Sunday, May 10, 2015

ANOTHER FICTION: Sahabat Di Atas Tali




Genre: Tragedi (Sebetulnya bingung dalam hal mengategorikannya. Tapi setelah dipikir-pikir, genre tragedi sangat cocok untuk cerpen ini)


Artwork by: Melisa Yulia Kristin





Jakarta, Mei 2015

Jakarta memang berengsek. Aku sebetulnya sudah balik dari kantor sekitar jam lima sore tadi. Tapi, ya kalian tahu sendiri kan, macetnya Jakarta keterlaluan sekali. Tiga jam aku habiskan di jalan. Walhasil baru jam sembilan ini, aku bisa menggeleparkan diriku sendiri di kamar. Itu baru jam pulangnya; belum dihitung pas berangkatnya. Tak ayal, muncul istilah 'tua di jalan'.

Sial! Baru saja mau melepas letih sejenak, ponsel itu berdering. Akibat terlalu lelahnya, nada dering yang dibawakan oleh penyanyi bertubuh subur dari Amerika itu tak lagi menggembirakan hati. Dengan tergopoh-gopoh, aku bangkit dan beringsut.

Aku memicingkan mata. Dari Marvin, teman lamaku di SD Cemara. Tumben dia meneleponku. Apalagi di jam-jam seperti ini. Semoga saja itu sesuatu yang penting sekali. Awas saja kalau dia masih gencar untuk mengajakku bisnis multi-level marketing.

"Iya, Vin, ada apa?" kataku lesu. Tak ada basa-basi. Bukan karena mulai sudah menerka maksudnya, hanya saja--ayolah, dia teman lama. Aku dan dia lumayan sering berjumpa di suatu tempat (di luar soal multi-level tersebut).

"Maaf ganggu malam-malam, Fa," Nadanya terdengar tak biasa. "Gue cuma mau kabari sesuatu."

"Soal apa?"

"Lu masih ingat sama Ria, enggak?"

Aku berdeham pelan. Bola mataku berputar. Ria, Ria, Ria,... Ria yang mana yah? Aku punya banyak teman perempuan yang bernama Ria.

Saat kutanyakan, seolah tahu isi pikiranku, Marvin bilang, "Ria, Bro. Riani Eliza. Yang--maaf--kalau jalan terpincang-pincang itu."

"Oh dia. Emang kenapa?"

"Gue tadi siang dapat info dari si Hansen, katanya Ria sudah berpulang."

Berpulang? Aku mengernyitkan dahi.

"Iya, Bro, berpulang. Katanya sih, gara-gara penyakit tumor otak yang sudah dua tahun ini diderita sama Ria."

Astaga! Aku sama sekali tak menyangka. Lama tak kudengar kabar soal Ria itu, tahu-tahu yang bersangkutan sudah pergi jauh---jauh sekali dan tak akan pernah kembali. Padahal dulu aku dan perempuan yang cara bicaranya butuh pendengaran ekstra itu sangat dekat denganku. Tak terhitung seberapa sering aku mencurahkan isi hati padanya. Dan Ria selalu datang dengan ide-ide brilian. Ria juga seorang pendengar yang baik. Ia juga seorang sahabat sejati.

Tak kupedulikan Marvin. Kubiarkan suaranya bertalu-talu di telinga. Aku lebih memilih terbawa menuju suatu masa. Itu ialah jaman aku masih seorang pelajar sekolah dasar.

*****

Jakarta, Mei 1999

Seorang anak laki-laki memasang tampang gusar. Ia berdiri di pojok sekolah, di bawah pohon nangka. Berkali-kali pohon itu terus ia tendang. Tampangnya gusar sekali, plus bercampur kepedihan.

Ada sebabnya mengapa ia melakukan hal tersebut. Semuanya itu akibat kejadian dua jam tadi. Dirinya dituduh sudah merusak inventaris kelas. Padahal bukan dia yang merusak kemoceng kelas, sehingga dipaksa harus mengganti. Temannya, Dino yang melakukannya.

Segalanya terjadi saat jam tujuh pagi tadi. Di ruang kelas 5A, baru hanya ada lima orang, termasuk dirinya. Itu juga yang datang karena mereka jadi petugas piketnya. Keributan muncul saat Dino yang asyik menyapu, mendadak berang. Dino kesal karena dia dan lainnya tak menghargai usaha anak lelaki yang berwajah cekung itu dalam hal menyapu lantai. Debu-debu yang sudah terkumpul, malah berhamburan akibat kaki-kaki nakal. Padahal yang lain--termasuk dirinya--sudah minta maaf.

