Para Pembaca yang Nyata-Tak Nyata (Mungkin Mereka Malu-Malu Kucing 😂)









Cece Felicia Huang, "3014th Study Room"-nya bagus banget! Kusuka (walau lebih suka Qtela)!















Hufftt. 

Okay, Guys, I'm very okay. Hell yeah, indeed. It is true, even.....

Bingung juga mau menyampaikannya. Aku takut salah tulis. Aku takut disalahpahami lagi. Apa aku sudah berubah menjadi penulis kontroversial? Padahal aku tak ingin seperti itu, loh. Jujur, menjadi penulis kontroversial itu tak enak banget. 

Hmmm.....

Kadang, tiap melihat ke belakang, tiap melihat ke depan, tiap melihat ke samping,..... hadeuh, ini mau dibawa ke mana tulisan ini. Bingung sendiri untuk memulai dan mengakhiri. Padahal, dulu aku gampang sekali menuangkan isi kepala ke dalam sebuah tulisan. Tak jarang aku sering hapus-tulis-hapus-tulis. Ya kali ah, dashboard jadi seperti papan tulis saat sekolah dulu. Haha. 

Oke deh, serius. Jadi, begini, para pembaca IMMANUEL'S NOTES yang sangat budiman, melihat screenshoot di atas, paham kan? Well, that's my dream--one of my dreams. Haha. Padahal, novelnya sudah terbit di Maret 2016 kemarin. "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" sudah memiliki pembaca, yang tak hanya datang dari kalangan terdekat saja. Jika ditotal, penjualannya memang hampir setengah ribu. Di atas itu malah ada, bisa jadi. Tapi, aku merasa yang beli dan baca novelku tersebut..... mereka betul-betul nyata, tidak? 

Haha. Bukannya sombong, bukannya banyak lagak, namun sesekali dalam hidup kita memerlukan pengakuan. Apalagi Om Abraham Maslow juga berkata hal sama. Siapa tahu, sehabis ada yang datang kepadaku dan bilang, "Nuel, novelnya bagus banget, tanda tangan dong, inspirasinya dari mana? Terus, puisinya tersebut terinspirasi dari siapa?", aku jadi bersemangat lagi dan lagi. Yang seperti itu perlu, sih. Walau, faktanya, aku orangnya demam panggung. Pernah ada perempuan cantik mengelus rambut atau pipiku saja, aku langsung keringat dingin. Oh iya, ini demam panggung atau takut dengan perempuan cantik, yah?

Sorry, aku mulai melantur. Curhat colongan lagi. Yang tambah aneh, semakin aku sering curhat, yang baca itu makin banyak. Anyway, keterlaluan kalian, senang yah, lihat aku sengsara?! Huhuhu.

.....

Oh iya, terkait screenshoot tersebut, benar atau tidak, tapi aku sangat merasa (sebab Nuel Lubis ini hatinya sangat perasa seperti Marshmellow) bahwa apa mungkin novel #misiterakhirrafael itu sempat dibajak. Ini hanya asumsi saja, yang timbul karena membaca situasi di tahun 2017-2018 tersebut. Saat itu, aku seringkali bersin-bersin. Mungkin saat itu aku tengah diperbincangkan di banyak dunia, yang termasuk di alam gaib. Apalagi, ada mitos berkata, jika kita mendadak bersin-bersin sendiri, konon ada yang tengah membicarakan kita. Nah, asumsiku itu berpatokan ke mitos yang aku ketahui dari komik "Bowling King". Semoga salah, walau aku berharap itu sangat benar. 

Tak enak, sih, novel dibajak. Kerja keras kita seperti tak dihargai. Tapi, jika dilihat dari segi kacamata positif, kalau itu membuat kita sering diperbincangkan sampai harus ingus meleleh ke mana-mana, kenapa tidak. Aku sih oke, kalau kalian? Eh, ini bukan berarti aku melegalkan pembajakan, yah. Hanya mengajak para pembaca untuk berpikir positif.


Pembaca: Jadi, bagi lu, lebih penting mana, uang atau ketenaran?
Nuel Lubis: Dua-duanya!

*besok-besok badan Nuel Lubis banyak patah tulang di mana-mana*


Intinya, tulisan kali ini hanya ngalor ngidul. Semacam kegelisahan tersendiri si Author karena novelnya yang coklat tersebut..... ah sudahlah. But thank to serial webtoon "304th Study Room" dan si komentator. Sungguh sangat membangkitkan kegelisahan Author yang sudah terkubur bertahun-tahun. Bagian 'dibajak' itu sebetulnya terpikirkan di tahun 2017 juga, yang teringat kembali gara-gara sebuah webtoon

Semoga kelak aku bisa bertemu satu persatu dari para pembaca novel-novelku, yah. Semoga juga aku bisa membaca ulasan mereka terhadap novel-novelku. Amin, ya Allah, ya Rabi!









Comments