Kematian, Pertemanan, dan Label








Nuel Lubis tengah berada di TPU Selapajang. Kalau lihat nama makam Mami, nama KTP Mami bukan itu. Aku suka nyengir sendiri membacanya. Mungkinkah saat 2014 itu.....? Haha.







Terpikirkan saja, andaikan aku meninggal dunia, kira-kira siapa saja--yang selain keluarga inti--yang akan menziarahi aku. Kira-kira, nanti saat aku akan dimasukan ke dalam liang lahat, berapa banyak orang ada di dekat calon makamku. Ada siapa saja yang akan menangisiku saat kebaktian tutup peti. 

Haha.

Salah, tidak, berpikiran seperti itu? Kalau baca paragraf pertama di atas, mungkin sebagian dari kalian berpikiran yang bukan-bukan. Seperti tak boleh sembarang disebut. Tapi, sebetulnya tak ada yang salah juga. Ingat kematian, ingat Tuhan. Begitu pikirku saat menuliskannya. Selama itu membuat kita teringat Tuhan, kenapa tidak? 

Well, aku jadi teringat kata-kata seorang teman bloger di akun Twitter-nya. Alhasil, semacam déjà vu saja. Aku hanya mengulangi kata-kata temanku tersebut. Lalu, dengan memikirkan hal-hal seperti itu, itu seringkali memaksaku berpikir ulang mengenai pergaulanku. Apa kelak teman-teman yang mana aku gauli itu mengunjungiku hingga batu nisanku? Bisa dibilang, itu semacam filter saja. Bisa juga menjadi semacam self-reminder untuk lebih berhati-hati bergaul. 

Di situlah, aku suka merasa sedih, yang lalu merenung. Terkadang, memiliki banyak teman bisa menjadi semacam pedang bermata dua. Kadang bisa menguntungkan, kadang bisa merugikan. Dulu sekali, walau sebetulnya saat jaman kuliah, aku sempat mengalami suatu kondisi di mana dikenal oleh banyak orang itu rasanya sangat menyenangkan. Teman-teman seangkatan memanggilku Bang Im seolah aku jenderal kancil saja. Beberapa senior (terutama angkatan sebelum 2006) hilir mudik bertanya ke teman-teman seangkatan, Iman itu orang yang seperti apa. Jika diingat lagi, rasanya konyol sekali perasaanku saat itu. Kadang, tidak menjadi bahan perhatian itu jauh lebih baik daripada menjadi (sumber) bahan perhatian.

Paham, tidak? 

Sederhananya, orang-orang yang  dahulu memperhatikanku sedemikian rupa itu akankah datang saat upacara penguburanku. Apalagi, yang kuingat, beberapa teman aku malah tak datang saat Mami meninggal 2015 silam, yang padahal mereka kusampaikan langsung, selain satu-dua tinggal tak jauh dari rumahku. Oh, ini bukannya tidak ikhlas, bukannya mau mengungkit-ungkit, aku rasa tidak salah untuk berpikir seperti itu. Selain untuk lebih berhati-hati dalam bergaul, kita juga harus waspada dengan perhatian orang. Belum tentu teman-teman SMP yang rutin menconteki pekerjaan rumahku dulu itu mau membela-belakan diri untuk menziarahi aku kelak. Mencari keberadaan makamku saja, mungkin teman-teman SMA yang sempat mengucili aku saat itu  enggan dengan beragam alasan.

Nah, itulah alasan kenapa aku berpikir seperti itu. Alasan utama aku menuliskan paragraf pertama seperti itu, yah karena itulah. Agar aku lebih mawas diri, berhati-hati, dan menyaring lagi dengan siapa aku bergaul apalagi mencurahkan isi hati. Yang balik lagi, agar aku lebih berintrospeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

By the way, foto aku di makam Mami tersebut saat aku tengah berulang-tahun yang kesembilan belas tahun. Sengaja aku memilih untuk mengunjungi makam beliau. Aku ingin merayakan ulang tahun secara spesial dengan Mami, yang amat jarang kulakukan semasa Mami hidup. Aku ingat, aku lumayan dingin dengan Mami semasa Mami hidup, khususnya di hari ulang tahun aku dan Mami (ini jangan ditiru, yah). Makanya, sebagai penebusan rasa bersalah, satu hari ulang tahun--aku rayakan di makam Mami. 

Last but not least, mungkin tak menyambung sama sekali, namun masih ada sedikit kaitannya. Begini. 

Manusia itu unik, yah. Saat lahir, seringkali manusia tidak membawa label apapun. Sebab, ketika bayi lahir, orangtuanya tidak sedang habis berbelanja di pasar swalayan. Namun, saat meninggal, kenapa manusia suka membawa label-label tertentu ke dalam kuburannya? 

Hmmm.....





Comments