Keributan muncul dan bertambah permasalahannya. Dari yang tadinya soal debu, berubah menjadi saling ejek nama orang tua. Dia juga yang memulai. Dia sembarangan menyebut nama ayah dari Dino. Dino balas. Dan mereka saling balas mengejek nama orang tua masing-masing. Puncaknya, Dino jadi benar-benar murka. Kemoceng dipatahkan Dino. Sebetulnya dia juga ikut-ikutan dengan mencabik-cabik bulunya, lalu dilemparkan ke wajah Dino. Itu dilakukannya akibat Dino yang yang melemparkan pecahan kemoceng itu ke arahnya.

Bisa dibilang, dia juga bersalah, walau bukan pemrakarsanya. Dia juga bertanggung jawab. Tapi mengapa dia sendiri yang harus bertanggung jawab? Ke mana Dino? Mengapa kabur? Mengapa tak ada yang berani menyalahkan Dino, termasuk tiga anak lain yang jadi saksi? Apa karena Dino itu anak yang luar biasa supel? Atau apa karena Dino itu anak orang kaya yang hobi mentraktir teman-teman sekelas?

DUG! Ia meninju pohon itu. Sakit memang tangannya. Tapi masa bodoh. Ia kadung kesal dengan Dino dan lainnya.

Sementara itu, seseorang datang. Dia sadar. Ternyata anak perempuan itu. Anak perempuan yang seharusnya jadi kakak kelasnya. Kalau saja tak ada insiden itu, mungkin anak itu sudah duduk di bangku SMP. Seharusnya seperti itu.

Langkah anak perempuan itu tertatih-tatih; yah seperti biasa. Dengan suara sengaunya (akibat kecelakaan mobil itu), anak perempuan itu berkata, "Kamu masih kesal yah?"

Seraya memalingkan muka, dia menjawab, "Udah tahu, nanya!"

Anak perempuan itu tersenyum, berujar lagi, "Soal kejadian kemoceng itu, aku percaya, kok, bukan kamu pelakunya. Kamu kan bukan kayak gitu orangnya. Kamu bukan orang yang suka ngerusakin barang, apalagi yang kepunyaan bersama."

Dia mendengus dan bergeming.

"Kenapa enggak kamu ganti saja?"

Telinganya berdiri. Nyalang. "Kamu gila yah? Bukan aku pelakunya. Tapi si Dino itu. Dia yang matahin, yah walau aku juga copot-copotin bulu-bulunya sih."

Anak perempuan itu terkekeh. "Itu kan artinya kamu juga ikutan ngerusakin. Ya udah kamu ganti dulu aja. Masalah Dino yang enggak mau ikutan ganti, biarin aja. Biarin Tuhan yang balas. Toh nanti bakal ketahuan juga. Kamu ingat pelajaran Bahasa Indonesia itu kan, yang soal peribahasa. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan ketahuan juga."

"Ngomong sih enak." desisnya sembari berdecak sengit.

"Alfa,... memang kenapa sih, kamu enggak mau ganti?"

Dia tak menjawab. Dia lebih menekuri tanah. Dan anak perempuan itu masih terus menunggu sembari menyimpulkan sebuah senyuman. Perlahan kemudian, dia mulai menjawab juga. Itu juga setelah didesak.

"Aku takut sama Papa aku. Dia orangnya lebih seram daripada macan, tahu. Kalau aku cerita soal ini, bisa dimarahin habis-habisan aku. Uang jajan bisa dipotong. Dan mungkin Papa bakal datang ke sekolah buat tanya yang macam-macam."

Anak perempuan itu nyengir, angguk-angguk. Sedikit geli sih, tapi tak ada niat untuk melecehkan.

"Oh begitu. Ya udah, gimana kalau aku yang ganti dulu? Nanti sebelum bel, kamu datang aja ke rumahku yang ada di belakang sekolah. Bilang aja, itu dari kamu. Jangan bilang dari aku."

Alfa sungguh terbelalak. Ria memang anaknya baik. Tapi tak menyangka kalau Ria sealtruistik ini.

*****

Jakarta, Mei 2015

Aku bersyukur pernah berjumpa dengan Ria. Aku berterimakasih pernah mengenal Ria. Sembah sujud pada Tuhan karena pernah memiliki sahabat seluar-biasa Riani Eliza.

Ria itu perempuan terhebat, kurasa. Ia sama sekali tak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Yang berlalu, biarlah berlalu. Ria sungguh pemegang prinsip: "Let bygones it bygones," Ia pun tak pernah mengeluh soal keadaannya yang sebetulnya, menurutku, layak untuk dikeluhkan. Di tengah keterbatasan berbicara, berjalan, hingga kemampuan berpikir dan belajar yang lain dari kebanyakan temannya, Ria selalu tersenyum dan riang gembira. Oh satu lagi, Ria selalu berusaha keras sampai titik darah penghabisan demi tugas yang diembankan padanya.  Yang terbaik dari dirinya selalu diberikan. Ia selalu berusaha sekeras mungkin. Aku sungguh salut.

