GPKDI - Bona Sarana Indah








GPKDI itu yang pagarnya terbuka lebar.









GPKDI. Gereja masa kecil aku. Kali pertama aku ibadah minggu itu mungkin saat aku masih kelas 2 SD. Yang sehabis nonton Doraemon di jam 8 pagi, aku langsung berangkat ke gereja yang berada di Perumahan Bona Sarana Indah (suatu komplek perumahan lainnya selain Sekretariat Negara di kawasan aku tinggal). Pulangnya, tidak pernah sampai di atas jam 12 siang. Kalau tak salah ingat juga, aku sempat hampir setahun bergereja di sana. Suatu gereja yang cukup bersejarah, GPKDI ini. 

Oh iya, di gereja ini, aku sempat berkenalan dengan seseorang, yang kelak menjadi teman sekelasku di SD Markus. Namanya Isabela Oktariani, yang pernah kubuatkan cerpen untuknya di tahun 2015 (baca: "Sahabat di atas Tali"). Isabela ini, lucunya lagi (yang sebelum kecelakaan), teman salah satu kakak kandungku. Karena kecelakaan yang dialaminya, kondisinya menjadi seperti yang ada di dalam cerpen tersebut. Lalu, sebelum dia menjadi bagian di dalam kelas 3 SD Markus, aku dan Isabela sebetulnya kali pertama bertemu di GPKDI tersebut. Saat di gereja tersebut, dia sempat ditanya-tanyai oleh salah seorang guru sekolah minggu. Saat itulah, aku lumayan lama mengamatinya. Entah kenapa, aku seperti memiliki firasat kelak bakal bertemu kembali dengan Isabela di suatu masa dan di suatu tempat. Eh, beberapa minggu kemudian, firasatku menjadi kenyataan. Isabela datang ke sekolahku dan diperkenalkan sebagai murid baru. Tambahan lagi, sebelum Isabela masuk ke dalam kelas, sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal bertemu dengannya. Sejak bertemu di GPKDI tersebut, ya sudah aku benar-benar tidak berjumpa lagi dengan Isabela ini. Tiba-tiba bertemu saja dengan Isabela di dalam kelas sejak terakhir di gereja tersebut. Wow!

Well, cara Tuhan bekerja itu memang sangat misterius. Aku masih suka terpana mendapati bagaimana cara Tuhan mengenalkanku dengan beberapa orang. Kadang dengan cara biasa, namun tak jarang Tuhan menggunakan cara-cara yang tidak wajar untuk ukuran manusia. Salah satunya, pertemuanku dengan Isabela Oktariani.







Comments