#2 Keanehan pada #misiterakhirrafael








Bukti pengiriman "Amoreureka" ke beberapa orang.










Pertama, sejak "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" terbit di Maret 2016, mungkin di bulan Mei 2016, aku mulai gencar membagi-bagikan sampel yang aku miliki ke beberapa kenalanku. Yah, hitung-hitung sebagai sekadar wujud ucapan terimakasih. Paid it forward-lah istilahnya. Meneruskan kebaikan seseorang (atau Tuhan) ke orang lain.

Nah, yang aku baru sadari sekarang ini, tiap mereka yang kukirimkan buku gratisnya itu sepertinya enggan begitu. Salah satu buktinya: saat buku gratisnya itu sudah tiba di tangan mereka, rata-rata hanya mengirimkan SMS sebagai pemberitahuan padaku bahwa buku gratisnya sudah berada di tangan mereka. Padahal mereka pasti memiliki aplikasi chat seperti Line atau Whatsap, kenapa tidak sekalian mengirimkan foto novelnya tengah berada bersama mereka. Itulah kenapa aku bilang yang kukirimkan itu sepertinya enggan menerima "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".

Kedua, aku pernah mencoba mengirimkan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" langsung. Salah satunya, ke salah satu guru SMA aku. Rumah si guru itu awalnya di Gading Serpong, sektor sekian, nomor sekian (dirahasiakan alamat rumah sebenarnya). Harinya itu aku tak pernah lupa. Hari kamis, saat peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Sebelum ibadah di gereja, aku sempatkan mampir dulu ke rumah si guru perempuan. Sekitar jam 9, aku sudah berada di dalam blok/sektor di mana si guru tinggal. Sebetulnya aku sudah sampai di depan rumahnya. Aku tahu alamatnya dari buku tahunan SMA. Namun, ada beberapa warga di sana bilang yang bersangkutan sudah pindah ke daerah Bonang (baca: Bojong Nangka). Tapi entah kenapa aku berfirasat bahwa sepertinya aku tengah dijahili. Aku memang sudah tiba di depan rumah si guru.

Bukti paling meyakinkan lagi, kucoba saja mengirimkan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" ke alamat tersebut yang katanya si guru sudah pindah rumah. Kukirimkan lewat pos. Eh, ternyata dua-tiga hari kemudian, buku gratisnya sampai ke si guru. Lagi-lagi, seperti yang lainnya, si guru hanya mengabari lewat SMS. Padahal si guru memiliki nomor Whatsap. Kenapa tak sekalian mengirimkanku bukti fotonya. Haha. Tambah lucunya lagi, sebulan-dua bulan kemudian, si guru ganti foto profil Whatsap-nya. Dia tengah selfie di depan rumah yang pernah kudatangi. Lol. Tambahan informasi, sekarang sih, yang sejak 2017, si guru benar-benar sudah pindah ke Bonang.

Hmmm.....

Ya sudahlah, tak apa. Ini sepertinya para pembaca IMANUEL'S NOTES sudah paham siapa identitas sebenarnya si guru yang kumaksud dalam post kali ini. Ya, si 'guru'. Aku berharap si guru tak kenapa-napa. Dia dan keluarganya selalu dalam perlindungan Allah.

Aku menuliskan ini pun hanya merasa seperti ingin menuliskannya saja. Biar para pembaca (khususnya pembaca si Cokelat) mengetahui bahwa ada kisah-kisah seperti itu di balik eksistensi "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh". Tak ada niat negatif apalagi jahat, kok. Hanya sekadar curahan hati colongan.







Comments