Mungkin Ria seperti itu karena pengaruh orangtua. Ada pepatahnya, bukan? "Buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya". Walau tak seratus persen bisa dikatakan benar. Aku pernah menemukan kasus di mana sang ayah yang malah jadi meneladani anak kandungnya.

Pertama datang ke rumah Ria, yah waktu kejadian itu. Aku masih kelas lima. Entah karena angin apa, aku terdorong untuk bangun sepagi mungkin; sampai-sampai orangtuaku terbengong-bengong. Kukayuh sepedaku menuju belakang sekolah. Ternyata keluarga Ria punya usaha fotokopi dan wartel--yang dikelola oleh ibunya. Sementara ayahnya itu hanya seorang karyawan dengan posisi tak begitu istimewa di sebuah perusahaan lumayan besar.

Kuparkir sepeda di depan rumah. Ayahnya datang seraya membuaikanku dengan sebuah senyuman. Aku bilang saja langsung bahwa aku ada perlu. Lalu aku kaget. Tak kusangka, Ria menceritakan kisahku itu pada orangtuanya. Aku jadi tambah bengong saat ayahnya bilang, "Bapak sih tak masalah, Ria ingin membantu temannya dengan mengganti kemoceng itu. Bapak malah berterimakasih ke Tuhan, karena Ria sungguh anak yang berhati emas. Bapak kira, sifatnya akan berubah setelah kecelakaan itu. Nyatanya tidak. Ria tetap anak yang luar biasa. Oh iya, Bapak harap kamu jangan pernah menyalahgunakan kebaikan Ria. Kasihan dia kalau kamu sampai seperti itu. Sudah fisiknya seperti itu, kamu malah memanfaatkannya."

Kata-kata ayahnya itu sentakan kedua setelah kejadian kemarin. Aku tak bisa berkata apa-apa. Kemudian, setelah menerima kemoceng itu, di sekolah, aku semakin terngiang kata-kata ayahnya tadi pagi. Di depan wali kelas, Ibu Ana, jujur kukatakan bahwa kemoceng itu dari Ria sebetulnya. Kuceritakan pula segalanya mulai dari kejadian kemarin pagi hingga sepulang sekolah saat Ria menghampiriku di halaman belakang sekolah. Entah karena apa juga, saksi-saksi itu akhirnya angkat bicara dan mengiyakan ceritaku. Divo Notosuwiryo alias Dino tak bisa berkutik. Skak mat.

Eh salah ding. Tak ada yang menang di sini, walau keadilan tetap ditegakkan. Aku dan Dino sama-sama dihukum harus jalan jongkok keliling lapangan sebanyak lima kali. Sebetulnya berat, namun langsung sirna saat teringat kembali apa yang Ria lakukan untukku. Ria itu sungguh sahabat sejati, seseorang yang ada saat kita susah.

Riani Eliza...

Kamu sungguh terlalu baik untuk aku. Maaf aku belum bisa membalas segala kebaikanmu padaku. Aku setahun lalu sempat mencari-cari tahu soal keberadaanmu. Maksudku hanya satu: ingin membalas seluruh kebaikanmu. Apa daya, aku tidak diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta. Yang bisa kulakukan itu hanya datang saat pemakamanmu, lalu memberikan sedikit biaya untuk membantu dalam hal menutupi pengeluaran keluargamu. Aku tahu, keluarganya bukanlah seperti keluargaku yang cukup berkemakmuran.

Riani Eliza...

Semoga kamu ditempatkan Sang Khalik di tempat yang terbaik. Ini ada satu karangan bunga terindah untuk kamu. Kuletakkan di atas pusaramu persis.  




* Cerpen ini diperuntukkan untuk temanku saat SD, Isabela Oktariani. Ia seorang pejuang yang tangguh, yang tak pernah menyerah hanya karena situasi keluarga dan kondisi fisiknya. Semoga ia selalu diberkati Tuhan! ^_^

12 comments:

  1. Replies
    1. Terinspirasi doang kok. Bukan based on true. 70% fiksi.

      Delete
    2. berarti 30% true story yah mas :D

      Delete
    3. ya bisa dibilang gitu deh, hahaha.. =D

      Delete
  2. Masih sering ketemu Isabela'a mas?
    apa isabela'a udah ada di malaysia ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ketemu, udah nggak. Tapi terakhir kontek-kontekan itu pas lulus SMA. Dia ngehubungin gue. Hahaha. Kenapa harus di Malaysia sih? xD

      Delete
  3. keren cerita nya.. Kerasa banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan emang ada unsur kisah nyatanya. But, thanks. :)

      Delete
  4. Ah.. Semoga Riani uda bahagia di surga.. :'D
    Tapi dia membawa yang namanya persahabatan hingga liang kuburnya. :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau model tokoh Riani-nya kayaknya masih hidup sih, hehehe.

      Delete
  5. Semoga temannya ditempatkan Sang Khalik di tempat yang terbaik :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^