Jauh tapi Dekat
















Dari tempat aku mengambil gambar, jarak ke ICE itu sepertinya jauh. Itu jika berdasarkan pengamatan terhadap foto di atas tersebut. Padahal aslinya tidak terlalu jauh. Dengan mobil saja, waktu tempuhnya hanya sekitar sepuluh menit. Yah, kalau dengan berjalan kaki, memang butuh lima belas menit, sih. 

Jika dipikir-pikir, seringkali hidup seperti itu. Kita seringkali menangkap bahwa apa yang terlihat langsung di mata kita itu sebagai yang sebenarnya tanpa mau mengetahui bahwa ada cerita di balik layarnya. Seperti foto di atas. Karena menyangka jaraknya jauh, mungkin bawaan kita sudah malas dahulu (lalu langsung menyerah begitu saja). Padahal, jika mau dijalani, tidak seberat dugaan kita awalnya. 

Yah, mungkin sudah naluri alamiah manusia yang terlalu cepat menghakimi. Terlalu cepat berprasangka bahwa yang terlihat mata itulah cerita sebenarnya. Sama seperti kejadian yang menimpaku beberapa hari lalu. Hanya karena SMS-SMS aku tidak dibalas, lalu si teman tidak meng-update media sosialnya, aku menyangka bahwa yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Ternyata dugaanku keliru.

Haha. Malu bertanya, sesat di jalan. Lebih baik mengikuti kata hati sendiri daripada membiarkan diri sendiri hanyut dalam arus yang terkadang menyesatkan. Jika bisa dikroscek, krosceklah. Segala yang kita lihat itu, tanggapilah dengan bijak. Terakhir, dengan mengandalkan hati nurani sendiri, mungkin sebaiknya kita cepat peka dan tanggap dalam membaca situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita. 

Sekali lagi, ini hanya sekadar self-reminder. Supaya kelak aku tidak terjatuh ke lubang yang sama. Tidak gegabah lagi. Tidak cepat panas lagi. Juga, selalu berkepala dingin.







Comments