Kecerdasan itu untuk Apa?








Diambil dengan menggunakan Samsung S5312 kepunyaan Bang Joni (yang sepuluh tahun lebih tua dari aku), yang setelah sekian tahun tidak memiliki ponsel, akhirnya di tahun 2015, dia tampil gaya dengan sebuah smartphone. Dari foto yang dia ambil inilah, aku bisa merasakan betapa yang bersangkutan sangat antusias sekali untuk menggunakan fitur kameranya. Itu, maaf, mengingatkanku dengan kelakuan seorang anak TK yang baru saja dibelikan barang mewah. Lucu, tapi menyentil begitu.








Kok bisa ada beberapa orang yang memiliki kecerdasan luar biasa, namun tidak diimbangi dengan hati nurani yang luar biasa pula? Haha. Hingga usiaku yang ketiga puluh ini, aku baru sadar, orang-orang seperti itu memang ada. Memanfaatkan kecerdasannya, menggunakan bakatnya, mempraktekan kelebihannya, atau apapun itu istilahnya, yang kesemuanya itu tidak digunakan untuk sesuatu yang baik dan benar. Sialnya lagi, digunakan untuk merugikan sesamanya manusia. Yang sebetulnya tidak harus merugikan. Sebetulnya juga, itu sudah memberikan dampak negatif. Hanya saja, seringkali yang bersangkutan dengan kelihaiannya tersebut mampu menyulapnya. Sehingga, yang tadinya memang terlihat berdampak negatif, jadi terlihat berdampak positif dan tak merugikan. 

.....

Iya, ada. Orang-orang yang seperti itu ada. Tidak sedikit jumlahnya pula. Hanya saja mereka mampu membaur dengan mudahnya. Maka dari itu, keberadaan orang-orang seperti itu seperti sebuah bayangan di waktu malam. Hufftt.  

Tapi, karena kesadaranku akan satu-dua orang seperti itu, aku jadi menyadari bahwa terkadang memiliki hati jauh lebih baik daripada memiliki otak. Apalagi, dengan memiliki otak yang luar biasa, itu seringkali malah mendorongku untuk memanfaatkan kecerdasan atau bakat yang melampaui kehendak Tuhan. Aku takut kecerdasan yang aku miliki itu malah membuatku sulit masuk surga. Haha.

Sudah, ah, kuakhiri saja. Walau masih kesal, kenapa aku baru menyadari keberadaan orang-orang seperti itu. Rasanya jengkel sekali, terperdaya karena kita jauh lebih lemah, entah dari segi fisik, entah dari segi kecerdasan atau bakat. Huh!

Omong-omong, Tuhan memberikan manusia itu kecerdasan, sesungguhnya untuk apa, yah?







Comments