Tentang Utang-Piutang








@nuellubis bersama struk sehabis mentransfer uang untuk proyek jersey.









Aku tidak tahu kenapa, yang jelas, saat ada temanku tengah mengadakan suatu proyek yang dalam hal gaming, aku turut serta. Haha. Padahal, saat itu, di Desember 2018 silam, aku bukan anggota di guild atau clan kepunyaannya. Tapi, entah kenapa mendadak aku ingin sekali ikut turut serta dalam proyek jersey guild-nya tersebut (baca: JUARA TERUS).

Entah karena desain jersey-nya bagus, entah karena dia salah satu teman lama aku, aku pengin sekali memesan jersey-nya. Beruntungnya, si teman ini tidak melarangku untuk ikut memesan, padahal aku bukan bagian dari guild-nya.

Saat mau dijalankan (yang dari hanya sekadar wacana), dia mengontakku. Dia bertanya apakah jadi memesan jersey. Kujawab saja "Iya". Aku merasa tak enak, jika batal begitu. Itu bukan bagian dari karakterku yang suka tebar janji. Awal Januari kemarin, saat teman perempuanku menghubungiku terkait pemesanan nastar (yang sudah dimulai sejak September 2018) itu saja, aku langsung iyakan tanpa pikir panjang. Iya, tanpa pikir panjang memikirkan sekumpulan pengeluaran yang ada di depan sana. Sebab, aku tak enak sampai harus ingkar janji. Makanya, aku langsung mengonfirmasi bahwa aku jadi memesan jersey.

Sifatku yang seperti itu sudah terbentuk sejak aku kecil. Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu. Bawaan dari keluargakah? Atau bawaan dari lahirkah (yang dari dalam tubuhku sendiri)? Well, karena itulah, dan masih ada hubungan juga, aku agak sedikit sensitif dengan yang namanya utang, entah itu berhutang maupun berpiutang (baca: diutangin). Apalagi, menurutku, perihal uang itu sendiri memang cukup sensitif. Sangat, malah. 

Entah sejak kapan, jika aku memiliki utang dengan orang lain, entah mengapa aku ingin terburu-buru untuk membayarkannya. Padahal yang memberikan utang itu saja sudah memberikan keleluasaan terkait pelunasannya. Yang bersangkutan tidak minta aku buru-buru melunasinya. Dulu, saat masih kuliah, aku punya utang ke salah seorang teman kuliah. Saat aku mau bayar di beberapa hari kemudiannya (setelah berutang itu), si teman malah berkata bahwa tidak perlu dibayar. Dia ikhlas memberikanku uang saat itu. Wah, makin jadi tak enak hati aku! 😐

Begitu pun saat ada seseorang memiliki utang padaku. Jangankan utang berupa uang, orang meminjam barang saja, esoknya aku sudah terpikirkan untuk menarik kembali. Walaupun demikian, yang jika barangku dipinjam, seringkali aku membiarkan saja barang tersebut berada di tangan si peminjam. Yah, meskipun sebagian kecil dari diriku terasa jengkel juga, yang berharap si peminjam mengembalikan sendiri atas inisiatif sendiri. Haha. Tentang uang juga sama, tuh. Aku ingin terburu-buru menagih, namun seringkali mengikhlaskan saja. Jujur, menagih utang itu sudah merupakan salah satu pekerjaan tersulit untukku. Sepertinya aku memang tak cocok menjadi debt-collector. 

Anyway, sedikit tambahan saja, kemarin-kemarin saja, tukang laundry datang mengantar pakaian ke rumah. Walau ada kurang uang begitu, aku berusaha melunasi sebagian dari tagihannya. Sisanya, yah di kemudian hari. Singkat cerita, aku berusaha untuk melunasi secepatnya. 

Lol.

Oh iya, ini hanya sekadar tulisan ngalor-ngidul. Tak ada maksud untuk menyombongkan diri. Aku hanya merasa ingin saja menuliskan sisi lain dari diriku  di IMMANUEL'S NOTES, khususnya tentang pinjam-meminjam (atau utang). 

Terakhir, sebagai penutup, well, aku bukan orang yang sembarangan berjanji. Haha. 😅





Comments