal sekali. Mesin pendingin udara di mal ini dingin sekali. Atau dinginnya ini sebetulnya bukan datang dari mesin pendingin udara.  Apa jangan-jangan ada yang sedang membicarakanku yah? Aku harap itu seorang perempuan manis dengan rambut panjang yang melambai-lambai menggoda begitu. Aku harap. Tapi kalau lelaki, yah juga tak apa. 

"Hatsyiii!"

"Hatsyiii!"

"Hatsyiii!"

"Hatsyiii!"

Wah, aku pasti tenar sekali. Pasti ada puluhan yang sedang menggosipkanku. Aku jadi penasaran dengan yang mereka cakapkan. Semoga saja itu sesuatu yang positif. Seperti akhirnya mereka sadar bahwa ketampananku ini tak jauh berbeda dengan cover boy-cover boy yang suka terpampang wajahnya di beberapa majalah remaja. 

Aku terkikik lagi. Bukan salahku kalau jadi senarsis ini. Apalagi menurut Abraham Maslow, bersikap narsis itu perlu. Sebab bersikap narsis itu salah satu bagian dari kebutuhan aktualisasi seorang manusia. Dan kebutuhan aktualisasi diri itu berada di puncak dari piramida "Hierarchy of Needs". Itu kata Abraham Maslow, lho; bukan kataku pula. 

Iya, aku tahu, itu mungkin--untuk sebagian orang--jadi seperti suatu justifikasi. Tapi tetap saja, justifikasi itu diperlukan. Justifikasi itu diperlukan untuk menghindarkan manusia dari sikap minder. Dengan justifikasi, manusia jadi lebih bersemangat dan berenergik dalam menjalani hidupnya. Tidak perlu takut-takut apabila hal yang dilakukannya itu terbukti keliru di kemudian hari. Yang penting kan, kita sudah mengantongi beberapa bukti sebagai bahan pembenaran. 

Eh, apa itu? Sepertinya menarik. Aku penasaran. Seru juga bisa ada adegan sinetron di dalam sebuah mal. Jarang-jarang kan, bisa menemukan langsung adegan ala sinetron picisan dalam realitas kita sehari-hari. Pasti sakit sekali pipi si lelaki. Kuduga, pasti lelaki itu ketahuan selingkuh setelah ponselnya dicek sama pacarnya yang lumayan seksi tersebut. Pasti seperti itu. Percaya deh!

Eh tapi, sayang kali, ponsel mahal-mahal malah dibanting. Lebih baik disumbangkan ke yang membutuhkan. Contohnya, yah aku. 

*****

Anabela makin lama gusar dengan Prasongko. Berengsek cowok itu! Sudah harus terus merevisi akibat permintaan dari Prasongko, sekarang perempuan itu mendapati sesuatu tak menyenangkan yang dilakukan oleh Prasongko. 

Barusan Anabela mengintip isi dari ponsel Prasongko. Kini ia tahu siapa dalang dari menyebarnya foto-foto dirinya yang dimirip-miripkan dengan seekor monyet. Yah si Prasongko itu. 

"Berengsek! Berengsek! Berengsek!" rutuk Anabela yang main kocar-kacir begitu saja. Masa bodoh dengan tenggat waktu yang diberikan pemimpin redaksi Swara Jaya. Biarlah itu menjadi urusan Prasongko dan anak-anak yang lain. Ia patut lepas tangan begitu saja. Dan Prasongko itu patut mendapatkan tiga balasan (yang mungkin) paling menyakitkan. Pertama, harus pontang-panting memikirkan soal desain kaver. Kedua, dapat tamparan keras dari Anabela. Ketiga, ponselnya rusak parah akibat terkena air jus dan bantingan ke arah tubuhnya. 

Omong-omong, terkaan penulis kita salah lagi. Sudah sepatutnya juga, kita tak boleh berprasangka. Apalagi kalau berprasangka sambil membusungkan dada. Dosa, tahu. Bukankah jauh lebih baik jika kita hidup tanpa berprasangka sama sekali. Terkadang sesuatu itu cenderung terjadi tak sesuai dengan apa yang ada di benak. Jadi, sebaiknya selalu berpegang pada prinsip, "Jangan pernah menghakimi buku dari kavernya,"

18 comments:

  1. Mungkin mereka berdua bukan sepasang kekasih, bsa aja cuma tmenan :D

    ReplyDelete
  2. Wihhh mantab ni bocah, kreatif euy gambarku dibikin cerita,.hihihiiii...

    ReplyDelete
  3. Mungkin mereka sepasang mahasiswa team pembuat buletin

    ReplyDelete
  4. Adalah keren bisa menulis sebuah cerita hanya dari sebuah gambar saja
    itu juga aku terapin beberapa kali sih
    apalagi kalau udah mentok gak ada ide

    puisi juga gtu. biasa nyari gambar dulu. baru dapet ide kata2 nya wkwkwk

    keep it up bang!

    P.S.
    Btw gue baru tau loh pra sangka itu artinya sebelum sangka
    is it just me or...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius nggak tau? Kan pra memang artinya sebelum. Ya emang sih kata prasangka juga nulisnya disambung tok, nggak dipisahin, hehehe.

      Btw thank a lot.

      Delete
  5. Keren-keren nih cerita'a. lanjutkan terus mas hasil karyanya :D

    ReplyDelete
  6. Apes banget si Pras :) duh aku ketinggalan banyak ya cerita disini smeinggu gak bw. btw kalau bukunya gak punya kaver gimana dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak apa-apa, Bu. Mungkin si ibu lagi sibuk di luar sana, hehehe.

      Delete
  7. Hahah.. Ciyan si Pras. Sial banget nasibnya :P

    ReplyDelete
  8. bego banget tuh pras, hapenya dikasihkan anabele. ya ketahuan lah. *emosi parah*

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^